Aku sudah tidak kuat lagi dengan perasaanku. Aku rasa perasaan ini sudah terlalu lama terpendam, dan api cemburu dalam diriku semakin membara. Aku memutuskan bahwa sudah saatnya mengungkapkan perasaan ini pada Satria
Suatu hari, ketika aku berada di dalam tenda, dari kejauhan aku melihat Nisrina dan Satria tengah mengobrol. Rasa penasaranku untuk menghampiri mereka cukup tinggi, namun keberanian yang selama ini kukumpulkan hilang seketika. Apakah Satria sudah menyatakan perasaannya pada Nisrina? Aku pun memilih tetap di tenda sampai matahari pagi muncul.
Keesokan harinya,
Aku masih merasa terombang-ambing oleh pertanyaan semalam. Saat matahari menembus kain tenda, aku sadar tak bisa lagi menunda. Jantungku berdegup cepat, tanganku dingin dan gemetar, tapi aku mencoba menenangkan diri. Kali ini aku harus berani.
Aku keluar tenda, mencari Satria. Setelah berkeliling, akhirnya aku melihat dia dan Nisrina duduk di pinggir sungai, tertawa kecil seakan tak ada beban. Perutku terasa mual, tapi aku memaksa langkahku mendekat.
“Sat, Nis… boleh kan gue ngomong sebentar?” suaraku keluar bergetar, hampir pecah.
Mereka saling pandang, lalu mengangguk. Aku menarik napas dalam-dalam, tangan mengepal, lutut serasa lemas.
“Dua hari yang lalu, gue sadar… perasaan gue ke lo, Sat… udah terlalu lama gue pendam. Gue gak bisa sembunyiin lagi. Gue cinta sama lo.” Ucapanku pecah di ujung kalimat, mataku berair.
Satria terdiam. Wajahnya menegang. Aku bisa melihat matanya bimbang—antara bingung, sedih, sekaligus ragu. Ia membuka mulut, menutupnya kembali, seakan mencari kata yang tepat. Akhirnya, ia menatapku lurus dengan sorot penuh empati.
“Mel… gue hargai banget keberanian lo. Tapi… gue gak bisa kasih jawaban yang lo harapin. Gue anggap lo teman. Teman yang penting. Gue gak mau nyakitin lo dengan janji yang gak bisa gue tepati.” suaranya lembut, tapi tegas, seolah ia sendiri terluka harus mengatakannya.
Dadaku terasa sesak, pipiku panas menahan tangis. Dari sudut mataku, Nisrina menunduk. Ia meraih tanganku pelan, wajahnya penuh simpati—tapi ada sesuatu lagi di matanya: rasa bersalah.
“Mel… maafin gue. Gue tau dari awal lo suka sama Satria. Kadang gue ngerasa lo cemburu, tapi gue pura-pura gak peduli. Sekarang gue jadi ngerasa bersalah.” Suaranya lirih. “Lo hebat, Mel. Bisa ngomong sejujurnya. Gue bahkan gak berani.”
Aku terdiam. Hati hancur, tapi sekaligus lega. Setidaknya semuanya terbuka.
Namun sebelum suasana semakin larut, tiba-tiba terdengar suara aneh dari balik pepohonan. Seperti desir angin bercampur geraman rendah. Satria langsung berdiri waspada, menatap ke arah hutan lebat.
Aku menoleh, dan untuk sesaat aku melihat sesuatu bergerak cepat di antara pepohonan. Bayangan besar. Samar, tapi nyata.
Aku menahan napas.
Pulau Neymark… sepertinya belum selesai menguji kami.
KAMU SEDANG MEMBACA
Almost There
AdventureBermulai dari mimpi, petualanganku menjadi nyata. Sebuah pulau yang tak terpeta dan akhir petualangan yang tak terduga. Akhir petualangan yang penuh tanda tanya.
