23

8.7K 698 28
                                        

Astaga bisa bisanya aku engga sopan dihadapan adiknya Vanness.

Aku pun langsung membungkuk, "M-Maafkan atas kelancangan saya, sekarang saya sudah tahu siapa anda..."

"Baru sadar hah? aduh kebanyakan nonton bokep makanya lupa," sahutnya.

Astaga omongan nya..

Ohya pantes aja nama belakang nya mirip dengan seseorang, ternyata adik nya Vanness toh.

"Tapi gue maklumin deh karena lu masih baru disini."

Syukurlah, bisa-bisa kacau nih kalau diperpanjang.

Deg

Kedua mataku membulat sempurna saat nona Livy mengangkat daguku untuk menatap matanya.

"Kalau dilihat-lihat... lu mirip seseorang deh..."

Ah, jangan-jangan yang dia maksud itu bang Karl?

"Lu kenal sama kar-"

"Livy? kapan kamu datang?"

Nona Livy langsung melepaskan daguku saat suara Vanness muncul tiba-tiba entah sejak kapan.

"Baru aja nih kak."

Kulirik kearahnya yang sudah tersenyum manis kearah Vanness.

Duh, cepat banget berubah nya padahal baru aja tadi dia seperti Wewe gombel.

"Ohya, kamu udah kenalan nih sama Kaesha?" ucap Vanness.

"Engga perlu kenalan juga dia udah kenal aku kali kak," sahut nya.

Idih? kalau dia engga sebut 'kak Vanness' juga aku engga bakalan tahu.

"Yasudah yuk ke ruangan kakak aja."

"Okey."

Sebelum nona Livy hendak pergi, dia menatapku dengan tatapan tajam.

"Urusan kita masih belum selesai," bisiknya kemudian dia pergi bersama Vanness.

Urusan? astaga... aku pasti dalam masalah lagi.

Tiada hari tanpa masalah....

Sialan emang.

*********

"Lu kenapa kayak ngehindarin gue banget akhir-akhir ini?"

Aku terdiam, tidak menjawab pertanyaan Winter dan lebih memilih melanjutkan mencuci piring.

"Jawab gue Kaesha."

"Mungkin cuman perasaan kakak aja," sahutku.

"Engga, gue serius."

Aku menghela nafas kasar, "bukannya kakak jijik ya sama aku? jadi aku ngejauhin kakak seperti yang kakak mau."

"Iya sih gue emang jijik tapi-"

"Gimana bang Karl kak tadi malam? kalau engga salah dia tidur dikamar kakak kan?"

Kulirik kearah Winter, "dia tidur di lantai."

Lantai? Abang Goblok banget sih padahal masih ada kamar lain atau tidur disofa gitu, eh malah milih tidur di lantai.

Aku mengangguk-angguk sambil melanjutkan mencuci piring.

"Lu bisa gak sih gak usah terlalu cantik gitu?"

Aku mengernyitkan dahiku, "kenapa emang kak?"

"Ntar banyak yang suka terus gue bakal ngerasa tersaingi sama kecantikan lu."

Astaga Winter... Padahal dia udah cantik banget lho dimata aku.

"Dimata aku kakak udah cantik kok tapi aku bakal jelek jelekin muka ku biar kakak engga bakal kalah saing," ujarku.

ArrangeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang