Menelusuri Sungai

24 18 0
                                        

Sebatang sungai panjang berliku membelah Pulau Neymark menjadi dua bagian. Airnya jernih berkilau, mengalir di antara bebatuan. Kedalamannya hanya selutut, atau paling dalam sepinggang Satria. Jauh di atas sana, samar-samar terlihat hutan kecil menghijau, menyelimuti punggung gunung.

"Hei, ada perahu kecil di tepi sana!" seruku riang.

"Barangkali milik survivor sebelumnya," tebak Satria.

"Atau mungkin mereka nggak selamat? Apa mereka masih hidup?" tanya Nisrina cemas.

Aku dan Satria saling pandang lalu menggeleng. Tanpa banyak pikir, Satria menceburkan diri ke sungai, melangkah menuju perahu yang tertambat di tepi. Ia menariknya ke arah kami.
"Yuk, naik," katanya.

"Yuk," sahutku dan Nisrina bersamaan.

Satria pun mulai mendayung.

Di balik kejernihan air, tampak ikan-ikan berwarna-warni, ada yang kecil, ada yang besar. Beberapa bentuknya unik, belum pernah kulihat sebelumnya. Mungkinkah ada spesies langka di sini? Rasanya seperti melihat potongan surga tersembunyi.

Kanan kiri sungai dipenuhi pepohonan rimbun. Tajuk-tajuk tinggi menutupi langit, batang-batang kokoh berjajar di bawahnya, sementara lantai hutan dipenuhi perdu, semak, dan gulungan dedaunan kering. Daun, ranting, bunga, dan buah yang gugur membentuk lapisan humus subur-rumah bagi serangga dan mikroorganisme tak terhitung.

Aku tertegun. Inikah Firdaus yang dikisahkan dalam kitab suci? Hati kecilku bersyukur bisa menyaksikan keindahan yang belum pernah kutemui sebelumnya.

Namun, di balik kejernihan air yang menenangkan, ada sesuatu yang membuat bulu kudukku meremang. Ikan-ikan itu bergerak terlalu seragam, seolah mengikuti irama tak kasatmata. Sekilas, aku melihat satu di antaranya menatap lurus ke arahku—matanya hitam pekat, dingin, bukan seperti mata ikan biasa. Perahu bergoyang pelan diterpa arus, dan entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang mengikuti kami di bawah permukaan.

Satria terus mendayung, riak air terdengar berpadu dengan dentuman dayung kayu. Tiba-tiba, Nisrina menepuk lenganku. “Lihat itu!” bisiknya kaget.

Di tepi sungai, di antara pepohonan rimbun, tergantung sehelai kain kusam berwarna merah, terikat pada dahan rendah. Angin membuatnya berkibar pelan, seperti penanda yang sengaja ditinggalkan. Tak jauh dari situ, batang pohon besar tampak tergores—sebuah tanda silang yang dalam, seolah dipahat dengan benda tajam. Atau kuku besar dan tajam, bulu kudukku bergidik. Kok aku malah menakuti diriku sendiri, hatiku mengomel.

Aku merasakan perutku menegang. “Ada orang lain di pulau ini…” gumamku lirih.

"Atau.. makhluk lain," Satria bergumam pelan.

Satria terdiam, mendayung lebih lambat. Suasana hutan mendadak terasa terlalu hening, seakan semuanya sedang mengawasi.










Almost ThereTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang