20
Alasya..
“Hari ini Alasya sekolah nggak ya?” tanya Agatha sambil melirik layar ponselnya.
“Gatau, WA aku juga nggak dibalas tuh sama dia,” sahut Nada.
“Sekolah kayaknya, masa cuti terus. Kelamaan juga cutinya,” timpal Safira dengan celotehannya.
“Ihh, aku tuh gemes banget sama dia. Gara-gara masalah gitu doang sampe ngaruh ke sekolah. Jadi sering bolos, nangis terus. Padahal ya, udah putusin aja yang kayak gitu mah.” Nada menghela napas panjang.
“Husss, jangan gitu, Da.” Agatha menegur. “Aku juga kesel kalo soal Rey, Alasya sampai gak sekolah, takut dia makin ketinggalan materi. Tapi masalah dia mungkin bukan cuma itu aja, jadi ya semoga aja hari ini masuk, biar bisa kejar materi dan gak banyak absen.”
Alasya..
Lucu, sebenarnya. Melihat tatapan tajam mereka begitu aku masuk kelas. Hanya Safira yang tampak cuek dengan dunianya sendiri. Agatha dan Nada jelas menunggu penjelasan. Dan yang membuat mereka makin terkejut adalah kenyataan kalau aku datang bersama Rey.
Aku sempat tersenyum kecil pada mereka, tapi balasannya hanya tatapan heran dan sedikit kecewa. Rey menoleh, seolah mengerti, lalu tersenyum padaku. Senyum yang rasanya ingin bilang, kayaknya mereka butuh penjelasan.
Aku duduk di dekat mereka, mencoba biasa saja. Tapi Nada langsung membuka suara dengan nada tinggi.
“Kamu tuh ya, jangan bawa-bawa masalah cinta ke pendidikan! Udah banyak yang ketinggalan, absen juga berantakan. Kamu nggak kasian sama orang tua yang udah bayarin sekolah?”
“Daa.. pelanin dikit suaranya,” tegur Agatha sambil melirik sekitar.
“Bu Nada ngamuk lagi,” celetuk Safira santai.
“Tapi bener, Sya,” Agatha ikut menambahkan, “lain kali jangan gitu lagi, ya. Entar ketinggalan jauh loh.”
Aku hanya tersenyum. Suara mereka keras, tapi aku tahu itu tanda mereka peduli. Dan entah kenapa, aku bahagia masih punya mereka yang peduli.
Jam istirahat tiba, akhirnya aku ceritakan semua. Tentang aku dan Rey, tanpa menceritakan hal lain yang aku sembunyikan.
“Udah ketebak sih. Tadi aja kalian dateng bareng,” Nada mendengus.
“Iya, aku juga udah curiga,” tambah Agatha.
“Awas aja kalo dia bikin kamu sakit hati lagi, nangis lagi. Greget aku liatnya,” Nada setengah bercanda, setengah serius.
Aku hanya tersenyum.
***
Jam pulang tiba.
Rey dan aku pulang bersama. Kali ini kami memutuskan mampir sebentar membeli es krim di dekat rumahku. Duduk berdampingan, kami membicarakan hal-hal remeh, sampai Rey tiba-tiba membuka topik serius.
“Tadi teman-teman kamu ngomong apa? Kayaknya mereka agak kesel?” tanyanya.
“Biasa.” jawabku dengan senyum.
Rey menunduk, wajahnya penuh penyesalan. “Maafin aku ya, Sya.”
Aku menatapnya sebentar lalu menggeleng pelan. “Udah, Rey.”
Dia menghela napas, lalu tiba-tiba berkata, “Ah iya, aku sebenernya mau bilang, kayaknya lulus sekolah nanti aku bakal pindah ke Yogya. Terus kuliah di sana.”
Aku langsung menoleh. “Hah? Kenapa nggak di Bandung aja?”
“Ayah sama Ibu udah sepakat pindah ke sana.”
“Oh…” Aku terdiam.
“Berarti nanti kita LDR dong?” tanyaku, setengah berusaha bercanda.
Dia balas tersenyum, tapi jawabannya justru menohok. “Emang setelah lulus, hubungan kita bakal masih sama?”
Aku terperangah. “Maksudnya?”
“Ya, apa kita nggak akan putus?”
Aku tercekat, mencoba mencari kata.
“Mungkin,” jawabku datar.
Aku menunduk. Ucapannya seperti spoiler yang tiba-tiba menyusup ke dalam pikiranku.
Dia buru-buru meralat. “Eh, jangan dipikirin, Sya. Aku cuma bercanda, aku cuma mau tahu kamu jawab apa dan keliatan tuh kamu takut kehilangannya. Hahhaha.”
Tapi, kita kan nggak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depan. Semua bisa berubah. Tapi apapun yang terjadi, semoga itu yang terbaik. Dan aku sih berharap kita gak akan berubah.” sambungnya lagi.
Aku memaksakan senyum, meski sebenarnya aku masih mencerna ucapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Be The Same
RomanceAku dan kau, kita adalah dua bintang di galaksi yang sama, namun berada pada orbit yang tak pernah berpotongan. Kita bersinar di langit yang sama, berbagi malam yang sama, tetapi tak pernah bisa saling menyentuh. Alasya dan Rey, dua jiwa yang terses...
