[Sudah terbit]
Bagi Ezra, melukis adalah napas. Tetapi karena masa lalu Ratu-mamanya mulai merenggut napasnya itu. Di tengah asa yang mulai sirna, Ezra dipertemukan oleh seorang gadis dengan biola di pelukannya.
Kisah mereka akan abadi di sebuah ka...
When will i got the love That is so pure? Gotta have to always make sure That i'm not just somebody's pleasure
Somebody's pleasure- Aziz Hendra
• • •
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Meta memasuki kelasnya dengan tergesa-gesa. Satu kata yang sedang berputar di pikirannya. Gila! Tadi hampir saja. Meta kemudian langsung duduk ke kursinya. Pikirannya terus melayang ke kejadian tadi. Tubuhnya bergetar akan teringat sesuatu.
"Nggak apa-apa, Meta. Nggak apa-apa," ucapnya pelan, lalu mengembuskan napasnya perlahan. Dan barulah ia merasa tenang.
Tapi tunggu. Meta seperti tak asing pada lukisan yang dilukis Ezra. Meta tampak berpikir sejenak. Lukisan itu seperti ... ah, Meta ingat sekarang Dengan cepat, Meta membuka ponselnya dan mencarinya lewat google. Lalu akhirnya Meta menemukan jawabannya.
Kaori. Karakter anime terkenal dari anime Shigatsu wa Kimi no Uso. Perempuan yang pandai bermain biola dan memiliki penyakit, yang akhirnya merenggut nyawanya. Sepertinya, lukisan Ezra terinspirasi dari anime ini.
"Nggak nyangka ternyata dia wibu," gumam Meta terkikik geli.
Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak Meta dari belakang. "Met! Lo abis dari mana aja, dah?" tanya Numi-teman Meta.
Meta menengok ke arah Numi, lalu memperlihatkan deret giginya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Abis tidur di ruang seni, hehe," jawab Meta.
Numi menghela napasnya kasar. "Sumpah, gue cari lo ke mana-mana, takutnya lo nyasar! Eh, yang dicari malah asik tidur. Lo tuh, ya, baru seminggu sekolah di sini. Jangan macem-macem, deh," omel Numi panjang lebar.
Meta hanya mengiyakan omelan Numi. Definisi masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Bukannya gimana, ia juga terpaksa tidur di ruang seni karena kelasnya berisik waktu jam kosong berlangsung. Saat ia berkeliling mencari sebuah ketenangan, ia menemukan ruangan yang cocok. Sepi dan tenang. Ruang seni.
"Emmm, nanti temenin gue ke pameran seni, ya, besok?" pinta Numi.
Meta mengerutkan keningnya bingung. "Lo suka seni?"
"Sedikit, hehe. Gue cuma penikmat karya aja." Meta mengangguk-anggukan kepalanya paham.
"Boleh, tapi nanti traktir gue seblak, ya?" Meta tersenyum sembari menaik turunkan alisnya.
Numi menoyor kepala Meta enteng. "Seblak mulu lo dari kemarin! Usus lo udah keriting, nanti tambah keriting, lho!" Meta mengerucutkan bibirnya kesal.
Meta langsung memeluk Numi senang. Sementara orang yang di peluk terus berusaha melepaskan pelukan dari Meta. Numi tidak suka di peluk, itu membuatnya geli!