Semakin tinggi kami mendaki, semakin asing rasanya pulau ini. Udara tipis membuat napas tersengal, tapi rasa penasaran menuntun kami untuk tidak menyerah. Jalur setapak berubah menjadi batu-batu terjal, seolah menuntun ke arah yang sudah lama menunggu kedatangan kami.
Hingga akhirnya—puncak Neymark terbuka di depan mata. Namun yang kami lihat membuat kaki kami terpaku.
Bukan sekadar puncak gunung. Di sana terbentang reruntuhan sebuah kota kuno. Pilar-pilar batu menjulang, meski sebagian besar sudah runtuh dimakan waktu. Dinding raksasa berdiri setengah hancur, dihiasi pahatan simbol-simbol asing yang berkilau samar diterpa cahaya matahari senja.
“Ya Tuhan…” bisikku, tak percaya dengan apa yang kulihat.
Nisrina tertegun, wajahnya pucat. “Kok bisa… ada kota sebesar ini di atas gunung?”
Satria melangkah maju, menyentuh pahatan yang sudah berlumut. “Ini… bukan sekadar reruntuhan. Ini bukti peradaban yang hilang. Dan mungkin… inilah rahasia Pulau Neymark.”
Kami berjalan perlahan di antara puing-puing. Ada jalan setapak batu yang masih utuh, seolah menuntun ke arah pusat kota. Di sana berdiri sebuah bangunan megah, menyerupai kuil atau istana. Pintu gerbangnya terbuat dari batu hitam, ukirannya rumit dan asing—terlalu rumit untuk ukuran manusia biasa.
Langkahku berhenti di depan pintu itu. Ada hawa dingin yang keluar dari celah-celahnya, seperti bisikan masa lalu yang belum tuntas.
“Perasaan gue… kita sedang membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur,” kataku lirih.
Satria menatapku, lalu menatap Nisrina yang sudah gemetar. “Tapi ini tujuan kita. Kita harus tahu apa yang ada di balik pintu ini. Kalau tidak, semua perjalanan kita sia-sia.”
Kami bertiga berdiri di hadapan pintu batu itu. Jantungku berdegup kencang, bercampur antara ketakutan dan rasa ingin tahu.
Dan saat Satria mendorong pintu perlahan, suara berat bergema dari dalam. Bau tanah lembap dan udara kuno menyeruak keluar.
Apa yang menunggu di balik pintu itu—entah harta, kebenaran, atau malapetaka—akan mengubah segalanya.
Petualangan kami di Pulau Neymark… baru saja memasuki inti terdalamnya.
Dalam keheningan reruntuhan, kami merasakan atmosfer kuno yang begitu kental. Setiap langkah kaki memantul sebagai gema di antara tembok-tembok batu yang retak. Cahaya matahari merayap masuk melalui celah-celah atap, memberi pencahayaan samar yang hanya mampu menyingkap sebagian ruangan gelap, sementara bayangan-bayangan panjang menari di dinding.
Satria berjalan di depan, matanya awas meneliti setiap detail, seolah mencari sesuatu yang bisa mengungkap misteri Pulau Neymark. Aku dan Nisrina mengikutinya dari belakang, sama-sama waspada, setiap sudut kami periksa dengan hati-hati.
Tiba-tiba Nisrina terperanjat. Nafasnya tertahan sebelum akhirnya berteriak pelan, "Lihat ini, guys!" Ia menunjuk sebuah lukisan besar di dinding batu.
Lukisan itu menggambarkan sekelompok orang yang berdiri di tepi pantai, menatap lautan luas. Di langit tergambar sosok makhluk raksasa mirip naga, dikelilingi kilatan cahaya yang menusuk mata.
Aku melangkah mendekat, jantungku berdegup tak menentu. "Apa ini legenda... atau sebuah peringatan?" bisikku, mencoba mencerna arti lukisan itu.
Satria mengangguk, wajahnya serius. "Gue yakin ini lebih dari sekadar legenda, girls. Ada sesuatu yang nyata di sini. Kita harus terus mencari tahu. Ingat, waktu kita cuma tinggal beberapa hari lagi sebelum Mang Oleh datang menjemput."
Semangat baru menyusup dalam diri kami. Dengan langkah hati-hati, kami melanjutkan penjelajahan, menyusuri lorong-lorong gelap yang seakan tak ada habisnya. Semakin jauh kami masuk, semakin kuat perasaan aneh yang menyelimuti-seperti ada sesuatu yang menunggu di setiap sudut.
Cahaya tipis yang menyelinap lewat celah-celah atap hanya cukup untuk menerangi langkah kami, tapi juga meninggalkan bayangan-bayangan menyeramkan yang bergerak di dinding retak.
Setiap petunjuk yang kami temui-lukisan kuno, simbol aneh, potongan artefak-bukannya memberi jawaban, justru menimbulkan pertanyaan baru. Misteri pulau ini terasa makin dalam, makin sulit dipahami.
Namun, rasa waspada yang terus tumbuh tidak membuat kami berhenti. Sebaliknya, tekad kami semakin kuat: apa pun yang tersembunyi di balik reruntuhan ini, kami harus mengetahuinya.
Dengan setiap langkah, kami makin dekat pada kebenaran. Kepala kami penuh dengan pertanyaan, tapi juga dengan keberanian yang tak tergoyahkan.
Lalu tiba-tiba... suara rantai berderak terdengar dari lorong gelap di depan kami. Suara itu berat, bergema panjang, seperti sesuatu yang besar sedang diseret di lantai batu.
Kami saling berpandangan, wajah pucat, tubuh kaku. Dari dalam kegelapan, samar-samar tampak bayangan raksasa bergerak perlahan, semakin lama semakin dekat. Tapi ... lalu senyap. Hening. Cuma suara napas kami terdengar.
Petualangan kami jelas belum berakhir. Sesuatu di pulau ini baru saja terbangun...
KAMU SEDANG MEMBACA
Almost There
AbenteuerBermulai dari mimpi, petualanganku menjadi nyata. Sebuah pulau yang tak terpeta dan akhir petualangan yang tak terduga. Akhir petualangan yang penuh tanda tanya.
