Bagian 6

24 7 1
                                        

06

Hari-hari Orientasi

Alasya

Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh kami, para anggota OSIS. Khususnya aku. Hari ketika kami bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi senior, menjadi wajah yang terlihat tegas di depan adik kelas, meskipun di balik itu semua, kami juga berdebar, sama seperti mereka. Hari ketika kami belajar memakai topeng, menyembunyikan wajah asli di balik peran yang harus kami jalani.

Suasana pagi itu membawa ingatanku kembali ke masa lalu, masa saat aku pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini. Masih terasa debar di dada, karena seseorang yang entah mengapa membuat langkahku waktu itu terasa lebih berat, sekaligus lebih berarti.

Kini, semuanya terasa membingungkan.
Sebentar lagi aku akan meninggalkan tempat ini. Rasanya menyedihkan, sekaligus membanggakan. Aku sudah sampai sejauh ini, melalui banyak hal yang tak semua orang tahu. Dan hari ini, aku menjadi salah satu pembina dalam kegiatan orientasi siswa baru.

Ruangan dibagi menjadi tiga untuk kelompok biru, kuning, dan hijau. Aku ditugaskan menjadi pembina di kelompok biru.

Perlahan, aku membuka pintu kelas. Nafasku sedikit tertahan, dadaku berdebar. Ini pertama kalinya aku menjalani peran sebagai pembina ospek, peran yang selama ini hanya kutonton dari kejauhan. Tapi kali ini, akulah yang berdiri di depan.

"Hai, assalamualaikum wr. wb," sapaku dengan suara yang kutahan agar tetap terdengar tenang.

"Waalaikumussalam..." jawab mereka serempak.

"Apa kabar semuanya?"

"Baik, kak," jawab mereka lagi, nyaris bersamaan.

"Semangatnya mana nih?"

"Ini dongggg..."

Aku tersenyum. Lalu memperkenalkan diri.

"Baik, kalau begitu, kita kenalan dulu ya. Perkenalkan, nama saya Alasya Putri. Saya adalah ketua pelaksana sekaligus pembina di kelompok biru. Jabatan saya di OSIS sebagai sekretaris. Salam kenal semuanya."

Satu per satu anggota OSIS lainnya mulai memperkenalkan diri. Di kelompok biru, aku ditemani oleh Rey, Amel, dan Ogi. Sementara anggota lain bertugas di ruangan berbeda.

Amel dan Ogi, dua nama yang sudah tak asing bagi siapa pun di sekolah. Mereka adalah couple goals versi kami. Serasi, perhatian, dan selalu tampak bahagia. Banyak yang diam-diam iri pada kedekatan mereka. Termasuk aku.

Momen-momen mereka berbincang di tengah sesi orientasi seperti potongan adegan romansa yang tak bisa kuhindari. Sementara aku hanya duduk diam, menjadi penonton. Penonton yang tak punya peran, hanya perasaan.

Hingga sebuah pesan masuk ke ponselku dan membuyarkan lamunanku.

Belum sempat kubalas lagi, sosoknya sudah muncul di ambang pintu, melangkah perlahan menuju arahku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Belum sempat kubalas lagi, sosoknya sudah muncul di ambang pintu, melangkah perlahan menuju arahku. Dia tersenyum, lalu duduk di sebelahku, di bangku paling belakang, tempatku bersembunyi dari segala hiruk-pikuk rasa.

Aku menatapnya sekilas. Ada kelegaan. Akhirnya aku tidak lagi sendiri menyaksikan kemesraan orang lain.
Tapi juga ada debar, yang entah kenapa justru lebih kuat dari biasanya.

***

Hari-hari orientasi berjalan dengan sangat menyenangkan. Ada banyak hal baru yang kami pelajari, banyak cerita yang kami bagi, dan banyak rasa yang diam-diam tumbuh, meski tak semua berani disuarakan.

Sebagai ketua pelaksana, hatiku dipenuhi rasa bangga. Kegiatan ini berjalan lancar dari hari pertama hingga terakhir. Para panitia bekerja keras tanpa banyak keluhan, para peserta pun terlihat antusias. Setiap tawa, lelah, dan peluh menjadi kenangan yang manis. Kenangan yang mungkin tak akan terulang, tapi akan selalu kami kenang.

Dan untukku, di antara semua yang kutulis dalam laporan pertanggungjawaban nanti, ada satu hal yang tak pernah kutulis tapi akan selalu kusimpan, perasaan yang diam-diam kutitipkan dalam setiap hari saat orientasi.

Never Be The SameTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang