Petualangan Di Bukit Neymark

32 17 0
                                        


Setelah lolos dari kegelapan gua dan teror monster, perjalanan kami ternyata masih jauh dari akhir. Kami terus melangkah menyusuri hutan pantai yang memukau. Pasir putih berkilauan diterpa sinar matahari sore, seakan berusaha menghibur kami di tengah rasa penat yang menumpuk.

Namun keindahan selalu beriringan dengan ujian. Beberapa hari kemudian, langkah kami membawa ke daerah berbatu terjal. Angin dingin mulai menusuk kulit—tanda bahwa pegunungan kian dekat, dan jalur akan semakin berat. Kami membuka ransel dan memakai jaket.

“Girls, hati-hati. Medannya licin dan berbahaya,” kata Satria, menunduk menatap kompas di tangannya.

Sungguh seorang pengembara sejati, batinku lirih.

“Pegangan satu sama lain. Jangan sampai lengah,” lanjutnya.

Kami menuruni lembah dalam, lalu kembali menyeberangi sungai berarus deras. Setiap pijakan terasa seperti ujian baru, menuntut tenaga dan kesabaran. Nisrina, seperti biasa, terus saja mengoceh tentang hal-hal yang ia takutkan—meski sebagian besar hanyalah bayangan ketakutannya sendiri.

Tapi entah bagaimana, semangat untuk menaklukkan pulau ini tetap menyala. Ada sesuatu yang terasa memanggil kami dari kedalaman hutan Neymark.

Malamnya, kami mendirikan tenda di tepi sungai. Api unggun menyala, mewarnai wajah kami dengan cahaya oranye. Di sela deru angin dan gemericik air, kami bercakap, tertawa, dan untuk sesaat lupa bahwa pulau ini menyimpan misteri gelap. Malam itu, alam mempertemukan kami dalam kehangatan yang tulus.

Hari-hari berikutnya tak kalah berat. Hujan turun tanpa ampun, kabut pekat membatasi pandangan, dan cuaca berubah sekehendak hati. Namun dari setiap tantangan kami belajar—untuk saling mengandalkan, untuk tetap bijak di tengah ketidakpastian, dan untuk berpegang teguh pada tekad: menuntaskan perjalanan ini.

Lima hari berlalu, hingga akhirnya siluet Bukit Neymark menjulang di hadapan. Di sanalah, menurut legenda, tinggal makhluk kera misterius yang sempat kami lihat di gua. Perasaan kami bercampur: gugup, takut, tapi juga ada nyala keberanian yang tak terbendung.

“Sepertinya kalau kita mau lanjut, kita harus mulai pendakian ke Bukit Neymark,” ucapku sambil menatap peta lusuh di tanganku.

“Jangan sampai terpisah. Kalau nyasar, bisa bahaya,” tegas Satria.

“Ah… aku nggak mau. Mama aku… aku mau pulang,” rengek Nisrina tiba-tiba sambil memeluk lengan Satria.

Aku tercekat. Ada perasaan aneh menyelinap di dadaku melihat mereka begitu dekat. Apa… aku menyukai Satria?

Nisrina buru-buru melepas pelukan itu. “Maaf, Tria,” katanya dengan wajah menunduk.

“Gapapa, Nis,” jawab Satria sambil tersenyum menenangkan.

Namun aku tak bisa menyingkirkan tatapan Nisrina yang sekilas terasa berbeda. Apa aku hanya berkhayal? Ah, sudahlah. Lebih baik aku fokus pada peta dan menatap jalur di depan.

Kami kembali melangkah, kaki menapaki jalan terjal menuju puncak Neymark. Misteri apa yang menunggu di atas sana, kami belum tahu. Tapi yang pasti, perjalanan ini telah menempa kami—menguji nyali, membakar ketangguhan, sekaligus mengikat persahabatan yang mungkin akan kami kenang sepanjang hidup.

Almost ThereTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang