[Sudah terbit]
Bagi Ezra, melukis adalah napas. Tetapi karena masa lalu Ratu-mamanya mulai merenggut napasnya itu. Di tengah asa yang mulai sirna, Ezra dipertemukan oleh seorang gadis dengan biola di pelukannya.
Kisah mereka akan abadi di sebuah ka...
Soon i hope Or a soon as i'm old enough Old enough to understand Old enough to understand ....
Pluto Projector-Rex Orange Country
• • •
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Bapak siapa?"
Baru saja sampai di pekarangan Galaksi Studio, Ezra dikejutkan oleh kehadiran seorang bapak-bapak yang tampak antusias menatap studio. Bapak itu terlihat seperti umur 40 tahunan. Dan jika dilihat dengan saksama, sepertinya beliau seorang seniman. Lantas Ezra turun dari motor dan menyambut kedatangannya.
"Maaf, ini studiomu?" Ezra mengangguk.
"Sudah dari lama saya melihatnya, baru kali ini pemiliknya datang," katanya.
"Ah, iya, Pak. Saya emang jarang berkunjung ke sini. Hanya sesekali saja," ujar Ezra.
Bapak itu menganggukkan kepalanya paham. "Bapak ingin masuk?" tawar Ezra, lalu mempersilakan bapak itu masuk ke dalam studio.
"Saya Ezra." Membalas uluran tangan dari Pak Didit.
Ezra mulai memperkenalkan karya-karya miliknya pada Pak Didit. Seperti yang ia tebak dari awal, Pak Didit benar seorang seniman. Pengetahuan akan dunia seni khususnya seni lukis begitu luas. Ezra sangat terbuka dan senang ketika mendengarkan Pak Didit bercerita. Entah kenapa rasanya sangat menyenangkan karena satu frekuensi.
Setelah berbincang mengenai hal berbau seni, tampaknya kini beralih topik ke hal pribadi. Ezra memberitahu Pak Didit bahwa ibunya melarang keras melukis, dan teman-temannya berbaik hati membangun studio kecil ini untuknya melukis agar tidak diketahui ibunya.
Ezra juga curhat tentangnya yang selalu dituntut untuk menjadi sempurna. Contohnya dalam hal prestasi akademik. Ezra harus menjadi nomer satu bagaimanapun caranya. Jika tidak, maka tidak ada kasih sayang untuknya.
Entahlah, kenapa Ezra begitu gampang bercerita tentang masalahnya kepada orang asing. Atau mungkin ia hanya butuh sosok pendengar sekarang.
"Jadi kamu bolos les sekarang?"
Ezra menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari cengengesan. "Ya ... begitulah, saya sedang ada masalah, jadi saya ingin merenung dulu di sini," terang Ezra.
Pak Didit memberi semangat lewat tepukan pelan pada punggung Ezra. "Mau bagaimanapun, jangan sampai kamu membenci ibumu sendiri, ya." nasihatnya terdengar tulus.
Ezra hanya tersenyum tipis sebagai jawaban.
Pak Didit mengernyit heran. "Ayahmu?" tanyanya hati-hati.