21
Kukira Sudah Berubah
Keya..
Pagi ini Rey terlihat berbeda. Biasanya, kalau suasana kelas masih sepi dan hanya ada kami berdua, dia selalu menghampiri kursiku untuk sekadar ngobrol, bercanda, atau mendengarkan playlist lagu favoritnya bareng-bareng. Tapi kali ini tidak.
Dia hanya duduk di bangku paling belakang, menunduk dengan sepasang earphone terpasang di telinganya. Jemarinya mengetuk pelan meja, seolah tenggelam dalam dunia yang tak bisa aku masuki.
Aku sempat ragu, tapi tetap berdiri. Saat aku melangkah hendak menghampirinya, tiba-tiba dia bangkit. Tanpa menoleh, dia keluar kelas dan berjalan menuju lapangan besar. Bola basket yang tersandar di rak pinggir lapangan segera ia raih, lalu ia mulai memantulkan bola itu, berusaha larut dalam ritme permainan sendiri.
Aku menatapnya dari balik kaca jendela kelas. Ada sesuatu yang terasa aneh. Ada jarak yang tiba-tiba ditarik di antara kami.
Dan saat itu juga, di ujung lorong, Alasya datang bersama teman-temannya. Wajahnya cerah, langkahnya ringan, meski aku tahu belakangan ini dia sempat menghilang dari kelas.
Aku sempat melirik ke lapangan. Rey berhenti memantulkan bola, menoleh sekilas ke arah Alasya, lalu buru-buru menyingkir. Seolah takut ketahuan menatap terlalu lama.
Aku menarik napas panjang. Aku tahu, ada sesuatu yang sedang terjadi. Tapi aku memilih diam, tak ingin merusak suasana hati Alasya pagi itu. Aku akan menanyakannya langsung pada Rey nanti, setelah sekolah usai.
***
Sore harinya, aku sudah di rumah. Rasa penasaranku semakin mengusik, hingga akhirnya kutekan nama Rey di layar ponsel.
Key: Heh, lo kenapa tadi kaya ngindarin gue?
Beberapa menit kemudian, notifikasi masuk.
Rey: Hahaha, gue lagi latihan jadi cowok idaman cewek gue.
Aku mengerutkan kening. "Apa maksudnya?"
Key: Hah?
Rey: Gue mau berubah, Key. Gue gak mau lihat Alasya sakit hati lagi gara-gara sikap gue yang gak bisa bedain mana teman mana pacar. Jadi sorry kalau gue agak beda ke lo waktu di sekolah. Sekarang gue cuma mau belajar buat ngarahin pandangan gue ke Alasya aja.
Jawaban itu membuat dadaku terasa aneh. Antara tersenyum karena dia serius sama Alasya, tapi juga ada perasaan, tidak rela.
Key: Berarti kalo gitu lo gak jadi diri lo sendiri.
Key: Untuk apa sih berubah-berubah segala? Menurut gue, harusnya Alasya bisa nerima lo apa adanya. Nerima sikap lo yang kayak gitu. Itu kan diri lo, Rey.
Key: Kalau emang dia percaya, dia gak perlu cemburu. Gak perlu nyuruh lo berubah.
Butuh beberapa detik sebelum balasannya masuk.
Rey: Bukan dia yang nyuruh. Tapi gue yang janji.
Aku terdiam. Jadi dia memang benar-benar berusaha, bukan karena dipaksa.
Key: Jadi sekarang kita mau slek aja?
Rey: Nggak gitu juga. Gue gak larang lo chat gue. Tapi gue minta maaf kalau di sekolah gue agak jaga batas.
Aku terkekeh kecil. Jemariku kembali mengetik.
Key: Hahha, gue berasa jadi selingkuhan dong kalo gitu.
Setelah pesan itu, percakapan kami kembali mengalir seperti biasa. Candaan, cerita receh, keluhan soal sekolah, bahkan hal-hal sepele yang mungkin nggak penting tapi selalu ada aja bahan buat dibicarain. Hampir setiap malam ponselku bergetar karena notifikasi dari Rey.
Dan tanpa sadar, ada rasa bersalah yang tumbuh dalam diriku. Alasya mungkin mulai merasa tenang karena mengira Rey sudah berubah, sudah menjaga jarak denganku. Padahal kenyataannya, Rey masih jadi tempat pulang saat semua orang tidur. Rey masih jadi telinga yang mendengar semua ceritaku.
Aku tahu, cepat atau lambat, kebenaran ini mungkin akan menciptakan jarak lagi di antara Rey dan Alasya. Dan anehnya, entah kenapa, bagian dari diriku tidak ingin menghentikan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Be The Same
RomansaAku dan kau, kita adalah dua bintang di galaksi yang sama, namun berada pada orbit yang tak pernah berpotongan. Kita bersinar di langit yang sama, berbagi malam yang sama, tetapi tak pernah bisa saling menyentuh. Alasya dan Rey, dua jiwa yang terses...
