Bagian 13

17 7 0
                                        

13

Kamu dan Cokelat

Life is a box of chocolates, you never know what you're gonna get.

- Fonnest Gump

Rey..

Kata orang, cokelat adalah simbol cinta. Dimulai dari sejarah ditemukannya cokelat pada zaman peradaban suku Maya dan Aztec, cokelat lalu dijadikan komoditas berharga. Awalnya, minuman yang dibuat dari cokelat hanya dapat dikonsumsi oleh keluarga kerajaan, hingga akhirnya seiring berjalannya waktu, cokelat mulai bisa dinikmati oleh rakyat jelata. Dan, sekarang ini, cokelat menjadi tanda cinta, seperti pada hari Valentine dan White Day.

***

Besok adalah hari ulang tahun Alasya. Gue baru tahu hari ini dan itu pun bukan karena dia ngasih tahu, tapi dari obrolan grup. Kami memang gak pernah terlalu dalam bahas hal-hal personal kayak ulang tahun, makanan kesukaan, atau warna favorit. Hubungan kami.. ya, ngalir aja. Tapi sekarang, gue sadar ada banyak hal tentang dia yang gue belum tahu. Dan itu bikin gue merasa, "Sebenernya gue ini pacarnya, atau orang asing yang kebetulan disukainya?"

Gue mulai cari-cari hadiah lewat toko online, tapi makin lama scroll makin bingung. Barang-barang lucu, gemas, atau elegan, semuanya terlihat sama bagi gue. Apa dia suka tas? Atau lilin aroma terapi? Atau mungkin boneka lucu? Gue nggak punya referensi apa-apa.

Akhirnya gue menyerah, dan nanya ke kakak gue.

"Beliin aja hal yang dia suka, kayak misalnya tas, card K-pop, buku, parfum, dll." jawabnya.

"Ya itu aku nggak tahu dia suka apa."

"HAH? KALIAN BENERAN PACARAN?"

"Ya benerlah."

"Kok bisa nggak tahu kesukaan pacar sendiri, aneh banget."

"Namanya juga hubungan masih anget, udah lah biar aku pilih sendiri aja. Percuma nanya ke kakak."

"Idih dasar bucin lo!"

Gue diem, bengong.

Bener juga sih. Kenapa gue gak tahu hal-hal kecil tentang dia? Mungkin karena selama ini gue terlalu nyaman sama caranya dia ngerti gue duluan, sampai gue lupa buat mengenal dia lebih dalam. Tapi bukan berarti gue gak suka dia. Justru karena gue suka, gue mulai takut, takut gak cukup baik, gak cukup perhatian, gak cukup.. cocok.

Tapi sudahlah. Gue gak mau ngeraguin perasaan sendiri.

Akhirnya setelah dua jam muter-muter di aplikasi belanja, gue nemu beberapa barang yang kayaknya bakal cocok. Tapi karena semua butuh waktu pengiriman, gue mutusin buat kasih sesuatu duluan. Setidaknya, di hari ulang tahunnya, dia gak cuma dapet ucapan basa basi.

Gue pergi ke minimarket. Di sana, mata gue langsung tertuju pada satu rak cokelat.

Seketika gue senyum sendiri. Bukan karena gue pecinta cokelat, tapi karena inget satu hal:

Cokelat itu manis, dan gue pengen dia selalu ingat momen ini sebagai sesuatu yang manis juga.

Gue pilih satu kotak cokelat paling cantik yang ada. Warnanya soft pink, dengan pita emas kecil di ujung. Lucu, nggak terlalu berlebihan, tapi cukup buat bilang "Aku mikirin kamu."

Gue pulang sambil mikirin gimana cara ngasihnya. Mau ngucapin "Happy birthday, sayang," tapi kok kaku ya. Akhirnya, gue tulis satu catatan kecil.

(Untuk kamu, yang di mataku sudah manis,
Tapi semoga cokelat ini bisa nambah manisnya harimu. Selamat ulang tahun, Alasya - Rey)

Besoknya, gue dateng lebih pagi. Nungguin di tempat biasa dia lewat sebelum ke kelas. Jantung gue deg-degan, lebih parah dari waktu gue minta dia jadi pacar gue dulu. Dan begitu dia datang, matanya langsung membulat liat gue berdiri sambil bawa kotak kecil itu.

"Apa itu?" tanyanya, senyum malu-malu.

"Buat kamu. Selamat ulang tahun," kata gue, sambil nahan grogi.

Dia ambil pelan-pelan "waa lucu banget,"
katanya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.

Never Be The SameTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang