24
Alasya..
Hari ini langit agak mendung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.
Setelah kejadian-kejadian konyol tadi pagi yang sukses bikin perutku sakit karena kebanyakan tertawa, akhirnya aku dan teman-teman sampai juga di lokasi foto buku tahunan.
Sesampainya di sana, semua orang langsung sibuk dengan kelompoknya masing-masing. Aku bersama teman dekatku, sementara Rey asik bercanda dengan teman-temannya di sisi lain. Dari kejauhan, aku menatapnya dengan kemeja putih yang sudah sedikit kusam, rambut agak berantakan, tapi entah kenapa tetap saja terlihat menarik. Rey berdiri santai, siap untuk dipanggil ke sesi pemotretan.
Saat sesi foto kelas dimulai, kebetulan Rey berdiri tepat di sampingku. Semua teman-teman langsung menggoda, bahkan wali kelas pun hanya bisa tersenyum geli. Mereka sudah tahu soal hubungan kami. Aku yang biasanya cuek, kali ini sengaja menggenggam tangan Rey di depan semua orang, untuk membalas godaan mereka. Serentak mereka pun bersorak heboh.
Dan di situlah, dalam jepretan kamera tersimpan sebuah momen, aku yang dengan percaya diri menggandeng tangannya, berdiri di samping orang yang kucintai. Momen sederhana, tapi begitu berharga untukku.
Setelah sesi kelas selesai, aku sibuk berfoto dengan teman-teman perempuan. Kami tertawa, berpose konyol, saling menggandeng, saling memeluk. Namun tiba-tiba, Keya menarik tanganku.
“Sya, ayo foto sama Rey. Biar aku yang fotoin!” katanya dengan semangat.
Aku bahkan belum sempat menolak. Dalam sekejap, dia sudah menarikku ke sebuah spot foto, lalu lari lagi untuk menjemput Rey. Aku berdiri canggung, menunggu, sambil mencoba menenangkan detak jantungku yang berdebar tidak karuan.
Dan akhirnya, Rey berjalan ke arahku. Senyumnya muncul begitu saja saat matanya menangkapku. Ada sesuatu di wajahnya, entah lelah atau rindu, aku tidak bisa benar-benar menebaknya.
Keya bersorak, “Ayo siap-siap! Yang mesra yaaa!”
Aku refleks menutup mulut menahan tawa. Malu sekali rasanya. Sementara Rey dengan santai memasang senyum cerahnya, membuatku terlihat makin kikuk. Aku hanya bisa tersenyum tipis, gaya yang sama sekali tidak kreatif, tapi seolah Rey tidak peduli.
Tiba-tiba, dia mengeluarkan sebuah bunga kecil, entah dari mana didapatkannya dan menyodorkannya padaku sambil menatap tepat ke mataku. Senyumnya hangat, seakan ingin menenangkan kecanggungan yang kurasakan.
Aku ikut tersenyum, kali ini lebih lepas, dan jepretan kamera pun menangkap momen itu. Momen sederhana, tapi bagiku indah. Foto itu bahkan kuunggah ke media sosialku dengan caption singkat, seolah menyembunyikan ribuan perasaan yang sebenarnya.
Namun saat menatap foto itu, bayangan aneh muncul di benakku. Seolah sebuah potongan masa depan, dimana aku menangis saat menelpon Rey, dengan suara hati yang berbisik lirih, “hanya enam bulan.” Aku tidak tahu maksudnya apa, tapi sesak itu terasa nyata. Aku buru-buru mengalihkan pikiran, menolak terjebak dalam bayangan buruk itu.
Sesi foto akhirnya selesai, dan kami semua bergegas pulang. Namun di tengah perjalanan, hujan deras turun tiba-tiba. Aku, Rey, Agatha, dan Fadil akhirnya berteduh bersama di sebuah warung pinggir jalan. Jalanan macet, air meluap jadi banjir kecil.
Aku menoleh ke arah Rey. Ia tersenyum, tapi matanya kosong, seakan pikirannya melayang jauh, ke tempat yang tidak bisa kugapai. Aku ingin sekali bertanya apa yang ada di kepalanya, tapi aku selalu ragu. Kadang aku merasa di antara kami masih ada jarak, masih ada hal-hal yang sengaja kami simpan rapat-rapat.
Dan entah kenapa, aku memilih diam.
Rey menoleh padaku, mendapati aku sedang menatapnya. “Kenapa?” tanyanya pelan.
Aku menggeleng, tersenyum tipis. “Nggak apa-apa.”
Lalu dia meraih tanganku diam-diam, jemarinya menghangatkanku di tengah udara dingin hujan sore itu. Tanpa kata-kata, tapi cukup membuat dadaku berdesir.
Aku kembali menatap hujan deras di luar sana. Dan dalam hatiku, aku berdoa agar hujan tidak berhenti dengan cepat, supaya aku bisa terus merasakan hangatnya genggaman itu lebih lama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Be The Same
RomanceAku dan kau, kita adalah dua bintang di galaksi yang sama, namun berada pada orbit yang tak pernah berpotongan. Kita bersinar di langit yang sama, berbagi malam yang sama, tetapi tak pernah bisa saling menyentuh. Alasya dan Rey, dua jiwa yang terses...
