Terdengar langkah-langkah berat bergema dari sudut gua gelap gulita.
Langkah itu semakin mendekat...
"Suara apa itu?" bisikku ketakutan. Hening. Senyap. Seolah udara menahan napas.
Lalu tiba-tiba, suara gemuruh mengguncang dinding batu. Dari kegelapan, muncul bayangan besar dengan geraman bernada rendah yang membuat bulu kudukku berdiri. Aku spontan berlari, jantung berdegup kencang, napasku tersengal-sengal.
Namun semakin aku berlari, suara itu semakin mendekat. Sesosok makhluk hitam pekat, dengan mata menyala, mengikutiku.
"Haaaaaaa!" teriakku sekuat tenaga. Aku menoleh sekilas, dan baru sadar-tanganku menggenggam sesuatu. Kilau cahaya berpendar dari sela jari-jariku. Kalung emas, permata, dan berlian! Batu-batu itu memantulkan cahaya samar di dalam gua, dan justru membuat posisiku semakin mudah terlihat oleh monster itu.
Aku panik. Terpojok di lorong gua yang buntu. Dinding batu keras membatasi langkahku. Monster itu mendekat perlahan, geramannya menggema di seluruh lorong.
Lalu dari celah-celah batu gua, muncul puluhan ulat kaki seribu. Mereka merayap dengan bunyi desir gesekan tubuh, turun ke lantai, naik ke dinding, hingga menempel di wajahku. Aku menjerit histeris, mengibaskan tangan, tapi semakin banyak ulat keluar.
Monster itu kian dekat, tubuhnya melengkung rendah, siap menerkam. Matanya menatap tajam ke arahku. Aku menunduk, menutup wajah, tak berani lagi melihat.
"Rawrrrrrrr!"
Makhluk itu melompat ke arahku.... Aku terbangun dengan kepala terangkat dari bantal. Nafas terengah, keringat membasahi pelipis.
"Heeeh!"
Kulirik ponsel di meja kecil. Jam menunjukkan pukul 05.45.
"Alamak! Aku telat!" seruku panik. Tanpa pikir panjang, aku berlari ke kamar mandi. Bayangan monster, gua, dan perhiasan masih menempel di kepalaku. Tapi kali ini, monster itu kalah oleh satu hal: jadwal sekolah!
KAMU SEDANG MEMBACA
Almost There
AdventureBermulai dari mimpi, petualanganku menjadi nyata. Sebuah pulau yang tak terpeta dan akhir petualangan yang tak terduga. Dan akhir petualangan yang penuh tanda tanya.
