Bayangan itu melayang mendekat, langkah kami serentak mundur. Suhu udara di sekitar tiba-tiba turun drastis, membuat kulit merinding. Api obor kecil yang kami bawa bergetar, hampir padam tertiup angin dingin yang tak jelas dari mana datangnya.
"Apa... apa itu?" bisik Nisrina dengan suara gemetar, matanya membesar penuh ketakutan.
Satria mencoba menegakkan tubuhnya, meski aku bisa melihat tangannya ikut bergetar. "Siapapun kau... kami hanya ingin tahu kebenaran pulau ini. Kami tidak berniat jahat."
Sosok itu berhenti tepat beberapa meter di depan kami. Mata merahnya menyala semakin terang, menembus kegelapan. Lalu, dengan suara yang dalam dan bergema, ia berkata:
"Kebenaran... selalu menuntut pengorbanan."
Ruangan seketika berguncang lebih keras. Dinding-dinding batu berderak, seakan siap runtuh. Dari balik lukisan-lukisan kuno di dinding, samar-samar muncul cahaya merah yang membentuk simbol aneh.
Aku merasakan jantungku berdetak begitu kencang, hampir pecah. Tangan dingin dan gemetar, namun aku tahu kami tidak bisa lari begitu saja.
Tiba-tiba, gulungan kertas yang tadi kami temukan mulai bersinar di tanganku. Cahaya keemasan menyemburat keluar, menantang kegelapan yang menyelimuti sosok itu.
Bayangan itu menggeram, suaranya memekakkan telinga.
"Kalian sudah membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur..."
Cahaya dan kegelapan saling bertabrakan di ruangan itu, membuat kami terhuyung-huyung. Satria berteriak, "Pegang gulungan itu kuat-kuat, Mel! Jangan sampai terlepas!"
Aku menggenggam gulungan dengan sekuat tenaga, meski tubuhku nyaris tak sanggup menahan dorongan energi yang keluar darinya. Nisrina menempel di sampingku, wajahnya pucat, tapi matanya memancarkan keberanian.
Dalam detik-detik kacau itu, aku sadar satu hal-gulungan ini bukan sekadar petunjuk. Ia adalah kunci. Dan kunci ini baru saja membuka sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari yang kami bayangkan.
Kami menatap gulungan itu dengan napas tertahan. Angin berdesir kencang, seakan reruntuhan kuno itu ikut berguncang. Dari kejauhan, terdengar suara gemuruh aneh, seperti sesuatu yang perlahan bangkit dari tidurnya.
Aku menelan ludah, jantungku berdegup kencang.
"Sat... Nis... gue rasa kita baru saja membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap terkunci," bisikku lirih.
Satria menatapku serius, lalu menoleh pada Nisrina.
Dan saat itulah... dari kegelapan lorong belakang, muncul sepasang mata bercahaya merah, menatap kami tanpa berkedip.
KAMU SEDANG MEMBACA
Almost There
AventurăBermulai dari mimpi, petualanganku menjadi nyata. Sebuah pulau yang tak terpeta dan akhir petualangan yang tak terduga. Akhir petualangan yang penuh tanda tanya.
