Geng Ganesha membisu seperti sekelompok peserta seminar motivasi yang baru menyadari bahwa motivatornya kabur.
Ika baru saja menyelesaikan laporan dadakannya—tentang Evi, bulu, dan tragedi kamar bercermin.
“Bulu?” ulang Linda, menatap Ika seolah berharap ada konteks yang lebih jinak. “Maksudmu kayak... alergi?”
Ika menatapnya datar. “Alergi?”
Linda mengangguk yakin, wajahnya serius seperti dokter gadungan.
“Mungkin aja dia punya alergi kalau marah. Ada lho, orang yang langsung bentol-bentol kalau emosian. Nah, ini mungkin versi ekstremnya.”
Tak ada yang menanggapi. Hanya angin dan tatapan kasihan.
Ika mengerjap. Lalu entah dari mana, ekspresinya berubah—seperti seseorang yang baru ingat deadline pajak.
“Aku tau!” serunya, setengah bangga, setengah histeris.
“Kalian jagain Iyem. Aku harus ketemu orang.”
Ia bergegas keluar rumah. Motor melaju seperti cita-cita emak-emak: cepat tapi penuh doa.
Lalu lintas Jakarta mendesis, dan Ika menyalip truk kontainer dengan keberanian spiritual yang tak masuk akal.
Sebelum melesat, ia sempat mengirim pesan ke Alice:
“Kita harus ketemu. Urgent. Jangan kasih tau Evi. – Ika”
Alice membaca pesan itu di tengah obrolan dengan Evi dan Jonathan, lalu spontan meneguk kopinya dalam-dalam.
Ini pertama kalinya Ika terdengar serius, dan itu… mencurigakan.
Mereka bertemu di sebuah kafe murah, tempat kopi terasa seperti hukuman tapi ramai oleh anak muda yang suka pura-pura produktif.
Ika sudah tiba lebih dulu, duduk dengan wajah setegang pelamar kerja yang baru sadar berkasnya salah nama.
“Ada apa, Ka?” tanya Alice, mencoba terdengar santai.
“Ice latte,” jawab Ika spontan, lalu sadar, “Eh maksudku... ada yang harus kamu tahu.”
Dan mulailah dia bercerita tentang Evi—tentang bulu-bulu, pertengkaran, dan wajah yang setengah manusia setengah legenda horor.
Alice mendengarkan tanpa berkedip.
Dalam kepalanya, semua potongan kisah tentang Evi mulai berputar seperti puzzle mahal yang sebagian kepingnya diambil tikus.
Ia mulai curiga: mungkin sepupunya itu memang bukan sembarang manajer karbitan, melainkan sesuatu yang lebih… klasik.
Tanpa pikir panjang, Alice menelepon dua orang yang paling cepat panik di antara mereka: Jonathan dan Eddy.
Kata kuncinya sederhana: “INI DARURAT.”
Dan seperti hipnotis, dua pria itu meluncur ke kafe dalam waktu kurang dari lima belas menit.
Begitu semua berkumpul, suasana kafe berubah tegang.
Mereka duduk berhadapan, empat orang yang seolah tahu rahasia besar, tapi takut menyebutkannya karena takut jadi nyata.
“Kamu yakin yang kamu lihat itu nyata, Ka?” tanya Eddy lembut, seperti dokter gigi yang mencoba ramah sebelum mencabut sesuatu.
Ika langsung manyun. “Mas, saya masih waras. Saya tahu bedanya bulu sama bayangan dosa.”
Jonathan menahan tawa. Alice sibuk menulis sesuatu di serbet, entah teori atau alamat dukun.
Eddy akhirnya berdiri, menatap mereka satu per satu.
“Kalau ada perkembangan, kabari aku. Aku balik dulu ke hotel.”
Tapi semesta, tentu saja, tidak akan membiarkan pertemuan rahasia berjalan mulus.
Sebab tepat saat Eddy melangkah pergi, pintu kafe berderit—dan Evi muncul.
Wajahnya datar. Auranya dingin.
Seisi meja spontan kaku, seperti tertangkap basah sedang rapat RT tanpa izin lurah.
“Jadi… begini caranya kalian berteman?” suaranya datar, tapi menembus udara seperti silet tipis.
Tak ada yang menjawab.
Eddy mencoba mendekat, tapi Evi mundur.
Ika mulai panik: ia melihat tangan Evi mulai dipenuhi bulu-bulu halus, seperti efek spesial murah yang terlalu realistis.
“Evi, kontrol emosimu,” bisik Eddy lembut,
tapi Evi menatapnya dengan mata tajam dan dada naik-turun seperti pemain sinetron yang sedang menahan ledakan batin.
Bulu-bulu itu tumbuh makin tebal, hitam, dan liar.
Tanpa pikir panjang, Eddy memeluknya.
Langkah gegabah tapi nekat—karena siapa pun tahu, memeluk serigala bukan strategi jitu untuk bertahan hidup.
Evi berontak, tapi pria itu tetap menahannya erat.
Lalu dengan suara nyaris tak terdengar, Eddy berbisik di telinganya,
“Julia… kontrol emosimu.”
Tubuh Evi menegang.
Matanya membulat, seperti baru ingat sesuatu yang tak seharusnya diingat.
Julia.
Beberapa jam kemudian, Evi sudah terbaring di kamar hotel—tenang tapi bukan damai.
Eddy, Jonathan, Alice, dan Ika hanya duduk memandangi wajahnya. Tak ada yang berani bicara.
Ketika Evi membuka matanya, ia menatap langit-langit lama sekali,
sebelum akhirnya berbisik, “Alice…”
Sepupunya menoleh pelan.
“Menurut lo…” suara Evi terdengar datar tapi gemetar halus,
“...gue ini Julia?”
Dan di ruangan itu, yang terdengar hanyalah dengung AC—
dan detak pelan dari empat orang yang tiba-tiba merasa hidup di tengah bab novel yang tak ada di kontrak kerja mereka.
Eddy mendekat pelan. Gerakannya hati-hati, seolah takut mengagetkan sesuatu yang bukan manusia tapi masih bisa tersinggung.
Ia duduk di sisi ranjang, lalu menggenggam tangan Evi. Hangat, tapi samar—seperti genggaman seseorang yang tahu betul hidup itu sementara.
“Ciri-ciri Julia,” katanya perlahan, “salah satunya… dia selalu memancarkan kecantikan yang nggak bisa dijelaskan. Orang-orang cuma tahu dia cantik, tapi nggak tahu kenapa. Dan kalau amarahnya muncul, dia bisa berubah jadi sesuatu yang nggak ingin kamu lihat dua kali.”
Evi menatapnya lama.
Lalu pipinya—yang biasanya kebal dari sentuhan perasaan—mulai memanas.
Dia tak tahu harus tersinggung atau berterima kasih. Cantik? Dirinya? Dengan rambut acak dan sepatu boot yang bau bensin?
“Jangan suka bikin orang ge-er, deh,” gumamnya akhirnya, pura-pura sibuk menatap ujung selimut.
Eddy tersenyum, lembut tapi nakal. “Omongan yang mana yang bikin kamu ge-er?”
Evi mendengus pelan. “Yang cantik tanpa alasan itu. Kamu pikir aku Julia, padahal aku paling mentok cuma mirip Julia Roberts… waktu jetlag.”
Eddy terkekeh kecil, tapi matanya tetap serius.
Tatapan yang terlalu dalam untuk seorang pria yang seharusnya cuma bicara tentang hal-hal logis.
Dan di titik itu, sesuatu melintas di kepala Evi.
Bayangan. Sekilas saja—tapi cukup tajam untuk membuat jantungnya berhenti sejenak.
Dahi Evi berkerut. Ia ingin bilang sesuatu, tapi kata-kata tak sempat keluar.
Eddy mencondongkan tubuh, menatapnya cemas. “Evi?”
Belum sempat ia menjawab, tubuh Evi mendadak lunglai.
Jatuh ke pelukan kasur dengan tenang, seperti seseorang yang akhirnya menemukan celah antara dunia sadar dan yang lain.
Eddy menatap wajahnya—diam, lama, dan entah kenapa terlihat sendu.
Ia tahu gadis itu tak pingsan sepenuhnya. Julia sedang meminjamnya sebentar.
Lelaki itu menghela napas pelan.
Di luar jendela, malam turun tanpa suara, membawa aroma besi dan kemungkinan.
Dan seperti biasa, cinta—kalau ini memang cinta—datang di waktu yang paling tidak sopan.
Malam itu, Evi tertidur dengan wajah tenang, seolah seluruh dunia akhirnya mengakui: kadang yang paling cantik adalah yang paling berantakan.
* * *
KAMU SEDANG MEMBACA
IYEMRELA
Mystery / Thriller- dongeng modern tentang cinta, kelas sosial, dan karma yang tak pernah tamat - Iyem hanyalah gadis kampung biasa, sampai Madam Juliet-wanita berkuasa dengan gaya bicara seperti kontrak kredit macet-menjodohkannya dengan pewaris PT DEWO. Demi kelan...
