Prolog

149 22 1
                                        

Pulau Neymark. Itulah tujuan perjalanan kita. Pulau yang katanya menyimpan harta karun, incaran banyak orang sejak lama. Namun, konon, harta itu tidak dibiarkan begitu saja-ada penjaganya.

Neymark adalah pulau terpencil, takkan ditemukan di peta sekolah. Mustahil. Dari kejauhan, ia tampak tenang dengan bukit-bukit hijau yang menjulang. Rumput liar menutupi lerengnya, seolah menyembunyikan rahasia yang tak pernah ingin terungkap.

Pohon-pohon akasia dan palem tumbuh jarang, berdiri acak, menyisakan hamparan padang rumput luas. Keheningan di antara pepohonan itu justru menambah kesan asing-seperti ada sesuatu yang mengintai dari balik bayangan batang yang jarang.

Laut di sekelilingnya berwarna biru jernih, tenang, seolah mengundang siapa pun untuk singgah. Pantainya berpasir putih bersih, pucat, nyaris menyilaukan mata, seperti seragam sekolah di hari Senin-namun terlalu putih, terlalu sempurna, seperti menyimpan pertanda buruk. Sesekali batu-batu karang besar tampak menonjol, menyerupai kepala makhluk yang nyaris muncul dari dalam laut.

Di bagian barat pulau, sebuah bukit menjulang tinggi, ditumbuhi rumput tebal. Pada sisi tebingnya, terdapat retakan besar pada batuan, seperti mulut raksasa yang menganga. Retakan itu ternyata sebuah gua laut, terbentuk akibat hantaman gelombang ribuan tahun. Namun, orang-orang di pulau ini menyebutnya bukan sekadar gua, melainkan pintu masuk.

Pintu ke mana? Tak ada yang tahu pasti. Yang jelas, siapa pun yang pernah mencoba masuk jarang terlihat kembali. Dan mereka yang berhasil keluar... tidak pernah sama lagi.

Almost ThereTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang