05
“Alasya!!”
Aku sudah tahu siapa yang meneriakkan namaku dengan begitu noraknya. Tak lama, sepasang tangan kurus melingkar dari belakang, hampir mencekikku.
“Keyyy…”
Aku mencoba melepaskan diri dari serangan mendadak itu, setengah kesal, setengah tertawa. Sudah biasa, dia memang selalu begitu, berteriak seperti tidak tahu malu, lalu memelukku erat-erat tanpa aba-aba. Tak ada angin, tak ada hujan.
Dia adalah Keya, ketua OSIS kami. Dulu, saat pemilihan, aku, dia, dan seorang laki-laki bernama Arif Firnanto terpilih sebagai calon ketua. Saat pemungutan suara, Arif unggul jauh dan hampir pasti menjadi ketua, tapi entah kenapa, tepat satu hari sebelum pengumuman, dia mendadak mengundurkan diri. Karena alasan itu, Keya yang akhirnya menggantikan posisinya, dan aku terpilih menjadi sekretaris.
Sejujurnya, aku dan Keya tidak terlalu dekat sebelumnya. Tapi sejak tergabung dalam OSIS, mau tak mau kami jadi sering berinteraksi. Kami saling mengandalkan satu sama lain. Meskipun, ada kalanya aku kesal juga dengan gaya kepemimpinannya, yang kadang kurang tegas, terlalu santai, dan lebih sering memilih jalan pikirannya sendiri daripada mendengar suara mayoritas. Tapi mungkin itu karena ini pengalaman pertamanya memimpin organisasi. Dan dibanding harus mengeluh atau menimbulkan canggung di antara kami, aku lebih memilih diam dan menyelesaikan tugasku sendiri. Sebagai bentuk pengertian.
Di balik semua itu, Keya tetap sosok yang menyenangkan. Dia mudah akrab dengan siapa saja, punya selera humor yang kadang garing, tapi bisa mencairkan suasana. Kisah cintanya pun selalu kandas di tengah jalan, kombinasi yang ironis, aneh, sekaligus menyedihkan. Keya itu bertubuh jangkung, di antara teman-teman sekelas, dialah yang paling tinggi, membuat kami serasa kurcaci di matanya.
Tiba-tiba, dia melepas pelukannya dan bertanya soal rencana orientasi siswa baru. Aku menjelaskan ideku, dia hanya mengangguk-angguk, lalu belok menuju ruang guru, ke tempat Bu Talita, pembina OSIS kami.
Di sana kami berdiskusi, bertukar pikiran, hingga akhirnya menemukan formula yang sepertinya akan disetujui mayoritas anggota.
“Ibu cuma pesan, jangan terlalu kejam, ya. Ini orientasi, pengenalan sekolah, bukan penyiksaan. Kalian harus tegas, tapi jangan berlebihan.” Begitu kata Bu Talita, dengan nada khas seorang ibu yang tegas tapi penuh perhatian.
Kami sepakat untuk menyampaikan rencana ini ke seluruh anggota OSIS besok, karena hari ini jadwal pelajaran cukup padat dan tidak memungkinkan mengumpulkan semua orang.
Keesokan harinya, karena satu dan lain hal, aku tidak bisa masuk sekolah. Jadi aku hanya bisa membantu dari rumah lewat WhatsApp. Mulai dari menyusun daftar barang yang harus dibawa calon peserta didik, hingga mengatur susunan panitia.
Waktu itu, jumlah anggota OSIS laki-laki memang sangat terbatas, dan kami kekurangan tenaga untuk beberapa divisi. Tanpa pikir panjang, aku mengusulkan beberapa nama. Sama seperti saat acara perpisahan kakak kelas beberapa bulan lalu, aku memilih dia lagi. Dan bersama namanya, aku juga menyarankan tiga siswa lainnya: Fadil, Arif, dan Satya, dua dari IPA, dua dari IPS. Untungnya, keempatnya bersedia membantu.
Alasan utamaku sederhana, mereka bisa diandalkan, bertanggung jawab, dan cepat tanggap. Tapi.. ya, ada satu alasan lagi yang mungkin tidak semua orang tahu atau pura-pura tak tahu, ya, agar aku bisa lebih dekat dengannya. Rey.
Terdengar konyol, aku tahu. Sampai aku diam-diam meminta bantuan salah satu guru untuk membujuknya agar bersedia terlibat. Entah ada yang menyadari atau tidak, aku tidak menyesali perbuatanku. Karena menurutku:
1. Yang kulakukan tidak salah.
2. Mereka memang layak jadi panitia.
3. Bahkan guru-guru pun mendukung pilihanku.
4. Kegiatan ini jadi lebih lancar.
5. Dan, aku jadi lebih semangat menjalankan tugas. Karena perasaan pribadi yang entah kenapa ikut membaik. Hahaha.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Be The Same
RomansaAku dan kau, kita adalah dua bintang di galaksi yang sama, namun berada pada orbit yang tak pernah berpotongan. Kita bersinar di langit yang sama, berbagi malam yang sama, tetapi tak pernah bisa saling menyentuh. Alasya dan Rey, dua jiwa yang terses...
