Perahu mulai bergerak pelan meninggalkan dermaga. Belum jauh, anak-anak kecil berusia sekitar sepuluh tahun berenang mengelilingi perahu kami. Dengan wajah riang mereka melambaikan tangan sambil berteriak,
"Ayo, Kakak! Lempar uangnya, Kakak!"
Kami saling berpandangan, bingung dengan tingkah mereka. Mang Oleh yang sejak tadi tenang akhirnya menjelaskan,
"Itu permainan mereka. Orang di perahu biasanya akan lempar koin, mereka akan menyelam untuk mengambil. Bukan soal uangnya, tapi sensasi berburu koin itu yang bikin mereka senang. Turun-temurun sudah jadi kebiasaan di sini. Walau... sebenarnya bahaya."
Aku menatap anak-anak itu, antara kagum dan kasihan.
Langit Jakarta pagi itu cerah. Perahu terus melaju ke tengah laut. Semakin jauh, pelabuhan Sunda Kelapa mengecil dan akhirnya hilang dari pandangan. Ombak mulai terasa, perahu bergoyang lembut. Tiba-tiba beberapa ekor lumba-lumba muncul, melompat-lompat seolah mengiringi perjalanan kami.
Di tengah Laut Jawa, angin kencang menerpa wajah, langit biru membentang luas, dan laut tak bertepi. Kami hanyalah titik kecil di tengah bahari. Aku hampir lupa rasa takut, sampai pandangan mataku menangkap sesuatu di kejauhan.
Awan hitam.
Bergulung perlahan, makin lama makin pekat. Tak butuh waktu lama, angkasa berubah muram. Ombak berhenti. Angin lenyap. Laut mendadak rata, seolah mati. Udara pun terasa ganjil-tidak panas, tidak dingin, hanya anyep. Nafas menjadi berat, seperti ada beban menekan dada.
Gelap. Cahaya hilang. Aku bahkan hanya bisa melihat samar wajah Nisrina dan Satria yang duduk tepat di sebelahku.
"Guys... gimana nih? Gue nggak mau mati di sini," oceh Nisrina panik.
Tiba-tiba-dug! Mesin perahu mati. Sunyi sekali, hanya suara degup jantungku yang kudengar.
"Gimana ini, Mang?" tanyaku, hampir menangis.
Mang Oleh tetap tenang. Ia mengambil dayung dan mulai mengayuh perlahan. "Tenang, Neng. Kalau sudah begini, tandanya kita hampir sampai. Ini perbatasan zona pulau."
"Zona... apa?" bisikku bergidik.
Nisrina tiba-tiba mengangkat ponselnya. "Guys! Lihat! HP gue blank!"
Layar ponselnya hitam pekat, padahal aku tahu baterainya penuh. Aku dan Satria buru-buru mengecek ponsel masing-masing-hasilnya sama. Mati total.
Keheningan itu terasa sangat lama, sampai akhirnya secercah cahaya merembes menembus kegelapan. Pelan-pelan, suasana kembali terang. Angin kembali berembus lembut, meniup wajahku. Layar perahu pun kembali mengembang.
"Kita hampir sampai," kata Mang Oleh sambil menunjuk ke depan.
Aku memicingkan mata. Samar-samar tampak daratan. Burung-burung camar beterbangan di atasnya. Semakin dekat, pulau itu menampakkan diri.
"Almost there," bisikku lega.
Pulau Neymark. Tidak besar, tapi juga tidak kecil. Pantai berpasir putih membentang, air lautnya jernih berkilau.
Perahu hijau Mang Oleh merapat di sebuah dermaga kayu tua di tepi pantai. Kami turun hati-hati, meniti bebatuan kecil, hingga akhirnya kaki kami menjejak pasir putih. Ujung celanaku basah tersapu ombak.
Mang Oleh tak ikut turun. Ia hanya berdiri di perahu, menatap kami.
"Sepuluh hari lagi saya kembali. Tepat jam dua belas siang, matahari tegak lurus. Saya tunggu di dermaga ini. Lewat satu jam, saya pergi." Suaranya lantang, seperti peringatan.
Aku dan Satria mengangguk, melambaikan tangan. Mang Oleh berbalik, mendayung perahunya menjauh, meninggalkan kami bertiga.
"Guys... gimana kalau dia nggak balik? Kita kejebak di sini?" Nisrina kembali cemas.
"Tenang, Nis. Sepuluh hari lagi dia pasti datang. Sekarang nikmati dulu udara segar ini," ujarku, mencoba menenangkan.
"Betul. Ada gue sama Melati kok, lo nggak sendirian," tambah Satria.
Setelah suasana agak reda, aku mengeluarkan peta rahasia dari tasku. Kami bertiga menunduk, meneliti dengan saksama. Setelah memahami arah pertama, kami pun melangkah masuk ke dalam hutan, meninggalkan pantai putih di belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Almost There
AdventureBermulai dari mimpi, petualanganku menjadi nyata. Sebuah pulau yang tak terpeta dan akhir petualangan yang tak terduga. Dan akhir petualangan yang penuh tanda tanya.
