29

5.8K 474 36
                                        

"Sini buka mulutnya sayang, ahhh"

Ku lirik bang Karl menyuapi Winter di depan ku, sedangkan aku hanya menikmati makanan ku dengan pemandangan yang sedikit menyakitkan ini.

Aku langsung menatap makanan ku kembali saat Winter melirik kearah ku.

"Ainsley, hari ini kamu mau kemana? kita jalan-jalan yuk," ucap bang Karl.

"Gatau."

"Kok gatau? gimana kalau kita ke Mall? aku beliin kamu skincare deh."

"Malas keluar."

Tch, bawa aja Winter ke toko perhiasan emas bang, pasti langsung mau itu.

Ku coba sekilas menatap mereka lagi, tetapi Winter masih saja melirik kearah ku.

Sialan... kok jadi gengsi gini?

"Kaesha, lu gak boleh keluar rumah seharian ini."

Aku menaiki sebelah alis ku, "kenapa kak?"

"Iya Ainsley, kenapa? Kaesha kan ada kerjaan hari ini, jadi--"

"Gue gak bicara sama lu karl, kenapa sih lu harus ikut campur terus? lu tuh cuma numpang disini."

Busett, ribut dah ribut, pasti mood Winter lagi jelek banget ini.. hati-hati kalau ngomong kaesha.

"Kaesha itu punya gue, dan gue bebas ngelarang dia ini itu, salah?"

Ekspresi bang Karl sedikit bingung setelah Winter mengatakan itu, ya jujur aja siapa yang gak bingung?

"Salah Ainsley.. Kaesha cuman gantiin aku waktu pernikahan itu, dan Kaesha udah gak ada tanggung jawab lagi karena aku udah disini sebagai suami kamu, sebagai tanggung jawab kamu sekarang."

"Idih najis."

"Ainsley! jangan membantah sama suami kamu! itu dosa besar, apa lagi tadi malam kamu gak mau melayani aku! kamu mau nanggung dosa karena engga nuruti suami?"

Aku tersentak kaget, anjir? seriusan bang Karl minta dilayani tapi Winter nolak? syukur deh.

"Heh, dosa? sekarang kamu bisa ngomong dosa setelah kamu bikin aku lumpuh, kabur dengan harta aku, bikin adek kamu nanggung semua akibat kamu dan bahkan perselingkuhan kamu? masih bisa kamu sebut aku berdosa?!"

Bang Karl terbungkam, aku menghela nafas, apa gunanya aku disini? hanya figuran yang menyimak mereka bertengkar?

Tok... Tok... Tok...

Perfect timing!

Aku segera berdiri dari kursi ku dan pergi kabur kearah pintu.

Syukurlah ada seseorang yang datang selamatin aku.

Aku pun segara membuka pintu tersebut.

"Siapa--"

"Jelek banget penampilan lu, mau cosplay jadi gembel di lampu merah pagi-pagi gini?"

Deg

Ku lihat nona Livy berpangku tangan dengan menggunakan kacamata hitam.

Sialan, ku kira malaikat ternyata malaikat maut.

"Oh? lagi sarapan ya? gue ganggu?"

Banget.

Aku menghela nafas, "engga kok nona, ada perlu apa?"

"Gue ada syuting hari ini dan gue mau lu ikut."

"Itu doang?"

"Terus? lu berharap apa? menguntit Vanness?"

ArrangeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang