Apa yang kau lakukan saat dunia berakhir?
Pertanyaan yang mungkin sering ditanyakan oleh segelintir orang. Bisa juga tidak dikarenakan siapa juga yang berharap dunia berakhir?
Mungkin tidak semudah hilir semut yang dengan di bekukan akan menghasilkan hiasan koloni. Tidak seperti api yang hanya dengan air bisa padam. Jika skala nya kecil, maka kejadian apapun dapat ditanggulangi.
Jika besar? Itu sudah menjadi bencana.
Seperti langit merah mendung saat ini, seolah menandakan berakhirnya dunia. Seakan-akan sudah tak ada lagi bagaimana untuk menyelamatkannya.
Salju yang menutupi negri Northmarea pun perlahan meleleh bukan karena panas, melainkan hilangnya keseimbangan. Seluruh penduduk di dunia, tiba-tiba di pertemukan dengan azab yang sebentar lagi akan menimpa mereka.
Ulah siapa?
Sebab ras mereka sendiri, seorang manusia yang dengan arogannya menggapai impian.
Mengapa dengan menggapai impian dia di cap sebagai pembawa bencana?
Tentu jika skala nya besar, maka itu akan dianggap berbahaya. Seperti percikan api unggun yang menyala diatas kayu, dengan api yang menyala membakar rumah. Terlihat beda nya bukan? Padahal sama-sama bahan, hanya skala saja yang berbeda.
Seperti kejahatan jika anak kecil mencuri makanan dari kulkas, dengan penjahat yang mencuri bank. Semua dipandang oleh skala, jika itu masalah besar maka lewati, jika besar maka tindak lanjuti.
Negri salju dengan sakura mekar pun malah terlibat. Pasalnya negri emas tersembunyi itu sekarang hanya reruntuhan. Hanya ada manusia yang berserakan maupun itu utuh atau tidak. Bahkan sakura yang yang awalnya bertebaran, kini hanya kering layaknya sudah tak ada kehidupan.
Laut biru kini ternodai dengan kotoran, dan darah yang mengalir dari sekitar pantai. Terlihat beberapa yang mengambang tidak bernafas mengapung diatasnya. Bahkan sebuah villa sudah tak terlihat, tenggelam oleh air pasang.
Negri besi dengan benteng ciri khas juga sudah roboh. Menimpa semua orang yang ada didalamnya, tentu tak ada satupun yang masih selamat. Bahkan besi pun tak cukup kuat untuk menahan bencana.
Lalu apalagi yang tersisa?
Disaat monster itu bangkit, ukurannya hampir setara dengan bumi itu sendiri. Sebagian sudah lenyap.
Bagaimana menangani sebuah monster yang sebentar lagi melahap semua layaknya lubang hitam dan menghapus dunia?
Siapa yang bisa mencegahnya? Sang 4 ksatria tersisa dengan mereka yang terluka raga dan batin?
Kini istana putih bersih itu juga sudah menjadi kotor, penuh darah dan semua sudah terlanjur menjadi reruntuhan.
Didalam area yang mungkin masih stabil untuk dijadikan penampungan, terdapat beberapa orang disana.
"...jadi Riku sudah...?" gumam surai oren yang terbaring di kasur lusuh, sekujur tubuhnya diperban.
Adiknya si surai raven kini juga sama, duduk menyender pada dinding yang hampir runtuh. Memandang kosong entah kemana. Setidaknya dia masih ada tenaga untuk berbicara dan menjelaskan semuanya.
"...apakah masih sempat?" tanya pria berambut coklat disamping mereka, sama-sama terluka parah. Menjaga si surai pink pucat yang tengah tertidur pulas.
"Hmmm Riku bilang apa yang harus kita lakukan adalah menghancurkan kristal merah diatas sana dengan kalung miliknya..."
Untung saja kalung double sharp itu berhasil selamat karena Riku sempat memberinya pada Tenn. Mungkin itu sebabnya Tenn bisa tidur dengan tenang dengan menggenggam erat kalung yang memiliki kehangatan Riku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Incomplete Ruler
FanfictionKerajaan Licht dan Kerajaan Schaduw. Licht yang berarti cahaya. Kerajaan dataran rendah ditepi pantai nan indah diselimuti oleh langit biru juga awan putih bersamaan dengan sinar matahari yang menyinari. Schaduw yang berarti bayangan. Kerajaan diat...
