Taksi online kami berhenti di depan pelabuhan Sunda Kelapa, Penjaringan. Dari dermaga tampak deretan kapal Phinisi merapat. Kapal layar tradisional khas suku Bugis dari Sulawesi Selatan itu berdiri gagah dengan dua tiang utama dan tujuh layar. Truk-truk besar berjajar di bibir dermaga, menunggu giliran mengangkut atau menurunkan muatan. Bau asin laut bercampur dengan aroma solar dan asap rokok para buruh nelayan.
"Guys, kita harus ngapain sekarang?" tanya Nisrina. Matanya gelisah, memandangi kerumunan orang asing.
"Coba buka petanya," kata Satria.
"Kita belum sampai pulau, Sat," sela Nisrina.
"Iya, tapi siapa tahu ada petunjuk."
Aku mengeluarkan peta dan menyerahkannya pada Satria. Ia meneliti sebentar, lalu berkata, "Di peta ini tertulis kita harus cari Mang Oleh, pemilik perahu sewa yang bisa mengantar ke Pulau Neymark."
"Oh iya! Perahu Mang Oleh. Kok aku bisa lupa," sahutku.
Kami pun mulai bertanya pada orang-orang sekitar: tukang sapu, pedagang rokok, sampai ibu penjual nasi. Semua menggeleng, tak ada yang mengenal nama itu.
"Guys, gimana ini?" keluh Nisrina.
"Sabar. Baru nanya segelintir orang, masih banyak di sini," jawab Satria, tetap optimis.
Sampai akhirnya, aku melihat seorang lelaki tua duduk di tanggul pinggir dermaga. Ia asyik mengisap rokok kretek, asapnya mengepul ke udara. Ada sesuatu pada sosoknya yang menarik perhatianku.
"Kita tanya bapak itu aja," kataku pelan. Entah kenapa, hatiku langsung menunjuknya.
Kami bertiga menghampiri.
"Permisi, Pak," Satria membuka suara. "Kenal sama Mang Oleh, tukang perahu sewa?"
Si bapak tua hanya melirik sekilas. Ia tak menjawab, hanya terus mengisap rokok, seolah menimbang sesuatu.
"Pak, tau nggak Mang Oleh?" tanyaku lagi. Pandangan lelaki tua itu malah menyapu diriku dari ujung kepala sampai kaki. Aku jadi tak nyaman, apakah ada yang salah dengan pakaianku?
Aku berinisiatif mengeluarkan sedikit peta dari tasku. Nisrina dan Satria langsung memberi kode agar cepat kusimpan kembali, tapi terlambat-bapak tua itu sudah melihatnya. Matanya mendadak tajam.
"Dari mana kamu dapat kertas itu?" tanyanya penuh selidik.
"Dari seorang lelaki tua, saat aku pulang sekolah," jawabku hati-hati.
Ia menunjuk seseorang di dekat sebuah perahu layar. "Kalau begitu, cari dia." Lalu ia kembali tenggelam dalam rokoknya.
Kami segera menghampiri sosok yang ditunjuk: seorang kakek berkulit cokelat, tubuhnya masih berotot meski renta. Pakaian lusuh menempel di tubuhnya, dan topi merah pudar bertengger di kepalanya.
"Maaf, ini Mang Oleh?" tanya Nisrina.
"Siapa Mang Oleh?" jawab si kakek datar.
"Yang suka sewakan perahu," tambah Satria.
"Ngapain nyari dia?" Kakek itu menatap tajam, seolah ingin membaca isi hati kami.
"Bisa tolong antar kami ke pulau?" ucap Satria.
Kakek itu tampak gugup, lalu meneliti kami satu per satu, dari kepala sampai kaki.
"Pulau apa?" tanyanya pelan.
"Pulau Neymark," jawabku jujur.
Satria berbisik, "Mel, keluarin petanya."
Aku mengeluarkan sedikit ujung kertas itu.
Kakek itu langsung terdiam. Matanya berubah serius. "Kertas itu... dari mana kalian dapat?"
Aku pun menjelaskan lagi asal-usulnya.
Akhirnya, ia berkata lirih, "Saya Mang Oleh."
"Kenapa nggak bilang dari tadi, Pak?" gerutu Nisrina. Aku cepat menyikut tangannya.
"Saya hanya akan mengantar sampai pulau. Setelah itu, kalian sendirian. Sepuluh hari lagi, tepat jam dua belas siang, saya tunggu di titik yang sama. Kalau lewat satu jam kalian tak muncul, saya tinggalkan."
Kami saling berpandangan. Kata-katanya berat, seperti memberi peringatan.
"Sudah siap dengan risikonya?" tanya Mang Oleh.
"Risiko?" Nisrina menelan ludah.
"Ongkosnya satu juta rupiah sekali jalan. Tidak termasuk pulang. Gimana? Deal?" Tatapannya menusuk, seakan menguji keberanian kami.
Aku makin penasaran dengan pulau misterius itu. Nisrina jelas cemas. Satria diam, tapi matanya berkilat.
"Deal," jawabku mantap, mengeluarkan sepuluh lembar seratus ribuan. Mang Oleh menerima tanpa menghitung, lalu menyimpannya begitu saja.
"Perahu saya yang hijau itu," katanya menunjuk. Perahu kayu sekitar sepuluh meter panjangnya, ada empat kursi kayu panjang, sebuah tiang layar di tengah, dan motor tempel di buritan.
"Hati-hati melangkah, perahu agak goyang," ujar Mang Oleh sambil menahan tali tambat agar stabil. Kami pun naik satu per satu.
Rrrr... mesin motor tempel meraung. Perahu hijau itu perlahan meninggalkan dermaga, membawa kami menuju misteri Pulau Neymark. 🌊
KAMU SEDANG MEMBACA
Almost There
AbenteuerBermulai dari mimpi, petualanganku menjadi nyata. Sebuah pulau yang tak terpeta dan akhir petualangan yang tak terduga. Dan akhir petualangan yang penuh tanda tanya.
