Hilangnya Satria

24 9 0
                                        


Beberapa hari setelah kembali ke Sunda Kelapa, kehidupan sekolah perlahan kembali normal. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Satria, teman kami yang selalu ceria dan penuh semangat, mulai berubah. Ia tampak lebih serius, selalu termenung, dan sering menatap jauh ke arah laut seakan mencari sesuatu yang hanya dia ketahui.

Aku dan Nisrina merasa ada yang tidak beres. "Kenapa dia jadi seperti ini?" tanyaku suatu sore ketika melihat Satria duduk sendirian di tepi lapangan sekolah.

Nisrina menggeleng. "Aku nggak tahu... tapi dia kayak menyimpan sesuatu yang besar."

Satria masih hadir di kelas, namun pikirannya tampak melayang jauh. Tiap kali teman-teman mencoba mengajaknya bicara tentang pulau Neymark atau petualangan mereka di sana, Satria selalu menjawab singkat atau mengalihkan pembicaraan.

Beberapa minggu berlalu, hingga suatu pagi, Satria menghilang tanpa jejak. Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi, dan catatan terakhir yang ditemukan hanyalah tulisan samar di meja belajarnya:

"Aku harus menemukan kebenaran... Neymark belum selesai denganku."

Kepanikan mulai menyebar. Aku dan Nisrina memutuskan untuk mencari jawaban. Kami mengunjungi rumah Satria, berharap orangtuanya tahu sesuatu.

"Dia meninggalkan catatan bahwa dia pergi untuk mencari kebenaran," kata ibu Satria dengan suara gemetar. "Tapi kami tidak tahu kebenaran apa yang dia maksud."

Aku dan Nisrina saling berpandangan, hati mereka dipenuhi rasa penasaran dan kekhawatiran. Tanpa ragu, mereka bertekad untuk menemukan Satria, apapun yang harus mereka lakukan. Petualangan baru pun menanti, kali ini bukan di pulau misterius, tetapi di dunia nyata yang menyimpan rahasia Satria dan mungkin, rahasia yang lebih besar dari pulau Neymark sendiri.

Aku dan Nisrina berkumpul di bawah pohon besar di halaman sekolah, berbagi kebingungan tentang hilangnya Satria. Kami memperdebatkan kemungkinan-kemungkinan apa yang bisa terjadi padanya, namun tak ada jawaban pasti yang muncul.

"Menurut lo, apakah Satria kembali ke pulau Neymark?" tanyaku dengan suara hati-hati, seolah takut mendengar jawabannya sendiri.

Nisrina menggeleng pelan. "Gue kurang yakin. Tapi sejak balik dari pulau itu, Satria terlihat terobsesi dengan sesuatu. Rasanya dia menyimpan rahasia-tentang apa yang terjadi di sana."

Aku merenung sejenak. "Pertanyaannya, bagaimana kita bisa mencarinya?"

"Nanti, gue ada ide," jawab Nisrina dengan mata berbinar. "Kita bisa tanya orang tuanya. Mereka mungkin tahu sesuatu yang bisa bantu kita."

Dengan tekad yang baru, Aku dan Nisrina berjalan menuju rumah Satria, hati-hati memilih kata-kata yang akan mereka ucapkan. Setibanya di sana, orang tua Satria tampak terkejut melihat mereka.

"Maaf, kami ingin bertanya tentang Satria," ucapku dengan sopan.

"Dia tidak muncul di sekolah, dan kami khawatir," tambah Nisrina.

Orang tua Satria terlihat cemas, matanya mencari sesuatu yang tak terlihat. "Kami... kami tidak tahu ke mana dia pergi," kata ibu Satria dengan suara gemetar.

"Ada catatan yang dia tinggalkan," lanjut ayahnya. "Dia bilang pergi untuk mencari kebenaran... Tapi kami tidak tahu maksudnya.

Aku dan Nisrina saling bertatapan, rasa khawatiran bercampur rasa penasaran. Apa yang dimaksud Satria dengan 'mencari kebenaran'? Dan di mana dia sekarang?

Dengan hati berdebar, kami meninggalkan rumah itu. Tekad kami bulat: kami akan menemukan Satria. Aku dan Nisrina tahu satu hal pasti- kami tidak akan berhenti sampai rahasia di balik hilangnya Satria terungkap.

Almost ThereTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang