26
Kedua Sahabatku
Nada..
Suasana sore itu masih ramai dengan canda-tawa. Tiba-tiba aku nyeletuk,
"Fadil, Ragil, bukannya mau klarifikasi hubungan kalian? Jadi gimana nih?"
Fadil langsung menepuk dahinya. "Aduh iya ini teh. Fitnah makin menyebar. Mana banyak yang nge-chat nanyain aku beneran belok atau enggak."
Aku terkekeh. "Hah? Emang ada lagi yang nanya selain aku?"
"Ya ada, tuh, Agatha."
Spontan aku menoleh ke Agatha. Wajahnya kaku tapi senyum tipisnya tetap terjaga.
Fadil mencoba menjelaskan, tapi bukannya berhenti, teman-teman lain justru makin menggoda. Ragil hanya diam, membiarkan Fadil frustrasi sendiri. Aku tertawa sampai perutku sakit melihat ekspresinya. Tak lama, Fadil putar otak, berinisiatif menelpon Rey.
"Bro, bantuin gua dong! Ini orang-orang pada ngegas banget."
Tapi bukannya menolong, Rey malah terbahak-bahak di ujung telepon, ikut menertawakan. Suasana makin heboh sampai akhirnya terhenti ketika orangtua Agatha pulang. Hujan di luar juga sudah reda. Kami pun memutuskan bubar, pulang setelah terlalu lama bercokol di rumah Agatha.
***
Alasya..
Pukul 20.47.
Ponselku bergetar.
Nada: Sya, kayaknya Agatha suka juga sama Fadil.
Alasya: Aku rasa juga gitu.
Nada: Pantesan aja waktu itu dia tiba-tiba badmood pas aku cerita soal Fadil. Tapi kenapa ya dia selalu bilang enggak?
Alasya: Idk. Nanti aku coba tanyain langsung yaa.
***
Keesokan harinya, setelah pulang sekolah, aku mampir ke rumah Agatha seperti biasa. Kami duduk di kamarnya, mengobrol ringan sampai akhirnya aku memberanikan diri.
"Ghat, sebenarnya perasaan kamu ke Fadil gimana? Aku sebetulnya udah bisa nebak, tapi aku pengen dengar langsung dari kamu. Aku harap kamu bisa jujur. Selama ini aku udah cerita banyak hal ke kamu. Tapi kamu nggak pernah benar-benar terbuka ke aku. Apa di sini cuma aku aja yang anggap kamu sahabat?"
Agatha menunduk. Suaranya lirih, "Bukan gitu, Sya. Aku dulu punya sahabat dekat juga, tapi dia kecewain aku. Sejak itu aku belum bisa percaya siapa pun sepenuhnya."
Aku menghela napas. "It's okay. Tapi kamu tahu kan kalau Nada suka sama Fadil? Kalau kamu terus menyangkal perasaan kamu, artinya kamu siap ngedukung Nada. Siap mengorbankan diri kamu sendiri, pura-pura kuat, pura-pura nggak ada apa-apa. Jujur aja, aku nggak bisa dukung Nada sementara aku tahu perasaan sahabat aku yang satunya lagi."
Agatha terdiam lama. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya berkata, "Iya, aku suka sama Fadil. Aku nggak tahu kapan mulai ngerasainnya. Tapi setiap lihat Nada deket sama dia, aku ngerasa aneh. Aku tahu aku salah karena suka orang yang sama kayak sahabatku sendiri. Tapi," suaranya patah, air matanya jatuh.
Aku langsung memeluknya erat. Aku tahu rasanya menahan perasaan yang nggak pernah bisa benar-benar kita ucapkan.
"Thanks ya, Ghat, udah mau jujur. Sekarang aku tahu harus gimana. Aku nggak akan berpihak ke siapa pun. Aku harap ini nggak akan merusak persahabatan kita."
Agatha mengangguk di pelukanku.
***
Satu minggu kemudian.
Senin pagi, jam 06.15, Nada datang lebih awal dari biasanya. Kelas masih sepi, hanya ada aku dan dia. Tiba-tiba dia duduk di sampingku.
"Sya, aku udah nggak suka Fadil lagi," katanya tiba-tiba.
Aku menoleh cepat. "Serius? Bukan karena hal lain kan kamu bilang gini?"
"Serius. Kayaknya selama ini aku nggak benar-benar suka sama dia. Kayak cuma perasaan selewat aja. Sekarang aku rasa, biasa aja."
"Secepat itu?" aku mengernyit.
Nada tersenyum samar. "Dan aku rasa aku benar kalau Agatha suka sama Fadil. Dari sikapnya aja kelihatan. Tapi aku nyerah bukan karena itu kok. Emang karena aku sadar perasaan aku nggak sedalam itu."
Aku terdiam. Susah bagiku menebak isi hati sahabatku yang satu ini. Tapi melihat tatapan matanya, aku percaya itu tulus. Yang bisa kulakukan hanya mendukung keputusan mereka.
Siang harinya, Fadil diam-diam menghampiriku saat Agatha dan Safira keluar kelas.
"Sya, gue butuh bantuan. Tolong tahan Agatha nanti pas pulang, ya. Gue mau ngasih sesuatu."
Aku sempat bingung, kenapa Fadil tiba-tiba begini. Akhirnya aku mengangguk. "Oke."
Jam pulang tiba.
"Kita ngapain sih nunggu di sini? Kalau ada yang mau dia kasih harusnya tadi di kelas," keluh Agatha.
"Aku juga nggak tahu. Dia cuma minta aku tahan kamu sebentar."
Tak lama, Fadil muncul. Awalnya mereka hanya berdiri saling menatap dalam diam. Agatha jutek, dingin. Padahal aslinya dia deg-degan itu. Aku dan Rey sampai harus memberi kode pada Fadil.
Akhirnya, dengan ragu, Fadil mengeluarkan sebuah kotak cokelat yang sudah dihias rapi dari dalam tasnya. Ia menyodorkannya pada Agatha.
Agatha menggeleng. "Hah, apa ini? Tiba-tiba banget?"
"Buat kamu." jawabnya seraya buru-buru pergi.
Setelah Fadil dan Rey pergi, Agatha langsung menoleh padaku. "Kenapa sih tiba-tiba Fadil kayak gini?"
Aku hanya mengangkat bahu. Dia menatap cokelat di tangannya, lalu tersenyum kecil, senyum yang jarang kulihat darinya.
Dan dari situlah kisah mereka dimulai, hri-hari berlalu, aku dan Rey terus membantu Fadil untuk mendekati Agatha, dengan berbagai upaya. Ketika melakukan semua itu aku tidak pernah sekali pun merasa bahwa itu adalah bentuk ikut campur, aku harap mereka pun berpikir demikian. Aku melalukan hal ini sebagai bentuk kasih sayangku pada seorang teman, terlebih jika itu bisa membuat mereka bahagia, terutama Agatha.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Be The Same
RomanceAku dan kau, kita adalah dua bintang di galaksi yang sama, namun berada pada orbit yang tak pernah berpotongan. Kita bersinar di langit yang sama, berbagi malam yang sama, tetapi tak pernah bisa saling menyentuh. Alasya dan Rey, dua jiwa yang terses...
