Dikejar Monster

23 17 0
                                        


Semakin jauh perahu melaju, semakin banyak tanda aneh yang kami temukan. Di tepi sungai, terlihat bekas pijakan kaki di tanah berlumpur, masih basah, seolah baru saja dilewati seseorang. Beberapa dahan patah, meninggalkan jejak jalur menuju hutan.

“Kayak ada yang sengaja nunjukkin jalan,” bisikku, meski suaraku sendiri bergetar.

Nisrina menggenggam tanganku erat, matanya terus menatap ke arah semak. Dari balik pepohonan, samar-samar terdengar bunyi ranting patah, tapi ketika Satria menoleh, tak ada apa pun di sana selain bayangan gelap.

Air sungai makin dangkal, dayung Satria akhirnya menyentuh dasar. “Kita harus menepi,” katanya tegas. Perahu pun merapat ke tepian, tepat di bawah sebuah pohon besar yang akarnya menjuntai seperti jemari raksasa. Di sana, kami menemukan sesuatu yang membuat darahku berdesir: sepasang sandal usang, basah, ditinggalkan begitu saja di atas batu. "Makhluk apa yang make sendal?" Desisku pelan nyaris tak terdengar

Satria mengikat perahu pada akar pohon yang menjulur, lalu melompat ke daratan. Aku dan Nisrina menyusul, merasakan tanah lembap menempel di tapak sepatu kami. Suasana terasa lebih lapang di sini—cahaya matahari berhasil menembus sela dedaunan, menebarkan kilau hangat ke permukaan tanah yang dipenuhi lumut.

Aku menarik napas panjang. Aroma hutan basah bercampur dengan wangi bunga liar yang tumbuh di semak membuat dadaku sedikit lega. Burung-burung kecil beterbangan dari dahan ke dahan, kicau mereka menutupi keheningan yang sempat mencekam di atas perahu.

“Kita istirahat sebentar saja,” kata Satria sambil menurunkan tas ranselnya. Ia duduk di atas akar besar, mengambil botol minum, lalu menenggaknya cepat.

Nisrina pun duduk di sebelahku. “Aku masih deg-degan… tapi tempat ini cantik juga, ya,” katanya dengan senyum tipis, seakan berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Kami membuka gulungan kertas tua. Menurut peta, langkah berikutnya adalah menuju barat hutan arah menuju sebuah gua.

"Itu arahnya," ujar Satria sambil menunjuk ke rimbunan semak padat. Pepohonan tinggi dan perdu berduri berjajar rapat, seolah sengaja menutupi jalan.

Dengan rasa perih di lengan dan kaki akibat goresan ranting berduri, kami menerobos belukar yang seakan membentengi sesuatu. Beberapa langkah kemudian, samar-samar terlihat sebuah lubang bulat tak rata, lebih gelap dari rerimbunan di sekitarnya.

"Itu gua!" teriak Nisrina penuh lega.

Kami saling pandang, lalu tersenyum tipis meski wajah penuh peluh. Satria segera mengumpulkan ranting, jerami, dan daun kering. Ia mengikat ranting-ranting besar menjadi beberapa bundel, membuat obor. Sigap sekali dia, batinku. Ya, tanpa cahaya kami takkan bisa menembus kegelapan itu.

Kami masuk perlahan. Stalaktit putih seperti gumpalan kain menggantung di langit-langit gua. Lantainya dipenuhi batu besar-kecil, tak rata, membuat langkah kami goyah.

Suara tetesan air terdengar bergema, ritmenya lambat namun menusuk telinga di tengah sunyi gua. Nyala obor Satria menari di dinding batu, memperlihatkan goresan-goresan aneh—seperti ukiran atau simbol kuno—yang tak pernah kulihat sebelumnya.

“Apa ini… tulisan?” bisikku sambil meraba ukiran yang terasa kasar dan dingin.

Nisrina menelan ludah. “Tapi… siapa yang buat? Jangan-jangan pulau ini pernah ditinggali orang.”

Obor bergoyang, bayangan di dinding tampak bergerak sendiri, lebih panjang dan meliuk, seakan makhluk asing tengah mengintai kami. Udara makin pengap, dingin menusuk tulang.

Satria berhenti sejenak, menunduk memperhatikan sesuatu di lantai gua. Kami ikut menyorotkan obor ke sana. Sebuah bekas api unggun, masih ada arang hitam dan serpihan tulang kecil di sekitarnya.

“Ini… nggak mungkin baru,” kata Satria lirih.

Aku merasakan bulu kudukku merinding. Gua ini bukan sekadar tempat kosong. Ada yang pernah—atau mungkin masih—berada di sini.

Tiba-tiba... tap... tap... tap... terdengar suara langkah dari sudut gelap gua.

"Suara apa itu?" bisikku dengan tubuh gemetar.

Hening. Suara itu hilang. Tapi tak lama kemudian, grrrrhhh... suara gemuruh dan geraman memenuhi ruangan. Sesosok bayangan besar muncul dari balik kegelapan. Kami menjerit berlarian tanpa arah.

Aku spontan berlari, napas tersengal, dada seakan terbakar. Dari belakang, terdengar hentakan langkah berat, menggetarkan lantai gua—makhluk itu mengejarku. Dalam kepanikan, tanganku meraba-raba dinding, mencari pegangan, namun justru menggenggam sesuatu yang keras dan dingin.

Kilauan emas menyilaukan mataku—sebuah kalung bertatahkan permata dan berlian. Aku tak sadar kapan meraihnya, hanya naluri panik yang membuat tanganku menyambar apa pun yang ada di dekatku. Batu-batu mulia itu memantulkan cahaya obor, menebarkan sinar berkilau ke sekeliling dinding gua.

Dan justru cahaya itulah yang membuatku semakin terpojok. Bayangan besar sang monster bergerak cepat, mengikuti kilau perhiasan di genggamanku. Semakin aku berlari, semakin jelas ia menjejak di belakangku, seolah permata ini menjadi penunjuk arah bagi kegelapan yang memburunya.

Aku tersudut di lorong buntu. Nafasku memburu, keringat dingin mengalir. Monster itu mendekat, geramannya menggema di dinding batu.

Dari celah-celah gua, bermunculan kaki seribu, merayap di dinding. Beberapa jatuh ke wajahku, kulitku merinding, ketakutan makin menjadi. Sementara itu, monster sudah bersiap melompat.

Aku menunduk, menutup wajahku.

Rawrrrrr!
Rawrrrr!

Monster itu melompat ke arahku. Bayangan tubuhnya yang raksasa menutupi cahaya obor, membuat lorong gua terasa lebih gelap. Aku hanya bisa menunduk, tubuh gemetar, menunggu rasa sakit menyergapku.

Namun-sesuatu menghantam keras lantai gua. Bumm! Suara retakan batu menggema. Aku mendongak perlahan... monster itu tidak mengenai tubuhku. Ia berhenti, berdiri tegap, seolah ada sesuatu yang menahannya.

"Melatiii!" terdengar suara Satria dari kejauhan. Obornya terangkat tinggi, wajahnya tegang. Di sampingnya Nisrina berteriak panik, "Lari, Mel! Lari!"

Monster itu menoleh ke arah mereka, matanya menyala merah menyilaukan. Sesaat aku merasa lepas-tapi kemudian sadar, makhluk itu kini memiliki dua target: aku... dan mereka.

Aku meremas kalung permata di tanganku, sinarnya semakin terang, seakan-akan benda itu hidup. Monster meraung makin keras, lorong gua bergetar. Batu-batu kecil berjatuhan dari langit-langit.

Aku menjerit ketakutan.
Satria melangkah maju, mengangkat obornya.
Nisrina menangis, menggenggam lengannya.

Dan tepat ketika monster itu bersiap menyerang lagi-

Gelap.

Obor padam.
Suara raungan bergema.
Tak ada lagi yang bisa kulihat.

Almost ThereTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang