Bagian 16

16 7 2
                                        

16
Perubahan

I know, feelings change easily.
But I'm not ready if it's this fast.
- Agnes Syakir

Alasya..

Sudah hampir dua bulan sejak aku dan Rey resmi bersama. Awalnya, semuanya terasa indah sesederhana pergi bersama ke sekolah, kadang juga saling menunggu di depan gerbang sekolah, berbagi cerita receh di chat sebelum tidur, atau hanya sekadar saling menatap di kelas dan tertawa kecil. Aku pikir, beginilah rasanya memiliki seseorang yang disebut pacar.

Tapi entah sejak kapan, rasanya pelan-pelan berubah. Mungkin saat aku mulai lebih banyak diam karena keadaan di rumah sedang kacau. Atau mungkin sejak Keya kembali dekat dan sering duduk di samping Rey saat kelas. Aku tidak tahu pasti. Yang jelas, manisnya awal itu perlahan tertutup oleh sesuatu yang lebih rumit, rasa takut, mungkin juga cemburu, dan  pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah berani aku ucapkan.

Akhir-akhir pun jadinya, suasana hatiku sering dengan mudah berubah-ubah. Di rumah, semuanya sedang tidak baik-baik saja. Aku ingin bicara, atau sekedar didengar oleh Rey. Tapi entah kenapa, lidahku kelu. Bukan karena aku tak percaya pada Rey, tapi justru karena aku terlalu hati-hati. Ada yang ingin sekali aku sampaikan padanya, bahwa aku sedang terluka oleh keadaan rumah, juga oleh sikapnya yang terlalu ramah, terlalu terbuka, terlalu berlebih bahkan pada Keya. Tapi aku takut. Takut jika aku bicara, dia akan merasa harus berubah. Padahal aku tahu, itu memang dirinya. Itu adalah karakternya, sisi dari Rey yang aku sukai sejak awal. Dan aku, aku tidak ingin jadi orang yang merusak itu.

Tapi diam juga menyakitkan. Tapi juga aku tahu bahwa hidup itu harus jelas, begitu juga dengan perasaan. Sebab manusia itu kompleks. Aku tidak akan pernah bisa menuntut seseorang untuk tahu apa mauku, bagaimana perasaanku, dan begitu juga sebaliknya. Karena itu sebabnya mulut diciptakan, untuk memperjelas sesuatu yang emang harus disuarakan. Tapi ketika akhirnya aku mencoba memberanikan diri membuka pesan dan mulai ngetik dengan ragu, mencoba sedikit saja menyentuh hal yang kupendam, dia malah bilang:


“Sorry ya baru aku bales, tadi Keya minta aku diem di room chatnya karena dia lagi cerita tentang masalahnya.”

Seketika aku merasa seolah-olah, waktuku bicara selalu kalah cepat dengan orang lain yang datang lebih dulu. Seolah-olah aku hanya boleh ada saat semuanya sedang longgar. Aku diam. Aku pahami. Tapi bukan berarti baik-baik saja.

Aku tidak ingin membuat dia memilih. Tidak ingin membatasi Rey yang hangat untuk siapa pun. Tapi justru karena itulah aku merasa semakin kecil, karena kehangatan itu kini menyentuh orang lain, dan aku tidak tahu, apakah aku masih punya ruang di dalamnya.

Di sekolah, dia duduk di belakang dengan Keya, tertawa, bernyanyi, memainkan gitar seperti hanya ada mereka berdua di kelas itu. Aku hanya diam pura-pura tak peduli, aku saja sudah merasa terlalu lelah dengan semua yang sedang aku hadapi di rumah, jika sekarang harus mendebatkan hal-hal yang menurut mereka tak berarti apa-apa, rasanya hanya akan semakin membuatku terpuruk.

Aku kadang ingin sekali menjadi seperti Keya, menjadi sahabat Rey. Tapi dulu pun ketika aku dan Rey hanya teman biasa, aku tak pernah bercerita tentang masalah apa pun apalagi jika berkaitan dengan keluarga. Tapi Keya, ria bisa bicara lepas dan bisa bercerita tanpa beban. Tapi aku bukan dia. Aku terlalu sadar, terlalu takut bahwa Rey pun punya beban yang sama yang tak ia bagi, jadi setiap akan bercerita pada siapa pun terkhusus Rey aku akan berpikir dua kali tentang bagaimana kondisi orang tersebut, karena kita tak pernah tahu kehidupan seseorang, beda hal nya pada Agatha aku bebas bercerita apapun padanya, sampai aku sendiri sudah terlalu bosan untuk membagi cerita-cerita memilukan itu.


Aku tahu, perasaan bisa berubah.
Tapi aku belum siap, jika yang berubah adalah caraku melihat Rey, bukan lagi sebagai seseorang yang menenangkan, tapi seseorang yang.. membuat aku harus pura-pura kuat, hanya agar dia bisa tetap menjadi dirinya.

Never Be The SameTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang