Bag awal klimaks>v<
----
Bagai dedaunan yang berjatuhan. Mereka yang tertinggal, mereka yang ditinggal oleh satu orang oleh kematian.
Tidak ada yang berbincang setelah itu.
Tumben sekali Yuki memberikan pengertian untuk menunggu mereka siap berbicara. Mungkin hanya dia, Yamato dan Sogo yang bicara.
Sisanya diiring memasuki rumah kecilnya, yang secara ajaib bisa dia ubah menjadi luas dengan banyak kamar.
Namun surai merah itu tidak bergerak dari tempatnya. Masih memeluk lutut dengan menunduk entah menerawang ataupun memikirkan apa.
Tidak ada juga yang berusaha juga memaksanya masuk. Semuanya tau betul betapa pentingnya sosok Inumaru Touma bagi surai merah itu.
Bahkan malam juga tidak membuatnya bergerak. Hanya diam menolak segala bentuk tarikan juga makanan dari semuanya.
Sampai-sampai memasang penghalang mutlak buatan dia sendiri agar tak ada yang mengganggu. Yah memang takkan ada yang bisa. Mengetahui surai merah itu memiliki kedudukan paling tinggi sekarang, tak ada yang bisa mendekatinya.
Hari berganti dia tetap berdiam disana. Namun dia sendiri tak pernah meminta ataupun merengek kelaparan. Hanya terdengar isakan singkat dimalam hari.
"...udah dua hari Rikkun diem disitu..." ucap Tamaki yang hanya bisa memantau dari jauh
"Yah... mau gimana lagi? Inumaru tiba-tiba menghilang begitu saja..." ucap Mitsuki yang memang merasa sedih juga. Tapi memiliki banyak tanda tanya di pikirannya.
"Ouh... I hope, Riku kembali ceria... aku merindukan suaranya..." ucap Nagi ikut khawatir.
Iori hanya bisa melihat dengan khawatir, memikirkan sedang apa dia disana sampai-sampai melarang teman-temannya untuk masuk. Dia juga memikirkan apa yang terjadi di wilayah kegelapan saat itu setelah Touma pergi.
"Menyedihkan sekali..." ucap Iori dengan tatapan dingin.
Surai raven itu berjalan maju kearah surai merah yang memasang penghalang kuat.
"O-oi! Iori, bahaya!" seru kakaknya yang tidak didengar.
Surai raven itu tetap melaju menuju sosok yang merenung itu. Tanpa memedulikan kejutan listrik yang kemungkinan akan mengejutkannya atau tekanan apapun itu yang menghalanginya.
Pikirannya saat ini tengah kesal, marah, dan kecewa. Meski tekanan itu membuatnya terpental, namun dia bisa kembali bangkit. Dengan segenap kekuatannya untuk meraih apa yang ada didalamnya.
Dengan marah dia berlari dan menggapai lengan yang masih memeluk lutut itu, menariknya kuat-kuat sehingga dia berdiri.
"Nanase-san!!"
Dengan suara lantang itu, si surai raven berusaha menyentuh penghalang bagai penjara itu. Tak peduli jika kejutan listrik itu melumpuhkannya.
Apa yang harus dia lakukan saat ini ialah, berusaha untuk menyadarkan orang menyedihkan didepannya.
Memberitahu pada surai merah itu, dia adalah Raja!
Dan Iori tak punya pilihan selain menggunakan kemampuannya, yang sama sekali tak ingin dia gunakan.
{Time Controller}
Seketika semuanya berhenti.
Suara teriakan dari teman-teman yang lain, bahkan aura yang berpusar menyeramkan itu berhenti.
Seakan-akan, Waktu telah terhenti
Iori tertunduk ditanah. Mengambil nafas dalam karena satu mantra itu membuatnya langsung kehabisan tenaga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Incomplete Ruler
Fiksi PenggemarKerajaan Licht dan Kerajaan Schaduw. Licht yang berarti cahaya. Kerajaan dataran rendah ditepi pantai nan indah diselimuti oleh langit biru juga awan putih bersamaan dengan sinar matahari yang menyinari. Schaduw yang berarti bayangan. Kerajaan diat...
