18
Ketika Aku Memilih Pergi
Alasya..
Entah sejak kapan aku mulai merasa semua ini terlalu berat untuk kupikul sendirian. Aku masih ingat, dulu aku percaya kalau punya Rey di sampingku, dunia tidak akan terasa menakutkan. Tapi belakangan ini, aku justru merasa semakin jauh darinya.
Aku punya ribuan kata yang ingin kuucapkan, segudang cerita yang ingin kubagi. Tentang keluargaku yang tak pernah benar-benar utuh, tentang beban yang menyesakkan di rumah, tentang rasa lelah yang sering membuatku terjaga sampai larut malam. Aku ingin sekali bercerita, aku ingin Rey tahu, aku ingin dia menggenggam tanganku dan bilang kalau semuanya akan baik-baik saja.
Tapi saat aku akhirnya memberanikan diri, saat aku sudah siap untuk membuka luka yang kubendung rapat-rapat, dia malah sibuk mendengarkan cerita Keya. Aku diam. Dan dari diam itu aku belajar satu hal, mungkin aku bukan prioritasnya. Mungkin aku memang harus terbiasa menelan semua sakit ini sendirian.
Belakangan, Rey juga kerap menghilang tanpa kabar. Di sekolah, dia seolah tak lagi mengenaliku. Tatapannya selalu berpaling saat mataku berusaha menemukan jawaban di matanya. Tak ada lagi sapa, tak ada lagi sekadar, "Kamu sudah sarapan?" atau "Kamu baik-baik aja?" yang dulu begitu mudah keluar dari bibirnya.
Yang lebih menyakitkan, beberapa hari kemudian dia kembali menjadi Rey yang aku kenal, ramah, hangat, selalu punya energi untuk semua orang. Semua orang, kecuali aku. Dia bisa tertawa lepas bersama teman-temannya, bisa menyapa siapa saja dengan senyum yang tulus, tapi ketika aku ada di hadapannya, seolah aku hanyalah bayangan yang tak patut diperhitungkan.
Sejak itu, aku berhenti mencoba. Aku mulai berpikir, barangkali lebih baik aku menanggung semuanya sendiri daripada terus berharap pada seseorang yang kini bahkan kabarnya pun makin jarang sampai padaku. Rey berubah. Dulu dia selalu ada, selalu mencari celah untuk sekadar bertanya apakah aku sudah makan atau bagaimana hariku. Sekarang? Dia lebih sering terlihat bersama Keya di sekolah, tertawa seolah aku hanyalah bayangan yang bisa dilupakan begitu saja.
Dan aku? Aku mulai mempertanyakan diriku sendiri. Apa aku terlalu lemah? Apa aku salah karena tidak berusaha lebih keras untuk mempertahankan kita? Atau justru aku salah karena sejak awal menaruh semua harapan pada seseorang yang bahkan tak menyadari betapa keras aku berjuang melawan duniaku sendiri?
Aku lelah. Bukan hanya karena Rey, tapi juga karena semua hal yang menekan dari segala arah. Keluarga, sekolah, beban yang menumpuk tanpa jeda. Rasanya aku berdiri di persimpangan jalan, dan ke mana pun aku melangkah selalu ada luka yang menunggu.
Maka, aku memutuskan. Mungkin satu-satunya jalan adalah mengakhiri semuanya. Bukan karena aku tidak mencintainya lagi, justru karena aku terlalu mencintainya sampai-sampai aku tak mau menyeretnya masuk lebih jauh ke dalam kusutnya hidupku. Aku tahu, Rey akan kecewa. Tapi yang lebih aku tahu, aku sudah tidak sanggup lagi berpura-pura kuat di hadapannya.
Aku menatap layar ponselku cukup lama sebelum akhirnya jariku bergerak. Jantungku berdetak cepat, telapak tanganku basah oleh keringat. Aku tahu, begitu pesan itu terkirim, semuanya nggak akan pernah sama lagi. Tapi kalau aku terus diam, aku yang bakal hancur pelan-pelan.
"Rey, aku rasa kita cukup sampai di sini."
Pesan itu terkirim. Satu kalimat singkat yang seakan mengiris dadaku sendiri.
Nggak sampai satu menit, notifikasi langsung muncul. Rey membalas cepat sekali, seolah dia juga menunggu sesuatu dariku.
"Kenapa, Sa? Kok tiba-tiba gini? Ada apa? Aku salah apa? Please jangan gini tiba-tiba."
Tanganku gemetar membaca balasannya. Mataku panas. Aku menggigit bibir, berusaha menahan perasaan yang campur aduk. Belum sempat aku memutuskan untuk balas atau nggak, notifikasi lain masuk.
"Ini karena Keya, ya? Karena aku deket sama dia? Sa, please jawab. Jangan diem gini."
Aku menutup mata rapat-rapat. Rasanya seperti ada pisau yang menusuk lebih dalam. Jadi, dia sadar. Dia tahu kalau kedekatannya dengan Keya bisa melukaiku, tapi tetap saja dia melakukannya. Kalau dia sadar, kenapa dia nggak berhenti dari awal? Kenapa dia gak pernah mencoba memberi penjelasan untuk setidaknya membuatku tenang? Kenapa harus aku yang jadi korban perasaannya sendiri?
Aku menaruh ponsel di atas meja, nggak sanggup baca lagi. Aku nggak balas apa pun. Hanya diam. Diam, sambil membiarkan pikiranku semakin berisik dengan pertanyaan yang nggak pernah terjawab.
Beberapa menit kemudian, panggilan masuk. Rey menelepon berkali-kali. Aku biarkan saja. Suaranya terus muncul lewat nada dering, seolah memaksa masuk ke dalam kepalaku. Aku semakin panik, semakin sesak.
Tiga puluh menit kemudian, suara motornya berhenti di depan rumah. Aku tahu itu dia. Jantungku berdebar kacau, tapi tubuhku terpaku di balik pintu kamar. Ponselku kembali bergetar, notifikasi masuk.
"Aku di depan rumahmu, Sa. Tolong keluar. Aku butuh penjelasan. Kita omongin baik-baik."
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Aku ingin sekali menemuinya, tapi aku tahu kalau aku keluar sekarang, aku pasti goyah. Jadi aku balas dengan tangan gemetar, pelan-pelan mengetik.
"Nggak sekarang, Rey. Aku nggak bisa ketemu sekarang. Besok aja, di sekolah."
Aku bisa membayangkan wajahnya di luar sana, penuh panik, bingung, dan mungkin marah. Tapi aku tetap memilih menutup gorden, mematikan lampu, dan memeluk diriku sendiri.
Karena untuk pertama kalinya, aku belajar kalau bertahan juga berarti harus berani melepaskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Be The Same
RomanceAku dan kau, kita adalah dua bintang di galaksi yang sama, namun berada pada orbit yang tak pernah berpotongan. Kita bersinar di langit yang sama, berbagi malam yang sama, tetapi tak pernah bisa saling menyentuh. Alasya dan Rey, dua jiwa yang terses...
