11
Hari Bahagia
Reyy..
Gue udah duduk di bangku taman, nungguin dia datang. Malam ini dingin, tapi tangan gue lebih dingin lagi karena berkeringat. Di tas kecil gue, ada sesuatu yang udah gue siapin tadi sore. Bukan barang mahal, tapi gue tahu dia akan suka lihat ini. Komik favoritnya.
Nggak lama, Alasya muncul. Langkahnya pelan, tapi bikin jantung gue makin nggak karuan. Dia duduk di samping gue, diam sebentar, lalu ngelirik.
“Kenapa diem aja?” tanyanya, setengah canggung.
Gue tarik napas panjang, lalu menoleh ke arahnya. Dari dalam tas, gue keluarin komik itu dengan sampul yang dia pernah bilang jadi favoritnya juga saat bercerita satu tahun lalu. Gue kasih ke dia pelan, tangan gue agak gemetar.
“Apa ini?” Dia ngeliat gue dengan dahi berkerut, tapi senyumnya nggak bisa disembunyiin.
“Alasya,” suara gue nyangkut di tenggorokan, tapi gue paksain jelas. “Kamu tahu nggak? Aku juga udah lama punya perasaan yang sama kayak kamu. Aku nggak tahu kapan tepatnya, tapi aku sadar jelas akhir-akhir ini. Aku suka cara kamu cerita, cara kamu mendengarkan, cara kamu ketawa, cara kamu memperlakukan setiap orang dengan hangat, bahkan cara kamu berusaha keras untuk selalu terlihat kuat padahal aku tahu kamu juga rapuh. Dan buku ini sedikitnya jadi bukti bahwa aku bisa ingat cerita-cerita yang kamu sampaikan. Tadi siang kamu bilang cukup didengar aja udah bikin kamu lega. Tapi buat aku, nggak cukup kalau cuma gitu. Aku pengen jadi orang yang selalu bisa dengerin kamu setiap hari, orang pertama yang kamu cari waktu lagi jatuh, dan orang terakhir yang kamu inget sebelum tidur. Sekali lagi, aku minta maaf karena hari ini kamu harus berinisiatif ngomong duluan. Tapi aku juga berterima kasih, karena kalau kamu nggak lakuin itu, mungkin aku nggak akan pernah berani bilang ini sampai kapan pun.”
Alasya terdiam. Matanya berkaca-kaca, tapi bibirnya ketahan senyum kecil yang gemetar. Gue bergerak lebih dekat ke sisinya.
“Jadi, Alasya, kita pacaran ya?”
Dia menutup mulutnya, suara ketawanya pecah. “Ternyata seorang Rey bisa kayak gini, jawabanku pasti udah ketebak kan? Jadi kayaknya aku gak perlu jawab pertanyaan terakhir itu, karena aku pasti dengan mudah jawab ya.” jawabnya bersama senyum tulus itu.
Seketika gue juga ikut tersenyum, bahagia. Gue langsung ulurin tangan gue, dia menyambutnya dengan erat dan hangat.
Malam itu, rasanya semua abu-abu runtuh.
Nggak ada lagi tanda tanya. Nggak ada lagi tebak-tebakan. Yang ada cuma gue dan dia, sama-sama tahu bahwa kita sudah saling memilih.
***
Agatha..
Hari ini, aku dan beberapa teman sekelas mengadakan kumpul kecil-kecilan di rumah Samuel. Tidak semua hadir, sayangnya. Termasuk Alasya. Katanya sedang tidak ingin keluar rumah. Kami semua tahu, memang begitu Alasya, kadang dia lebih nyaman sendiri daripada bersama keramaian. Dan kami sudah terbiasa dengan itu.
Tapi tiba-tiba, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Di tengah obrolan santai kami dan musik yang diputar pelan dari speaker ruang tengah, notif dari grup kami muncul.
Group Tumbuh Kembang
Alasya: "Gais, aku sama Rey jadian."
Nada: "HAH? SERIUS?"
Agatha: "Demi apa?"
Alasya: (1 foto dikirim)
Nada: "Anjritt"
Nada: "Parahh"
Nada: "Ngeduluin kami"
Agatha: "Sabtu, 30 Juli 2022"
Agatha: "Alasya dan Rey jadian"
Nada: "Huhu akhirnya, yang awalnya nangis sedih,, ovt mulu, sekarang nangis bahagia nihh."
Agatha: "Selamat ya, setelah penantian lama, akhirnya jadian juga."
Alasya: "Ahhaha finally kalian gak akan denger aku galau lagi."
Safira: "Buset, pantesan gak ikut kumpul ketemuan nih."
Alasya: "Ahahaha."
Nada yang duduk di sampingku langsung teriak dan membanting bantal ke udara, menyebarkan berita itu dengan cerianya, membuat kami semua kaget. Teriakannya menarik perhatian Keya, yang sedang bercanda di dapur bersama Samuel. Ia cepat-cepat menghampiri kami, penasaran dengan apa yang terjadi.
Wajahnya sempat berbinar saat tahu itu kabar dari Alasya, tapi entah kenapa, aku melihat sesuatu di rautnya. Hanya sekilas, sepersekian detik, sebuah ekspresi yang sulit dijelaskan. Matanya sempat membeku, bibirnya seperti menahan kata, lalu tiba-tiba ia tersenyum. Ceria. Riuh. Bahkan ikut mengucupkan selamat pada Alasya.
Tapi rasa ganjil itu tidak hilang dari pikiranku.
Apa itu tadi?
Aku mencoba menepisnya. Mungkin aku salah lihat. Lagipula, Keya, Rey, dan Alasya selama ini dekat. Mereka bertiga berteman sejak dulu. Bahkan, aku tahu Keya sempat membantu Alasya mendekat ke Rey. Dan Keya juga, setahuku, punya rasa ke Arif.
Aku tak ingin memikirkan itu lebih jauh.
Tapi aku juga perempuan. Kadang kita bisa merasakan sesuatu, meski tidak ada satu kata pun yang diucapkan.
Dan ya, kabar ini mengejutkan. Bahkan untukku yang cukup tahu lika-liku perasaan Alasya. Aku tahu dia menyukai Rey, bahkan mungkin terlalu lama menyimpannya sendiri. Maka saat dia akhirnya berani berkata jujur dan mengambil langkah itu, aku tidak bisa tidak bahagia.
Hari bahagia, untuk Rey dan Alasya.
Namun setiap kebahagiaan, selalu melahirkan bayangan, sebuah ketidakterdugaan yang bisa melukai seseorang yang diam-diam berharap lebih.
Hari ini, mungkin menjadi hari buruk bagi Maulana, kakak dari Samuel. Aku cukup tahu kalau Maul menyukai Alasya. Mungkin dari semester lalu, sejak dia confess.
Saat kabar itu menyebar, aku sempat meliriknya. Maul tidak bicara apa-apa. Tapi wajahnya tidak bisa berbohong. Ada sesuatu yang gugur di sana. Sebuah harapan kecil yang diam-diam ia pelihara, hari ini resmi hancur.
Dan aku hanya bisa diam. Menyaksikan semuanya dari sudut ruang. Tidak ingin menyimpulkan apa pun. Hanya mengingat, bahwa setiap kabar bahagia, punya cerita lain yang tak terucap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Be The Same
RomanceAku dan kau, kita adalah dua bintang di galaksi yang sama, namun berada pada orbit yang tak pernah berpotongan. Kita bersinar di langit yang sama, berbagi malam yang sama, tetapi tak pernah bisa saling menyentuh. Alasya dan Rey, dua jiwa yang terses...
