Bagian 27

11 6 0
                                        

27

Genggaman Terakhir

Alasya..

Setelah Fadil dan Agatha resmi menjalin hubungan, mereka meminta aku dan Rey untuk menyimpannya rapat-rapat. Mereka bilang, biarkan orang lain tahu dengan sendirinya, saat waktunya tiba. Bahkan kepada Safira dan Nada, dua sahabat terdekat kami, kami sepakat tidak akan membocorkannya dulu.

Hari-hari pun berjalan. Aku melihat Agatha dan Fadil semakin dekat, semakin bahagia. Ada rasa lega karena sahabatku akhirnya menemukan seseorang yang bisa membuatnya tersenyum. Tapi di sisi lain, aku merasa semakin asing dengan diriku sendiri.

Karena sementara hubungan mereka tumbuh, hubungan aku dan Rey justru semakin kabur.

Rey sering berubah-ubah. Pagi hari dia bisa begitu manis, menanyakan kabarku, menggodaku dengan caranya yang sederhana. Tapi siangnya, seolah aku tak pernah ada, dia mendiamkanku. Malamnya, saat aku menunggu kabar, yang datang hanya alasan yang sama “Lagi ada masalah keluarga.” Dan itu terus berulang.

Yang paling menyakitkan, dia selalu terlihat lebih dekat dengan Keya.

Pernah sekali dia menghilang selama seminggu penuh. Media sosialnya aktif, bahkan aku tahu dia masih bercanda dengan teman-temannya. Tapi untuk sekadar mengirim satu pesan singkat padaku, itu tidak pernah ia lakukan. Aku tetap menunggu. Dengan bodohnya, aku selalu menunggu. Dan ketika akhirnya dia kembali, alasannya tetap sama, masalah keluarga. Entah keadaan sungguhan atau hanya sekedar alasan untuk membuatku diam.

Aku cerita ke Safira, dan dia bilang itu tanda Rey ingin pergi. Nada menegurku, katanya aku bodoh jika terus bertahan pada laki-laki seperti itu. Sementara Agatha memilih diam, tak ingin ikut campur. Aku tahu mereka peduli, tapi saat itu kata-kata mereka justru membuatku merasa sendirian. Seolah tak ada satu pun yang berdiri di sisiku.

***

Dua pekan berlalu. Hubungan aku dan Rey tampak baik-baik saja di permukaan. Kami berdamai setelah pertengkaran terakhir, saling meminta maaf, dan aku kembali meyakinkan diriku sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Untuk pertama kalinya, Rey mengajakku jalan ketempat yang agak jauh di akhir pekan. Rasanya seperti harapan kecil yang akhirnya datang. Setiap malam aku sibuk mencari tempat yang tepat. Aku ingin momen pertama ini sempurna. Setelah banyak menimbang, aku memilih tempat yang bum lama ini baru dibuka, tempat itu tampak sederhana tapi hangat, ada taman luas, jalur sepeda, spot foto menarik, makanan-makanan yang beraneka ragam, rasanya itu adalah pilihan yang tepat. Aku segera menunjukkan pada Rey, tanpa komentar apa-apa Rey hanya menjawab,

“Oke, kita kesana."

Hari itu datang.

Pukul sembilan tepat, dia sudah di depan rumah. Rey dengan kemeja kotak serba hitam, tersenyum kecil saat melihatku. Aku ikut tersenyum, walau entah kenapa senyuman itu terasa rapuh.

Perjalanan menuju taman dipenuhi dengan keheningan, tapi bukan keheningan yang asing. Suara langkah kami seirama, angin malam ikut menyapu pelan, seolah sengaja memberi ruang hanya untuk kami berdua. Aku melirik ke arahnya, dan tanpa sadar senyumku terbit. Ada banyak hal yang ingin kukatakan, tapi rasanya tak perlu, karena diam bersamanya pun sudah terasa begitu penuh.

Sampai di sana, aku langsung mengajaknya naik sepeda.

“Rey, ayo sepedaan!”

“Sekarang? Baru aja sampai.”

“Iya, sekarang dong. Kan emang itu tujuan aku.”

Dia terkekeh pelan, lalu mengangguk. “Oke, ayo.”

Antrian sepeda ternyata panjang banget. Aku melirik ke arah stand minuman di dekat situ.

“Rey, aku beli minuman dulu, ya,” bisikku.

Kupikir dia bakal mengangguk dan tetap di antrian. Tapi justru dia malah ikut melangkah di sampingku sambil senyum jail.

“Terus ngapain tadi ngantri dulu?”

Aku melotot kecil. “Lah, kamu kan bisa jagain tempat.”

“Emang aku satpam antrian?” balasnya sambil ngakak.

Aku nggak tahan ikut ketawa, apalagi melihat ekspresi wajahnya yang sok serius tapi gagal. Karena batal sepedaan, akhirnya kami duduk di bangku taman, makan camilan sambil melihat orang-orang lewat, berjalan-jalan di sekitar taman. Di dekat air mancur, Rey tiba-tiba mencipratkan sedikit air ke arahku. Aku pura-pura kesal, tapi ujungnya malah tertawa sambil balas ciprat. Beberapa kali kami berhenti untuk foto bareng, pose konyol, duck face, sampai gaya ala drama Korea yang bikin orang sekitar menoleh.

Lalu kami naik bandros, keliling taman dengan penuh pepohonan yang indah tanpa ku tahu namanya. Angin menerpa wajah kami, dan aku mendengar tawa Rey yang lepas, membuat dadaku hangat. Aku menyandarkan kepala sebentar di bahunya, pura-pura kelelahan, dan dia hanya tersenyum tanpa protes.

Sesekali kami saling melontarkan komentar konyol tentang orang yang bersepeda terlalu cepat atau pasangan yang nyaris jatuh karena buru-buru. Tawa kami meledak, lalu tiba-tiba ada jeda singkat.

Aku menoleh, dia juga menoleh. Dan di sela tawa yang baru saja reda, kami bertatapan, lalu sama-sama tertawa. Rasanya heningnya bukan lagi canggung, tapi hangat, kayak dunia cuma milik berdua.

Karena sudah cukup puas menikmati sekitar, kami akhirnya duduk di bangku taman. Melihat langit sore yang mulai menjingga, seakan menyemburatkan cahaya lembut yang jatuh di wajah kami. Di hadapan kami, air mancur masih menari, anak-anak masih berlarian, orang-orang amsih sibuk dengan kegiatannya, tapi semua terdengar agak jauh, seolah dunia sengaja memperlambat dirinya agar kami bisa merasakan detik ini lebih lama.

Aku menatap langit, lalu tanpa sadar bibirku bergerak, melemparkan pertanyaan yang sedari tadi menekan dadaku.
“Rey…” suaraku lirih, hampir tenggelam oleh semilir angin. “Kalau pada akhirnya kita putus, bakal gimana, ya?”

Ia menoleh. Tatapannya jatuh tepat ke mataku. Wajahnya begitu tenang, terlalu tenang, seakan ia sudah menyiapkan jawaban itu sejak lama.

“Yang pasti,” katanya pelan, “aku nggak akan sama Keya. Karena itu yang paling kamu takutkan, kan?”

Dan dalam sekejap, dunia seakan berhenti berputar.

“Aku minta maaf ya, untuk semua hal yang pernah aku lakuin. Aku tahu sering bikin kamu sakit hati dan overthinking. Aku cuma mau bilang, kita gak tahu kedepannya gimana dan perlu kita ingat bahwa perasaan manusia bisa berubah, Sya. Mungkin suatu hari perasaan kamu ke aku juga berubah. Dan itu nggak bisa dikendalikan. Aku gak bisa janjian kamu sesuatu yang gak pasti hanya untuk membuat kamu tenang. Tapi satu hal yang pasti, aku nggak akan pernah sama Keya. Aku sama dia cuma teman. Pikiran kita beda jauh. Jadi, tolong percaya soal itu.”

Kata-katanya membuat dadaku sesak. Rasanya seperti mendengar kalimat perpisahan, bukan janji untuk bertahan.

“Kenapa diam?” tanyanya.

Aku tersenyum kecil, menutup rasa yang bergejolak. “Udahlah, jangan dibahas lagi. Kita bahas yang lain aja.”

Kami pun bicara soal hal-hal ringan, seolah obrolan barusan tak pernah terjadi.

Sampai akhirnya langit gelap datang, dan kami bersiap pulang. Perjalanan pulang lagi-lagi dipenuhi diam. Seolah kami berdua sedang mencerna sesuatu yang menggangu pikiran masing-masing. Aku menatap ramainya jalanan, merenung. Rey adalah orang yang realistis, sementara aku, aku hidup dengan harapan. Mungkin itu sebabnya aku selalu kembali padanya, meski berkali-kali dibuat kecewa.

Setibanya di depan rumah, Rey menatapku lama. Ada kehangatan di matanya. Entah kenapa aku merasa itu adalah tatapan terakhir. Aku ingin sekali memeluknya, sekadar menahan waktu sebentar. Tapi langkahku justru membawa masuk ke rumah.

Aku bisa merasakan matanya masih mengikuti punggungku.

Epilog- masa sekarang

Andai saat itu aku tahu, benar-benar tahu, bahwa itu adalah terakhir kalinya kami bisa saling menatap seperti itu, aku pasti akan berlari kembali padanya. Tanpa ragu. Tanpa menunda.

Never Be The SameTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang