Saat ini aku sedang duduk dipojok samping jendela disebuah cafe, bisa dibilang ini tempat favoritku karena bisa melihat pemandangan yang seharusnya tidak dipandang.
Aku menatap ke arah jalan raya, banyak kendaraan bermotor dan mobil.
"Nih kopi."
Aku sontak menatap sebuah kopi didepanku dan kemudian tersenyum kearah Freya, "thanks."
"Hum."
Aku meminum kopi yang telah Freya berikan kepadaku, "jadi? ngapain kesini?" ucapku sambil meminum kopi tersebut.
Freya menaiki sebelah alisnya, "menurut lu? kita maling disini?"
Aku menghela nafas, "gak gitu kocak, maksud nya, lu ngapain mau ketemuan ama gue?"
"Kan lu bilang waktu itu mau part time kan?"
Ah benar, aku sempat minta tolong ke Freya dan sekarang aku pula yang lupa.
Freya tersenyum, "nah, cafe ini bakal jadi tempat kerja lu dan assisten bos nya bentar lagi bakal interview lu."
Sontak kedua mataku membulat sempurna setelah mendengar itu. Interview? aku bahkan belum siapin mental.
"Lu napa gak bilang dulu sih ke gue?"
Freya hanya mengangkat bahunya.
"Santai aja, assisten nya sepupu gue kok."
Sepupu? apa jangan-jangan sepupu jauh nya yang gak pernah dia ceritain itu.
"Tetap aja egee.."
"Kenapa? belum siapin jawabannya?"
Aku mengangguk.
Freya tersenyum, "jawab dari hati lu aja."
Aku menghela nafas, memang bisa gitu ya?
Iyain aja deh, terima gak terima biarin aja, mungkin belum rezeki sih kalau enggak diterima.
"Eh tuh orang nya," ucap freya.
Aku menoleh kebelakang dan seketika aku melihat seorang perempuan cantik berkemeja putih dan memakai celana jeans. Tapi tunggu.. kenapa pakaiannya santai banget? atau memang gini ya?
"Maaf, udah nunggu lama ya?" ucap perempuan itu.
Freya menggelengkan kepalanya, "engga kok."
Perempuan itu menatapku dan kemudian tersenyum, "nama ku Catalina Rose, panggil aja Lin atau Lina."
"S-Saya... Kaesha R-Ryana.." ucapku gagap, karena bisa dibilang aku agak gugup.
Lina mengangguk sambil duduk disebelah Freya. Entah kenapa rasanya aku agak gugup, mungkin aku belum siap di interview.
"Santai aja okay? Gak usah formal gitu," ucap nya.
Aku memilih mengangguk karena enggak tahu harus berkata apa.
"Jadi.. Kaesha.. udah punya pengalaman apa saja?"
Aku terdiam. Pengalaman? aku baru berusia 19 tahun pengalaman apa yang ada coba? kalau pengalaman nyelamatin kucing dari got aku ada atau pengalaman dikejar 3 anjing atau pengalaman bantu orang gila mau nyebrang jalan ada.
"Dia belum ada pengalaman sama sekali kak," ujar Freya.
"Ah iya iya, mahasiswa 19 tahun kan ya?"
Aku mengangguk, "iya buk..."
Lina tersenyum manis, "gak usah panggil buk, panggil aja kakak."
"Ah iya kak.."
"So? Kamu sama Freya udah temanan berapa lama?"
Aku kembali terdiam, pertanyaan macam apa ini? memang ada ya interview ditanya begini? kukira cuma tentang pengalaman aja.
"5 tahun kak.." ucap ku.
"Mana ada, 6 tahun kok," sahut Freya.
Aku menghela nafas, "iya ya? berarti 6 tahun kak."
"Haha, lama juga ya," ucap Lina.
Iya juga sih, udah 6 tahun aku temanan sama Freya, aib aib nya pun aku sudah tahu.
"Apa yang membuat mu tertarik untuk jadi barista?"
Here we go...
Aku menarik nafas dalam-dalam, "Karena saya butuh uang... dan saya merasa jadi barista itu gak terlalu susah, yang perlu saya lakukan hanya mempelajari tentang kopi dan buat kopi," jawabku berusaha untuk tidak gugup.
Kulirik Freya yang menahan tawanya, sialan. memangnya jawabanku salah ya?
Sedangkan Lina hanya mengangguk-angguk.
"Menurutmu Apa itu profesi barista, dan apa saja tanggung jawab dari seorang barista?"
Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Menurut saya, barista adalah orang yang bertanggung jawab secara penuh dalam meracik, membuat, menyiapkan, dan menyajikan kopi yang sesuai dengan permintaan konsumen."
Lina tersenyum manis kearahku, "kenapa kami harus menerima kamu sebagai barista disini?"
Aduhh, ribet banget pertanyaannya.
"Karena... Saya orangnya pekerja keras, saya akan bertanggung jawab, saya akan menyajikan kopi yang bisa menarik para pelanggan, saya juga tertarik untuk belajar lebih banyak tentang kopi"
Lina mengangguk-angguk, "sebenarnya itu bukan jawaban yang ku mau but it's okay.."
Freya tersenyum kearah ku tapi aku tahu.. dia pasti sedang mengejekku sekarang.
"Hasilnya akan ditentuin sama bos nya okay? Jadi tunggu aja."
Lho? Kok aku merasa bentar banget ya interview nya? Ah biarlah, malahan bagus.
"Baik kak..."
Lina masih mempertahankan senyuman manisnya, "yasudah aku duluan ya? masih ada urusan."
Lina kemudian beranjak dari kursi, "oh ya Frey, jaga tuh teman mu."
Freya menghela nafas, "iya tau gue."
Jaga?? memangnya aku anak kecil yang perlu dijaga? apa sih aku gak ngerti.
Lina tersenyum kearah kami berdua, "yasudah, duluan ya?"
Aku mengangguk, "hati-hati kak."
Kini aku kembali menatap kembali kearah Freya.
Freya tersenyum kepadaku, "gimana? gak susah kan?"
"Iya sih ga banyak juga pertanyaan nya tapi pertanyaan tuh ribet banget."
"Haha, masih mending lah, pertanyaan nya cuma 4 doang."
Iya juga ya? syukur deh ga banyak tanya...
"Lagian disini tuh selagi kamu bertanggung jawab dan bisa diandalin, bakal diterima."
"Iya kah?"
Freya mengangguk mantap, "tinggal nunggu deh bos nya bakal nerima lu apa engga."
Aku menghela nafas dan meminum kopiku yang tadi.
Yaa... aku cuma bisa berdoa saja deh, karena aku butuh uang buat kebutuhan juga...
KAMU SEDANG MEMBACA
Arrange
RomansaKaesha Ryana terpaksa menikahin seorang perempuan lumpuh akibat ulah Abang nya, Namun beriringnya waktu ia menaruh hati kepada perempuan tersebut. Akankah Kaesha terus mengejar cinta seseorang perempuan yang tidak pernah menghargai nya? Atau ia akan...
