[Sudah terbit]
Bagi Ezra, melukis adalah napas. Tetapi karena masa lalu Ratu-mamanya mulai merenggut napasnya itu. Di tengah asa yang mulai sirna, Ezra dipertemukan oleh seorang gadis dengan biola di pelukannya.
Kisah mereka akan abadi di sebuah ka...
Welcome to the lapak Pastel! Ini adalah karya pertama yang Pastel buat. Dan pastinya masih banyak kekurangan di dalamnya. So, mohon maklumi, yh. Bowlehh kok, kalian bantu koreksi. Itu akan sangat membantu!
Have a nice day, guys! Hehehe
Selamat menyelam ke dalam dunia imajinasi Pastel!
_________________ ---------------------
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Angin berembus dengan kencang, dinginnya menusuk tulang, dan tak ada tempat untuk pulang. Dia Ezra. Lelaki yang dipaksa untuk menjadi sempurna. Mamanya yang tak pernah mendukung hobinya—melukis—membuat Ezra semakin terasa sesak. Ia hanya ingin bebas. Ia hanya ingin mamanya—Ratu mendukung apa yang anaknya cita-citakan layaknya para Ibu di luaran sana.
Mendapatkan nilai sempurna adalah suatu keharusan. Jika tidak sempurna, maka tidak ada kasih sayang. Ratu selalu protektif dengan nilai. Bahkan, nilai 80 pun tidak dapat menyenangi Ratu.
Kepingan memori bak buliran air mata yang terasa sesak itu terus berputar di kepala Ezra. Rasa sakitnya, kekangannya bak rantai anjing dengan air liurnya terus memenuhi isi kepala. Berisik.
"Padahal sudah Mama buang semuanya! Kamu mau mengikuti jejak lelaki itu, hah? Anak dan Bapak sama-sama brengsek!"
"Anak sialan kamu!"
"Tidak ada lagi melukis! Tidak ada lagi cat! Dan tidak ada lagi kuas! Semua yang berhubungan dengan melukis, Mama bakar!"
"Sudah Mama bilang berapa kali kalau Mama nggak suka kamu melukis! Melukis nggak bakal bikin kamu sukses, Ezra!"
Plak!
"Itu adalah hukuman, karena kamu mendapatkan nilai jelek dan bolos les!"
Ingatan yang menyakitkan. Ezra sudah bertahan atas semua yang terjadi pada kehidupannya, tetapi kini ia sudah mencapai batasannya. Sudah banyak rasa sakit yang ia dapatkan. Toh, jika ia mati pun dunia akan tetap berjalan seperti biasanya, bukan?
Selangkah demi selangkah Ezra arungi. Netranya menatap kosong ke depan. Malam yang begitu dingin disertai angin yang membuat rambut Ezra tak beraturan. Penampilannya sudah kacau, sama seperti kehidupannya. Pandangan Ezra menengadah, mendapati langit yang seakan mulai dekat dan bisa digapai, dari pijakan kakinya pada besi rooftop, lelaki itu dapat melihat pemandangan palsu di depannya.
Langit abu itu sepertinya akan menangis bersama Ezra. Tubuhnya seolah melayang di udara, dapat dipastikan bila ia terjun tubuh kurus itu akan meluncur ke bawah dan hancur sama seperti kanvas yang biasa Ratu rusaki.
"Ezra sayang sama Mama ...."
Tubuhnya sudah kehilangan keseimbangan, dan pandangannya mulai mengabur karena air matanya. Ezra tersenyum seraya menutup matanya sayu.
_________________ --------------
Masih awal, broh, wkwkwk. Calm down.
Jika ada yang ingin promosi karya ini, silakan. Itu sangat membantu Pastel banget( ◜‿◝ )♡