[Sudah terbit]
Bagi Ezra, melukis adalah napas. Tetapi karena masa lalu Ratu-mamanya mulai merenggut napasnya itu. Di tengah asa yang mulai sirna, Ezra dipertemukan oleh seorang gadis dengan biola di pelukannya.
Kisah mereka akan abadi di sebuah ka...
All I see is what I should be Happier, prettier, jelaousy, jelaousy All I see is what I should be I'm losin' it, all I get's jealousy, jealousy
Jealousy Jealousy-Olivia Rodrigo
• • •
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Fanny tengah mengikat tali sepatunya. Ketika setelah mengikat, ia mengembuskan napasnya pelan. Ia sedih melihat sepatunya yang sudah mulai bolong. Apalagi jika mengingat uang SPP yang kian menunggak. Apa ia harus bekerja paruh waktu?
"Kak, ini uang sakunya," ucap adiknya-Tia sambil memberikan selembaran uang berwarna ungu.
Fanny tak langsung menerima. Ia menatap sepatu Tia yang bersih mengilap. Ya, sepertinya itu sepatu baru. Lalu Fanny menatap menatap sepatunya yang hampir bolong itu. Membandingkan sepatu miliknya dengan sepatu adiknya.
Tia yang merasa sepatunya ditatap, kemudian berucap, "Ini baru dibelikan Ibu di pasar. Bagus nggak, Kak?" tanyanya seraya tersenyum lebar.
Fanny tau jika adiknya itu hanya anak kecil yang menduduki bangku sekolah dasar. Tapi ia benar-benar iri padanya. Semua keinginannya pasti terpenuhi. Tidak sepertinya yang apa-apa harus menabung dan bersabar.
Fanny mengambil kasar uang sepuluh ribu itu. Lalu ibunya datang menghampiri untuk mencium kening Tia.
"Bu, sepatu Fanny udah mau bolong, tapi kenapa malah Tia yang dibelikan sepatu? Sepatu Tia 'kan, masih bagus," cetus Fanny.
"Jangan kayak anak kecil, deh, Fan. Kamu itu sudah dewasa. Tia masih dalam batas wajar. Lagipula sepatumu belum terlalu bolong, 'kan? Pakai aja dulu yang ada," ujar ibu melukai hati Fanny.
"Dari pada Ibu buang-buang duit cuma buat kesenangan Tia, mending duitnya untuk bayar hutang aja!" tekan Fanny kemudian langsung berlari melengos menatap ibunya nyalang. Matanya sudah berkaca-kaca.
"Fanny!" seru ibu geram.
Di setiap jalan Fanny menangis. Ia memang gadis yang lemah. Dan ia sangat benci itu. Fanny menendang batu di setiap jalanan, sembari menundukkan kepalanya. Ia tidak mungkin berangkat sekolah dalam keadaan seperti ini bukan? Menyedihkan.
Tin!
Suara klakson mengejutkan Fanny. Sebuah motor kawasaki menghampiri dengan remaja lelaki yang mengendarainya.
Dia Farel.
Farel melihat kondisi Fanny yang terlihat tidak baik-baik saja. Farel tahu, pasti ada masalah di keluarganya. Ya, Farel tau sedikit tentang masalah keluarga Fanny.
"Ayo, naik!" ajak Farel.
Tanpa sepatah kata pun, Fanny langsung menempati jok belakang yang kosong itu. Dengan segera, Farel menancap gas motornya melaju membelah jalanan di kota Bogor.