[Sudah terbit]
Bagi Ezra, melukis adalah napas. Tetapi karena masa lalu Ratu-mamanya mulai merenggut napasnya itu. Di tengah asa yang mulai sirna, Ezra dipertemukan oleh seorang gadis dengan biola di pelukannya.
Kisah mereka akan abadi di sebuah ka...
Did I cross the line? You say no one knows you so well (Oh)
WILDFLOWER-Billie Elish
• • •
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Senin adalah hari keramat. Hari yang paling semua orang tidak sukai. Apalagi untuk anak sekolahan. Dijemur di bawah teriknya matahari pagi, apalagi jika bukan upacara? Semua murid SMA Bunga Bangsa bersiap baris sesuai kelasnya. Terkecuali Meta yang sibuk mencari topi. Ia lupa membawanya.
"Aduh, gimana nasib gue ini ...," lirihnya sambil menggigit jari. "Mana Numi udah baris lagi," lanjutnya sembari mengembuskan napasnya kasar.
Tiba-tiba punggungnya ditepuk dari belakang. Sontak Meta menoleh dan mendapati Fanny di belakangnya.
Fanny melirik ke arah kepala Meta. "Kamu nggak bawa topi?" tanyanya.
"Iya, nih, Kak," jawab Meta cengengesan.
Seketika senyum Fanny mengembang. "Aku juga nggak bawa, untung deh, ada temannya."
Meta mengembuskan napasnya lega. Jika dihukum, maka ia tidak akan sendirian, tetapi tiba-tiba Ezra menghampiri. Menatap satu per satu dua siswi di depannya itu. "Kalian nggak baris?" Sontak keduanya menggeleng.
Mata Ezra melihat ke kedua kepala mereka. Ternyata tidak membawa topi. Mereka pasti akan terkena hukuman.
"Nah, mending topinya buat gue aja. please ... ya?" Mata Meta berbinar berharap Ezra memberikan topi itu padanya. Ia baru menyadarinya sekarang. Jika ia dihukum bersama Fanny, ia takut akan diinterogasi oleh kakak kelasnya itu soal kejadian kemarin yang melihatnya bermain biola.
Ezra melepaskan topinya, lalu memberikannya pada Fanny. Reflek Meta melongo. Begitu juga dengan Fanny. Sebelum menerima, Fanny menatap intens Ezra.
"Pakai aja," kata Ezra.
"T-tapi nanti kamu-"
"Nggak papa, gue kan lakik," potong Ezra.
Tangannya masih memegang topi yang tak kunjung di jemput oleh Fanny. Fanny menatap Meta bersalah. Padahal Meta yang tadi meminta, tapi yang dapat malah Fanny. Di balik rasa bersalahnya itu, ada rasa senang yang menjalar. Ternyata Ezra masih peduli dengannya dibanding dengan ... Meta?
Dengan hati-hati tangan Fanny menerima topi milik Ezra. "Makasih ...." Sebelum pergi, Fanny menatap Meta yang terlihat kesal dengan Ezra. Ia menganggukkan kepalanya pada Meta dan dibalas senyum olehnya, kemudian Fanny berlari pergi untuk berbaris.
"Kalian berdua kenapa belum-nggak pada pakai topi? Cepat baris di barisan terpisah! Seusai upacara kalian akan dihukum!" seru anggota OSIS yang memakai jas berwarna merah.
Dengan kesal Meta berjalan cepat ke arah barisan yang paling pojok, tempat di mana para murid melanggar tata tertib sekolah. Diikuti Ezra di belakangnya yang sedang tersenyum jahil.