Toxic marriage 6

3.3K 130 17
                                        

Typo tandain!

"Sayang, pasangin dasi."

Deraya menoleh pada Neva yang berjalan terburu. Ia tersenyum manis mendekat lalu mengambil dasi ditangan Neva dan memasangkannya. Neva terdiam menunduk mencium harum shampo dari rambut Deraya.

"Rambut kamu wangi," bisiknya membuat Deraya sedikit mendorong bahu Neva. "Kamu ini. Nanti gak terpasang rapih Mas Neva."

Neva tak peduli. Ia sesekali mencium pucuk kepala Deraya guna mengganggu aktivitas sang istri.

"Mas Nevaaa!!" pekik Deraya kesal. Neva tertawa kecil menanggapinya. "Iya maaf..."

Deraya diam. Usai melakukan tugasnya Deraya ditarik kedalam pelukan. Neva mengelus rambut sesekali mengecup kening Deraya.

"Jangan kerja yang berat-berat. Ingat! Jahitannya masih baru."

Deraya mengangguk pelan. Neva melepas pelukan meraih tas kerja. Keduanya beriringan hingga sampai di depan pintu. "Aku pergi," pamit Neva yang ditanggapi senyum Deraya. "Hati-hati, Mas."

Mata Deraya terus memperhatikan Neva sampai masuk kedalam mobil. Ia melambaikan tangan kala suara klakson berbunyi tanda pergi. Saat mobil hilang dari pandangan, barulah wajah cerah Deraya sedikit berubah. Ia menurunkan tangan melangkah masuk ke dalam tentunya bersama wajah tenang.

Menuju kamar, pandangan Deraya tertuju pada laci nakas paling bawah. Ia berjongkok memutar kunci dan membukanya. Itu adalah brangkas.

Tersenyum hampa, Deraya memutar kunci brangkas. Jangan tanya bagaimana bisa ia tahu, karena tentu saja ia pernah mengintip Neva memutar benda ini. Bunyi 'ctak' terdengar menandakan ia berhasil memasukkan angka. Tanpa membuang waktu lagi Deraya membuka pintu brangkas dan menemukan sejumlah uang, perhiasan, kartu ATM, dan beberapa kertas(?) tersimpan dalam amplop cokelat.

Deraya duduk dilantai membuka satu persatu amplop cokelat. Manik terangnya berkilat tajam mendapati kertas berisikan sesuatu yang penting.

"Mas Neva..." bisiknya tak menyangka. Kilatan dimata semakin menusuk.

***


Neva meneliti isi dokumen sesekali memperbaiki letak kacamata. Membaca satu persatu dan menandatangani jika itu menguntungkan menjadi rutinitas wajib bagi nya. Tidak menggantungkan semua pekerjaan ke para bawahan bukan lah dirinya. Terdidik lebih disiplin dari sang adik membuatnya tahu betapa ia tidak bisa berharap lebih, terlebih pada orang lain.

"Selamat siang, Pak. Resepsionis mengatakan di depan ada ibu Deraya. Apa diperbolehkan masuk?"

Raut serius Neva berubah. Pancaran gembira terlukis dimata meski ia agak terkejut. Ia pun mengangguk serius lalu membereskan sebagian file ke sisi lain meja. Tak lupa ia melepas kacamata kemudian memijit alis. Maniknya terus menatap pintu menunggu kedatangan Deraya.

"Mas Neva?"

Kepala sedikit miring nampak di pintu masuk. Mata bulat Deraya melirik kiri kanan takut ada orang lain disana. Neva tak bisa tak merasa gemas oleh tingkah Deraya. Ia mengangkat tangan mengisyaratkan Deraya mendekat yang dipatuhi sang istri.

"Kok tak bilang mau kesini?"

"Gak ada rencana sih, cuma aku bosan juga dirumah terus. Mas Neva sudah makan?"

Neva menarik tubuh Deraya hingga terduduk dipangkuan Neva. Pria itu menelusupkan kepala di perpotongan leher Deraya menggeleng pelan.

Short story 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang