Ch. 5 - Paksaan Ibu

266 64 62
                                        

When you're out of sight
In my mind
Cause sometimes I look in her eyes
And that's where I find a glimpes of us

A Glimpes of Us-Joji



"Apa yang Tante lakukan ke anak Tante sendiri?!" berang Farel

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Apa yang Tante lakukan ke anak Tante sendiri?!" berang Farel.

Farel benar-benar tak habis pikir dengan Ratu. Jika memang tidak diperbolehkan melukis, minimal beri tahu Ezra baik-baik dan kasih alasan yang logis agar bisa diterima baik oleh Ezra. Sikap Ratu membuat hati Farel ikutan sakit. Padahal Ezra adalah putra semata wayangnya, apakah Ratu tak berpikir rasa sakit yang Ezra derita karenanya?

"Jangan kurang ajar, ya, kamu!" seru Ratu.

Mata Farel kemudian melihat sebuah kanvas yang melukiskan wajah Ratu di sana. Di lukisan itu, Ratu tersenyum hangat layaknya seorang ibu yang mendukung pilihan anaknya, lalu ia mengambil kanvas tersebut dan menunjukkannya tepat pada wajah Ratu.

"Apa ini yang membuat Tante sampai tega melukai darah daging Tante sendiri?" kata Farel.

Plak! Ratu menepis kasar kanvas itu sampai terjatuh ke lantai. "Jangan menunjukkan barang sampah itu di depan wajah saya!" tekan Ratu sambil menunjuk-nunjuk.

"Ma, udah," lerai Ezra pasrah.

Kelemahan yang selama ini ia sembunyikan kini diketahui teman-temannya. Ia terlihat sangat menyedihkan bukan sekarang? Miris sekali hidupnya. Dan ia hanya bisa tertawa di dalam hatinya. Menertawai kehidupannya yang menyedihkan.

"Ezra ngelukis wajah Tante, lho, di situ. Tapi bukannya menghargai, Tante malah-"

"Tahu apa kamu tentang Ezra?" potong Ratu.

Ia kemudian mendekat ke arah Farel. Menunjuk Farel dengan jari telunjuknya, tepat ke wajah Farel. "Kamu itu cuma temannya. Jangan berlagak kalau kamu tahu semua tentangnya. Ternyata saya salah menilai kamu. Bisa-bisanya Ezra berteman dengan anak yang tidak tahu sopan santun seperti kamu," sambung Ratu penuh penekanan sambil matanya melihat Farel ke atas dan ke bawah.

Farel terdiam seribu bahasa. Ia baru berteman dengan Ezra saat ia baru masuk SMA. Dan ia berlagak seakan paling tahu tentang kehidupannya, yang padahal Ezra baru bercerita sedikit tentang kisah hidupnya. Ezra memang orang yang sedikit bercerita, tapi saat ia mulai membuka, menceritakan masalah hidupnya yang impiannya terhalang oleh mamanya, Farel kira, ia adalah orang yang Ezra percayai. Ia kira, ialah orang yang paling tahu tentang kehidupan Ezra. Tapi kini ia sadar, bahwa temannya itu, masih memendam banyak masalah lainnya.

Kanvas RusakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang