Waktu kami mulai menipis, kami memutuskan untuk kembali ke tempat awal perjanjian dengan Mang Oleh. Berbekal peta yang kami bawa, kami berhasil kembali tepat waktu. Kami mendirikan tenda di sekitar lokasi itu, bersiap untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Waktu libur sekolah hampir habis, dan setiap detik terasa berharga.
Orangtua kami tentu mulai cemas. Mereka pasti bertanya-tanya ke mana kami sebenarnya pergi.
Keesokan paginya, kami membereskan tenda dan mulai menapaki jalan pulang. Di perjalanan, suasana hening-setiap langkah mengingatkan kami pada petualangan yang baru saja kami lalui. Ada rasa lega karena selamat sampai tujuan, tapi ada juga perasaan kosong, seolah sebagian dari kami masih tertinggal di pulau Neymark.
Keesokan harinya, perahu Mang Oleh sudah siap menjemput kami. Tepat pada hari ke-10, pukul dua belas siang, kami menaiki perahu yang sederhana namun kokoh itu. Angin laut bertiup lembut, membawa aroma asin yang segar, sementara matahari bersinar hangat di atas kepala.
Perjalanan dimulai dengan riak-riak kecil yang memecah permukaan laut. Mang Oleh mengemudikan perahunya dengan tenang, sesekali menunjuk pulau-pulau kecil yang kami lewati. Setiap pandangan ke arah Neymark membuat hati kami terasa berat-kami meninggalkan pulau yang penuh misteri, tapi juga pengalaman yang tak terlupakan.
Selama perjalanan, kami berbincang tentang petualangan kami di pulau itu: gua-gua tersembunyi, harta karun alam yang menakjubkan, dan rahasia yang hanya kami ketahui. Namun, di balik tawa dan cerita itu, ada rasa haru yang tak bisa diungkapkan-seolah meninggalkan Neymark berarti melepaskan sebagian dari diri kami sendiri.
Beberapa jam kemudian, garis pantai Sunda Kelapa mulai terlihat di kejauhan. Kota tua dengan pelabuhannya yang sibuk menyambut kami dengan suara perahu yang berderu, pedagang yang menawarkan dagangan, dan aroma laut yang bercampur dengan rempah-rempah dari kapal-kapal dagang. Kami merasa lega, namun sekaligus sedih, karena petualangan kami di Neymark telah usai.
Saat perahu bersandar, kami menapak di dermaga Sunda Kelapa dengan hati penuh cerita. Mang Oleh tersenyum dan berkata, "Neymark akan selalu menunggu kalian, tapi dunia nyata juga butuh kalian kembali."
Kami mengangguk, menyadari bahwa pengalaman itu telah mengubah cara kami melihat dunia-lebih berani, lebih bijaksana, dan lebih ingin mencari misteri lain yang mungkin menunggu. Dengan langkah pasti, kami meninggalkan perahu, membawa kenangan Neymark bersama kami, dan memasuki kehidupan baru di kota yang ramai itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Almost There
AdventureBermulai dari mimpi, petualanganku menjadi nyata. Sebuah pulau yang tak terpeta dan akhir petualangan yang tak terduga. Dan akhir petualangan yang penuh tanda tanya.
