22
Alasya..
Sebentar lagi masa SMA kami berakhir. Periode ujian akhir sudah di depan mata, dan hari-hari di sekolah terasa semakin singkat. Seragam putih abu-abu kami masih sama, hanya saja warnanya sudah memudar, rok yang makin pendek, kemeja yang sudah tak serapih dulu. Ada semacam tanda bahwa kami sudah akan benar-benar pergi.
Tiga tahun ini begitu banyak mengubahku. Dari pertama kali saat melihat Rey di lapangan basket, berkeringat, berisik, tapi entah kenapa terlihat menawan. Dari awal berkenalan dengan Agatha, Nada, Safira, sampai semua persahabatan dan drama remaja yang menyertainya. Ini semua menjadi sakti bahwa aku pernah jatuh cinta, patah hati, menangis, tertawa, dan tumbuh bersama mereka.
Dan di titik ini, aku sadar, bukan hanya aku yang berubah, semua berubah, suasana, para guru, teman-temanku, sahabatku, dan Rey pun berubah.
Awalnya, aku kira Rey adalah satu-satunya hal yang konstan di hidupku. Dia yang selalu ramai, yang tak pernah bisa duduk diam, yang selalu punya senyum untuk semua orang. Tapi ternyata aku salah. Dia bisa berubah atau setidaknya, berusaha. Demi aku.
Dia bilang ingin menjaga jarak dengan teman-teman perempuannya, terutama Keya. Dia bilang ingin belajar membedakan batas, supaya aku nggak sakit hati lagi. Padahal, aku sama sekali nggak pernah meminta itu. Aku nggak pernah berniat memotong sayap Rey hanya agar dia bisa jadi "punyaku." Aku tahu sejak awal siapa dia, bagaimana sikapnya. Dan aku jatuh cinta dengan sosok itu, bukan dengan versi yang dipaksakan demi membuatku tenang.
Dan mungkin itu sebabnya, ketika dia benar-benar melakukannya, aku justru merasa asing. Aku melihat Rey mengalihkan tatapannya saat ada yang bertanya, atau pura-pura sibuk supaya tak perlu terlalu dekat dengan siapapun. Lalu aku sadar, cepat atau lambat, dia akan kembali ke dirinya yang semula. Karena karakter itu tidak bisa diubah. Bukan dengan janji, bukan dengan paksaan.
Aku pun tahu, meski dia menjaga jarak di sekolah, dia masih berhubungan dengan Keya di luar. Chat, cerita, bahkan mungkin tawa yang dulu sering kudengar, kini berpindah layar. Dan aku tidak buta. Aku tahu itu semua. Tapi kali ini aku memilih untuk tidak peduli. Bukan berarti aku pasrah, tapi karena aku tahu, aku tidak bisa mengontrol segalanya. Ada hal-hal yang memang di luar kuasaku.
Kalau dia memilih tetap ada untukku, maka dia akan bertahan. Kalau tidak, ya.. berarti memang bukan untukku. Sesederhana itu.
Lagipula, masalah keluargaku pun sudah mulai reda. Luka lama dengan ayahku perlahan mereda setelah pembicaraan panjang yang melelahkan. Hubunganku dengan ibu dan Kak Asoka juga kembali hangat. Tidak ada lagi pertengkaran yang menambah beban pikiranku. Untuk pertama kalinya, aku bisa merasa sedikit ringan. Dan justru karena itu, aku tidak ingin menaruh seluruh tenagaku hanya untuk mengawasi Rey atau memikirkan hal yang seharusnya jadi pilihannya sendiri.
***
Bel masuk membuyarkan lamunanku. Bu Talita masuk dengan map kuning di tangan, membawa kabar soal acara akhir sekolah.
"Semua, mohon perhatiannya sebentar," ucap Bu Talita sambil menepuk-nepuk map kuning yang dibawanya. "Ibu mau menyampaikan beberapa hal terkait acara akhir sekolah."
"Asik, study tour ke Jogja nih!" celetuk Syahrul, disambut tawa seisi kelas.
Bu Talita tersenyum tipis. "Bukan, Syahrul. Jadi begini, kalian kan sebentar lagi selesai sekolah. Sebelum acara perpisahan, akan ada sesi pemotretan untuk buku tahunan. Pertanyaannya, apakah kalian ingin menentukan lokasi dan tema sendiri, atau mau ditentukan oleh guru-guru?"
"Kalau menurut aku sih mending kita tentuin sendiri aja, Bu," sahut Keya cepat, seperti biasa paling duluan angkat suara.
"Boleh," jawab Bu Talita. "Silakan kalian diskusikan. Tentukan temanya mau apa, lokasinya di mana, dan cara berangkatnya bagaimana. Apakah mau sewa transportasi umum dan berangkat bareng dari sekolah, atau masing-masing."
"Kapan hasil diskusinya harus disetor, Bu?" tanya Rey dari bangkunya.
"Secepatnya ya, kalau bisa Jumat ini. Karena acara fotonya sudah dijadwalkan Rabu depan."
Setelah Bu Talita keluar, suasana kelas langsung ramai dengan obrolan. Semua mulai mengajukan ide, walau pada akhirnya, seperti biasa, suara Keya yang paling dominan. Hampir semua pendapatnya langsung disetujui tanpa banyak bantahan.
Lokasi, tema, dan kendaraan pun ditentukan dengan cepat. Untuk transportasi, kami sepakat berangkat berpasangan. Aku otomatis bersama Rey, sementara Agatha akhirnya kupasangkan dengan Fadil. Aku tahu, meskipun dia selalu mengelak, ada sesuatu yang berbeda dari dirinya setiap kali nama Fadil disebut. Gestur tubuhnya terlalu mudah kubaca, bahkan ketika ia mencoba menyembunyikan perasaannya.
Awalnya Agatha sempat menolak keras, tapi pada akhirnya dia menyerah juga. Dan aku bisa melihat sedikit rona merah di wajahnya ketika namanya disandingkan dengan Fadil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Be The Same
Roman d'amourAku dan kau, kita adalah dua bintang di galaksi yang sama, namun berada pada orbit yang tak pernah berpotongan. Kita bersinar di langit yang sama, berbagi malam yang sama, tetapi tak pernah bisa saling menyentuh. Alasya dan Rey, dua jiwa yang terses...
