Suara langkah berat menggema, setiap dentumannya membuat lantai batu bergetar. Aku bisa merasakan getaran itu merayap sampai ke tulangku. Nisrina langsung meraih tanganku erat-erat, wajahnya pucat pasi.
"M-Mel... Sat... itu... apa?" suaranya bergetar.
Satria berdiri di depan kami, tubuhnya tegang, matanya fokus ke arah kegelapan.
"Tenang. Jangan panik. Apa pun itu... kita harus siap."
Dari balik bayangan lorong, sosok itu perlahan muncul. Tubuhnya besar, jauh lebih tinggi dari manusia. Kulitnya hitam pekat, berkilat seperti batu obsidian. Tanduk panjang menjulang dari kepalanya, dan sepasang mata merah menyala menembus kegelapan, penuh dengan amarah yang seolah sudah lama terpendam.
Makhluk itu mendekat, dan tiba-tiba... gulungan kuno di tangan Satria memancarkan cahaya keemasan. Cahaya itu menyorot ke arah makhluk tersebut, membuatnya meraung keras hingga seluruh reruntuhan bergetar.
Aku menutup telinga, jantungku serasa mau meledak.
"Sat! Gulungan itu... kayaknya kuncinya! Jangan lepasin!" teriakku.
Satria mengangkat gulungan itu tinggi-tinggi, cahaya makin terang, namun tubuhnya mulai gemetar, seakan ada kekuatan besar yang sedang menguji dirinya.
"Gue... gue nggak tau bisa nahan berapa lama lagi!" Satria berteriak.
Makhluk itu berhenti beberapa langkah di depan kami. Suara napasnya berat, panasnya terasa sampai ke kulit kami. Lalu, dengan suara rendah yang menggema di seluruh ruangan, ia berkata:
"Berani sekali kalian... membuka rahasia yang telah lama terkubur. Apakah kalian siap menanggung konsekuensinya?"
Aku, Nisrina, dan Satria saling berpandangan. Di antara rasa takut, ada tekad yang sama di mata kami.
"Apa pun yang terjadi..." jawabku dengan suara bergetar tapi tegas, "kami akan menghadapi."
Makhluk itu tersenyum menyeramkan, memperlihatkan deretan gigi tajam yang berkilat di bawah cahaya.
"Kalau begitu... biar kita lihat seberapa jauh keberanian kalian."
Dan seketika, reruntuhan itu runtuh lebih dalam, lantai tempat kami berdiri berguncang, membuat kami terjerumus ke dalam kegelapan tanpa dasar.
Kami terjatuh ke sebuah ruang bawah tanah yang luas, namun berbeda dari reruntuhan sebelumnya. Dindingnya terbuat dari batu hitam berkilau, dan cahaya gulungan kuno Satria menimbulkan bayangan menari-nari di sekeliling. Di tengah ruangan, muncul tiga pintu besar-masing-masing dihiasi simbol aneh yang berdenyut seperti hidup.
Makhluk itu muncul lagi, melayang di atas kami dengan mata merah menyala.
"Setiap pintu adalah ujian. Kalian harus memilih satu... dan hanya satu yang bisa kalian lewati. Pilihan kalian akan menentukan apakah kalian layak menjaga rahasia pulau Neymark."
Aku menatap Nisrina dan Satria. Detak jantung kami berpacu.
"Bagaimana kita tahu yang mana yang harus dipilih?" tanya Nisrina dengan suara bergetar.
Makhluk itu tersenyum dingin.
"Intuisi dan keberanian kalian yang akan memutuskan. Tapi ingat, hanya satu yang membawa kebenaran... yang lain akan menjerumuskan kalian ke dalam kegelapan abadi."
Kami melangkah maju, menimbang pilihan. Pintu pertama bercahaya biru dingin, seakan membawa kedamaian tapi juga kesunyian yang membekukan. Pintu kedua merah menyala, terasa panas, menimbulkan rasa takut sekaligus adrenalin. Pintu ketiga hijau lembut, menenangkan, tapi bayangan di sekitarnya bergerak-gerak seakan hidup.
Satria menarik gulungan itu lebih dekat, menyalakan cahaya yang menyorot ketiga pintu.
"Kita harus memilih... bersama-sama," katanya.
Aku menarik napas dalam.
"Baiklah... kita pilih yang merah," kataku akhirnya, menatap kedua temanku. "Karena kita nggak bisa takut menghadapi apa pun yang menunggu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Almost There
AventuraBermulai dari mimpi, petualanganku menjadi nyata. Sebuah pulau yang tak terpeta dan akhir petualangan yang tak terduga. Akhir petualangan yang penuh tanda tanya.
