Setelah melanjutkan perjalanan menuju bukit Neymark, perasaanku terhadap Satria semakin rumit. Tatapan mata Nisrina kepadanya membuatku merasa cemburu. Namun, aku berusaha menahannya, mencoba fokus pada perjalanan, meski hatiku terus bergejolak.
Saat malam,
Kami berkemah di lereng gunung, di bawah langit penuh bintang yang berkelip menemani. Api unggun menyala tenang, memberi kehangatan setelah perjalanan yang melelahkan. Satria dan Nisrina duduk bersebelahan, tampak lelah tapi juga nyaman. Aku menatap mereka sambil berusaha mencari topik pembicaraan-sekadar untuk mengalihkan rasa aneh di dalam hatiku. Namun, baru saja aku hendak membuka suara, Satria mendahuluiku.
"Girls, kalian sadar gak kalau perjalanan ini benar-benar menguji kita? Aku merasa kita jadi lebih kuat setelah melewati semua cobaan ini," katanya serius, tapi dengan senyum hangat.
"Iya, Tria. Gue juga merasa bersyukur bisa ngalamin semua ini bareng kalian. Kalian udah kayak saudara sendiri buat gue," kataku. Entah kenapa, aku merasa sedang berbohong pada diriku sendiri. Dalam hati, aku masih bingung dengan perasaan yang makin lama makin sulit kuabaikan. Apa ini suka? Sayang? Atau sekadar kekaguman?
"Kalian berdua memang teman terbaik gue. Walaupun aku baru kenal lo belum lama, Mel, tapi gue ngerasa kita udah saling melengkapi," lanjut Satria sambil menatap kami.
Deg. Dadaku seketika berdebar cepat. Kenapa harus sekarang, di momen seperti ini? Aku takut mereka mendengar detak jantungku sendiri.
Meski kata-katanya menenangkan, aku tetap merasa cemburu melihat kedekatan Satria dan Nisrina. Ingatan tentang pelukan mereka sebelumnya masih membekas di kepalaku-adegan yang terlalu mirip dengan film-film romantis yang sering kutonton saat gabut di rumah.
Aku takut, kalau perasaanku yang sebenarnya terbongkar, itu justru akan merusak persahabatan kami. Bagaimana jika ternyata Nisrina juga menaruh hati pada Satria? Aku tidak mau kehilangan sahabatku hanya karena satu perasaan yang mungkin saja tak terbalas.
Maka, aku memilih untuk diam. Memendam rasa ini dalam-dalam. Walaupun sulit, aku lebih takut menerima kenyataan bahwa mungkin-aku dan Nisrina sama-sama jatuh hati pada lelaki yang sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Almost There
PrzygodoweBermulai dari mimpi, petualanganku menjadi nyata. Sebuah pulau yang tak terpeta dan akhir petualangan yang tak terduga. Akhir petualangan yang penuh tanda tanya.
