Panasnya wiski di tenggorokan Jean gak lagi bikin dia tersedak atau kaget. Ruangan penuh asap rokok juga gak lagi bikin dia sesak.
Lukisan kokeksi mamanya Jean yang seharga tiga digit di kamar Jean itu jadi kotor karena tar yang nempel selama beberapa hari ini.
"Permisi, Mas Jean, Bapak sudah tunggu di ruang baca," ucap salah satu pelayan rumah Jean di luar pintu.
Lelaki yang lagi duduk di lantai dan bersandar ke kasur itu gak ngegubris apapun. Dia masih sibuk minum wiski sambil nonton TV yang gak dia cermati sama sekali. Pikirannya kosong. Acara mabuk mabukan tunggal ini gak membuat dia jadi pemabuk gila yang akan hancurin seluruh barang di rumah. Gak juga bikin dia nangis tersedu sedu. Gak ada setitik emosi di kepalanya saat ini.
Tok. Tok. Tok.
"Mas Jean, mohon maaf, Bapak sudah marah-marah."
Brak!
"Jean. Bangun. Itu Papa manggil lo."
Pria yang lebih tua tiga tahun dari Jean itu ngebuka pintu kamar Jean dengan semena-mena. Pintu kamar yang berjarak dua meter dari kasurnya cuma dia lirik. Pria tinggi di pintu itu natap jijik adiknya yang lagi kacau.
"Iya," jawab Jean singkat, lalu nenggak sisa wiski di gelasnya.
Kaki-kaki lemas Jean mencoba berdiri sekuat tenaga. Tatapan dari PRT dan kakaknya gak membantu apa-apa. Jean bawa botol wiski yang sisa seperempat itu ke pertemuan dengan raja di rumah ini.
Tangga marmer dengan rel kayu impor keliatan lusuh dan jelek untuk Jean. Bahkan lampu gantung yang didesain khusus oleh perancang di Jerman itu cuma bikin sarang debu aja. Lagi-lagi, pikiran Jean menghina semua harta kekayaan di rumah ini. Karena semua hal ini adalah hal yang bikin dia jauh dari Naya.
Kedatangannya di ruang baca disambut dengan senyum kecut dari Papa dan Mama. Ruangan 3x4 meter ini berisi buku-buku dengan berbagai jenis tema, termasuk tema budi pekerti. Tapi gak ada satupun manusia di sini yang mengamalkan.
Jean duduk di sofa antik yang diwariskan dari neneknya. Dia nodain sofa itu dengan percikan wiski yang keluar dari botol karena gak dia tutup. Satu detik setelah duduk, dia langsung nenggak wiski itu. Dia butuh lebih dari sekedar wiski untuk mulai percakapan dengan pria tua renta yang banyak masalahnya ini.
"Gak berhenti mabuk kamu," komentar dari Mama gak bikin Jean tertarik.
"Mama mau ngomong sesuatu atau cuma mau ngehina-hina doang?" ucap Jean dengan kalimat paling halus yang bisa dia pikirin.
Papa langsung motong percakapan itu. Mama tutup mulutnya yang gak tahan buat ngoreksi setiap kesalahan anaknya itu.
"Kami udah berunding. Setelah dipikirkan, ini solusi terbaik. Kamu harus nikahin Naya secepat mungkin. Nanti, anak yang dikandung Sheila, akan kalian adopsi dan akuin sebagai anak kalian."
Baru mulai, Jean udah dibikin ketawa.
"Ngomong apa sih lu?" Wajah Jean memerah karena alkohol dan ketawa yang lumayan kenceng.
"Perasaan gua gak jadi pake obat?" ucap Jean, masih sambil ketawa, dan kembali nenggak wiski setelah denger hal yang mungkin cuma halusinasi dia aja.
"Denger, Jean. Papa gak bisa ambil resiko. Kamu sudah lama pacaran sama Naya. Gak akan ada yang kaget atau aneh kalau kamu dan Naya punya anak pun. Papa gak bisa biarin Sheila ngurus anak itu. Bisa jadi senjata dia nantinya."
Jean makin ketawa karena muka kedua orangtuanya serius. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Papa kayak lelucon buat dia. Tawanya yang meledak ledak lama lama reda karena dia mulai sadar kalau semua itu bukan cuma halusinasinya aja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Escapism.
Fiksi Penggemar🔞 Drunk calls, drunk texts, drunk tears, drunk sex I was lookin' for a man who was on the same page A fanfiction of Na Jaemin and Lee Jeno
