Di tengah hutan, kami berhenti sejenak untuk melihat peta.
"Guys, kita pulang aja yuk... nanti gue-" Nisrina mulai lagi dengan keluhannya.
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Satria langsung memotong,
"Ayolah, Nis... stop deh gerutu lo. Kita udah sejauh ini, masa mau balik lagi? Lagi pula, Mang Oleh baru datang sembilan hari lagi."
"Gue cuma takut aja... orang tua kita bisa tau kebenarannya kapan aja. Cepat atau lambat pasti ketahuan juga," elak Nisrina dengan wajah khawatir.
Aku pun mulai ikut resah. "Iya juga sih... gue takut nyokap gue curiga. Kalau nyokap nanya ke teman sekelas atau ke wali kelas, gimana coba?"
Satria mendesah. "Come on, girls. Gitu doang panik? Gue sih aman, nyokap-bokap udah ngijinin asal gue jaga diri. Kenapa kalian nggak jujur aja dari awal? Lama-lama juga ketahuan."
Aku dan Nisrina langsung terdiam. Rasanya seperti kena tampar ucapan Satria-kena mental.
"Enak banget lo ngomong. Lo kan cowok, sering traveling. Kita cewek, Sat! Kalau sampai hilang, siapa yang tanggung jawab?" Nisrina mengomel lagi.
"Udahlah, stop debat. Sekarang fokus. Selanjutnya kita ke mana, Mel?" Satria menoleh padaku.
Aku mengeluarkan peta, menelitinya dengan seksama. "Ke arah sungai. Itu jalur berikutnya." Aku menunjuk ke arah selatan, di mana hamparan semak luas menunggu, seperti layer kedua pulau ini setelah pasir putih pantai.
Nisrina mendengus. "Ke sungai? Kalau ada hewan buas gimana?"
"Ya ampun, lo tuh dari tadi ngedumel mulu, Nis! Ikutin aja petunjuknya, ribet banget sih," sahut Satria kesal.
Nisrina langsung ngedumel panjang, "Ya gimana, gue kan udah ke salon, perawatan kuku, kulit, bersihin tangan... kalau nanti-"
Kalimatnya mendadak terputus. Ia menatap ke bawah dengan wajah pucat.
Langkah kami terhenti. Kaki terasa aneh. Berat. Seolah-olah tanah menelan kami perlahan.
"Kok kaki gue susah diangkat?" tanyaku panik.
Satria langsung berseru, "Pasir hisap!"
"Apa?!" aku dan Nisrina menjerit bersamaan.
"Ini pasir hisap. Tenang, jangan gerak panik!" jelas Satria cepat.
"Duh, keluarin gue dari sini! Gue nggak mau mati di hutan kayak gini!" Nisrina meronta.
"Hei! Jangan banyak gerak, Nis! Makin lo meronta, makin tenggelam! Tenang!" bentak Satria mencoba menahan kepanikan.
Aku menahan napas, mencoba tidak bergerak. Tubuhku memang terus turun perlahan, tapi tidak secepat yang kupikir.
Satria menjelaskan cepat sambil berusaha mencari akal, "Pasir hisap itu campuran pasir, air, dan tanah liat. Kalau kita diem, biasanya cuma sampai pinggang aja. Kita nggak akan mati kecuali kepala ikut kebawa tenggelam. Jadi jangan panik! Kuncinya: gerak pelan, jangan maksa!"
Aku mengangguk, meski jantungku berdegup kencang. Perlahan aku mencoba menenangkan Nisrina yang masih meronta.
"Nis, dengerin Satria. Kita bisa keluar. Pelan-pelan, jangan banyak gerak. Kita pasti bisa!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Almost There
AdventureBermulai dari mimpi, petualanganku menjadi nyata. Sebuah pulau yang tak terpeta dan akhir petualangan yang tak terduga. Akhir petualangan yang penuh tanda tanya.
