Kami kembali melanjutkan petualangan. Waktu tersisa tiga hari lagi sebelum Mang Oleh menjemput kami. Sampai saat ini, kami masih belum tahu apa sebenarnya yang disembunyikan Pulau Neymark. Justru misteri itulah yang membuat setiap langkah kami dipenuhi rasa penasaran.
“Menurut peta, seharusnya kita sudah dekat dengan Gunung Neymark. Kalau benar, sebentar lagi kita akan tahu apa yang selama ini dirahasiakan pulau ini,” kataku sambil menatap lembaran peta yang mulai lusuh.
“Kita harus tetap waspada. Siapa tahu apa yang menunggu kita di sana,” ujar Satria, suaranya tenang tapi penuh kewaspadaan.
Kami berjalan dengan hati berdebar. Semakin mendekat, semakin berat langkah kami rasakan, seolah alam sengaja menguji. Saat garis kaki gunung mulai tampak, suasananya jauh dari bayangan kami. Sunyi. Mencekam. Tak ada tanda-tanda kehidupan—hanya suara angin berdesir di antara pepohonan, membawa bisikan yang sulit dimengerti.
“Menurut kalian… ada yang aneh nggak sama tempat ini?” bisik Nisrina, matanya gelisah menatap sekeliling.
Aku menelan ludah, mencoba tetap tenang. “Iya… rasanya ada sesuatu yang nggak beres. Kita harus ekstra hati-hati.”
Satria berusaha menjaga semangat. “Mungkin kita cuma perlu terus mendaki. Siapa tahu ada jawaban di puncak.”
Dengan langkah ragu namun penuh tekad, kami menapaki jalur terjal yang semakin menanjak. Hutan kian rapat, bayangan pepohonan semakin pekat, dan udara semakin dingin menusuk tulang. Setiap langkah terasa seperti menembus ruang asing yang tak seharusnya dimasuki manusia.
Akhirnya, di tengah jalur pendakian, kami menemukan sisa-sisa bangunan kuno. Dindingnya retak, dipenuhi lumut, tapi aura yang dipancarkan begitu kuat hingga membuat bulu kuduk kami berdiri. Ukiran-ukiran aneh terpahat di batu, seperti simbol dari peradaban yang hilang.
“Apa sebenarnya yang kita cari di sini?” tanyaku lirih, mataku terpaku pada pahatan itu.
“Mungkin ini petunjuk. Bisa jadi harta karun, atau rahasia yang selama ini disembunyikan pulau ini,” jawab Satria, sorot matanya dipenuhi rasa ingin tahu.
Kami saling pandang. Tak ada jalan kembali. Dengan langkah perlahan, kami meninggalkan reruntuhan itu dan terus menanjak ke arah puncak. Udara semakin tipis, hawa dingin semakin menusuk, dan bayangan misteri makin pekat mengiringi.
Petualangan di Pulau Neymark belum berakhir. Dan di puncak Gunung Neymark, kami tahu, sesuatu yang jauh lebih besar dan berbahaya sedang menunggu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Almost There
AventuraBermulai dari mimpi, petualanganku menjadi nyata. Sebuah pulau yang tak terpeta dan akhir petualangan yang tak terduga. Akhir petualangan yang penuh tanda tanya.
