Setiap hari, aku dan Nisrina terus berdiskusi, menggali memori tentang Satria dan perjalanan kami ke pulau Neymark. Kami merenungkan berbagai kemungkinan, mencari petunjuk baru, dan menelusuri setiap sudut pikiran dalam upaya menemukan jawaban atas kepergian teman kami.
Namun, meski tekad kami kuat, waktu terus berjalan tanpa memberikan kepastian. Pertanyaan-pertanyaan tentang Satria tetap menggantung di udara. Apakah ia masih berada di pulau itu, mencari kebenaran yang hanya ia tahu? Atau adakah misteri yang lebih dalam, yang belum terungkap oleh siapapun?
Dalam ketidakpastian itu, aku dan Nisrina tetap hidup dengan harapan. Kami saling menguatkan, menjaga satu sama lain, dan bersiap untuk menghadapi apa pun yang akan datang. Petualangan kami belum berakhir. Hilangnya Satria bukan hanya meninggalkan rasa kehilangan, tetapi juga menyalakan rasa penasaran dan keberanian yang lebih besar dalam diri kami.
Suatu malam, ketika kami duduk di tepi dermaga Sunda Kelapa, memandang ke arah laut Jawa yang tenang, Nisrina tiba-tiba berbicara, "Kalau Satria memang kembali ke Neymark, kita harus menemukannya. Kita nggak bisa biarkan teman kita hilang begitu saja."
Aku menatap ke arah gelombang yang berkilau diterpa cahaya bulan. "Ya... kita harus siap menghadapi apapun. Pulau itu mungkin penuh bahaya, tapi ini tentang Satria. Kita nggak boleh menyerah."
Dan dengan tekad itu, kami mulai merencanakan perjalanan baru, sebuah pencarian yang mungkin akan membawa kami kembali ke Neymark, atau bahkan mengungkap misteri yang lebih besar dari yang pernah kami bayangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Almost There
AventuraBermulai dari mimpi, petualanganku menjadi nyata. Sebuah pulau yang tak terpeta dan akhir petualangan yang tak terduga. Dan akhir petualangan yang penuh tanda tanya.
