22 - Strategi

152 19 0
                                    

"Deklarasi perang?! Tunggu, bukankah itu gila?! Kita baru saja bertemu dan sekarang harus bersiap untuk melawan Black Reaper?!"

Taehyun berseru terkejut. Ia dan adik-adiknya masih termasuk awam dalam dunia ini. Bagaimana mungkin mereka bisa membantu Black Malvado memenangkan perang besar melawan Black Reaper?

"Tapi bukankah kami masih terlalu baru dengan semua ini? Bagaimana mungkin kami yang hanya bocah ingusan ini bisa menang melawan veteran?" ujar Sullyoon sarkas.

"Kali ini aku setuju dengan kakak-kakakku. Dilihat dari sisi manapun, kami tak akan bisa banyak membantu," sahut Jungwon.

Semua orang kembali terdiam. Apa yang dikatakan anak-anak Minho memang ada benarnya. Sehebat apapun mereka, tak ada yang bisa mengalahkan sebuah pengalaman. Mereka masih terlalu dini untuk terlibat dalam perang besar yang mempertaruhkan nyawa.

"Tidak,"

Minho mengambil alih pembicaraan. Ia menatap anak-anaknya satu persatu.

"Aku akan mengatakannya saja pada kalian. Aku tidak akan memimpin perang ini. Aku ingin menyerahkan semuanya pada generasi kalian. Kalian yang akan berada di garis terdepan. Kami hanya akan membantu dan mendukung. Perang ini adalah penentu masa depan kalian. Jadi kalian sendirilah yang berhak memilihnya," jelas Minho.

Jungwon dan Sullyoon jelas terkejut. Sedangkan Taehyun memijat pelipisnya lelah. Sedikit banyak ia sudah bisa menebak hal ini. Sejak ayahnya mengatakan bahwa dirinya benar-benar diharapkan menjadi penerus Black Malvado, Taehyun sudah menduga akan ada banyak hal yang harus ia lakukan saat ini juga.

"Lalu ayah ingin kami memilih sendiri siapa yang pantas untuk memimpin pasukan besar ini?" tebak Taehyun.

"Tepat sekali,"

Taehyun kembali menghela nafas. Sungguh, ia tak mengerti mengapa ayahnya mengambil langkah yang sangat beresiko seperti ini. Jika ayahnya masih bisa memimpin, mengapa harus mempertaruhkan segalanya disini?

"Apakah ayah yakin dengan keputusan ini? Itu berarti ayah harus mempertaruhkan segalanya disini," tanya Taehyun memastikan.

"Tentu saja. Ini taruhan terbesar yang harus kita lakukan. Jika berhasil, maka kita dapat menguasai dunia bawah dengan mudah. Bukankah itu keuntungan yang sangat bagus? Namun jika kita gagal, maka semuanya akan berakhir," ujar Minho.

Taehyun semakin gugup mendengar ucapan sang ayah. Ia yakin ayahnya sudah gila sekarang. Presentase kemenangan mereka tidak besar, dan ayahnya masih tetap mengambil keputusan seperti ini?!

"Tunggu sebentar, ayah! Bukankah ayah terlalu menekan Kak Taehyun?" sela Sullyoon.

"Ayah tidak hanya menekannya. Ayah juga menekan kalian semua. Tapi mengapa kalian merasa seolah ayah hanya menekan Taehyun?" balas Minho.

Mereka semua terdiam. Memang benar, Minho tak mengatakan bahwa beban ini sepenuhnya tertuju pada Taehyun. Tapi sepertinya semua orang sudah percaya, bahwa hanya Taehyun yang mampu melakukannya.

"Kau lihat, Taehyun? Mereka semua secara tidak langsung menunjukmu sebagai pemimpin. Apakah kau akan tetap menghindar dari keputusan ayah?" Minho menyeringai tipis.

Taehyun semakin pusing mendengarnya.

"Biarkan aku berpikir sebentar,"

♣️

"Taehyun?"

Boemgyu membuka perlahan pintu ruangan dimana Taehyun berada. Ia mendengar sekilas tentang apa yang dikatakan Minho kepada Taehyun. Ia sedikit khawatir karena setelah itu Taehyun belum keluar ruangan sama sekali.

Remi : RevengeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang