Terbebas Dari Monster

21 17 0
                                        

Aku menjerit, suaraku terputus dalam kegelapan. Jantungku seakan berdentum begitu keras hingga telingaku berdenging. Satria mengibas-ngibaskan obor yang padam, berusaha menyalakan kembali, tapi sia-sia.

“Jangan lepaskan aku!” tangis Nisrina sambil mencengkeram lengan Satria erat-erat.

Raungan mengerikan itu semakin dekat, langkah berat sang monster menggetarkan tanah di bawah kaki kami. Dalam panik, aku meraba sekeliling, dan jemariku menemukan aliran udara dingin—hembusan samar dari celah batu.

“Ke sini! Ada jalan!” teriakku sekuat tenaga.

Tanpa berpikir, kami merangkak menuju celah sempit di dinding gua. Batu-batu tajam menggores kulit, tapi tak ada pilihan lain. Monster itu meraung tepat di belakang, napasnya panas menghembus tengkukku.

Dengan tenaga terakhir, Satria mendorong tubuhku dan Nisrina masuk lebih dulu. Ia lalu memaksa dirinya menyusul, menendang runtuhan batu ke arah mulut celah, menutup sebagian jalan. Hingga tubuh monster yang tambun itu tak bisa masuk.

Suara gebukan keras terdengar, cakar-cakar menghantam batu, namun penghalang itu cukup memberi kami kesempatan. Nafas kami tersengal, tubuh gemetar, tapi gelap yang menelan kami kali ini terasa seperti perlindungan gua dalam gua.

Beberapa menit kemudian, suara raungan itu perlahan menjauh, hanya menyisakan dengung gua yang hening.

Kami merayap pelan mengikuti aliran udara dari celah batu itu. Semakin jauh kami merangkak, semakin terasa hembusan angin segar menyentuh wajah, membawa aroma dedaunan basah. Itu pertanda—ada jalan keluar di depan sana.

“Sedikit lagi… ayo terus,” desis Satria, meski napasnya masih terengah.

Lorong sempit itu akhirnya melebar, memberi ruang bagi kami untuk berdiri. Dari kejauhan tampak cahaya samar—bukan cahaya obor, melainkan cahaya matahari yang menembus celah. Kami berlari kecil, menyingkap akar-akar pohon yang menggantung di pintu keluar.

"Ayo, cepetan keluar!" teriak Satria.

"Itu pintu keluarnya, ayo!" teriak Satria sambil menunjuk lubang besar bercahaya di ujung gua.

Kami berlari ke arah cahaya pintu keluar gua. Begitu sampai di luar, udara segar menyapu wajah kami. Senja sudah turun, langit di atas hutan pantai berwarna jingga keemasan.

Akhirnya kami keluar dari gua, menghirup udara segar. Cahaya senja menyelimuti hutan pantai.

Namun pikiranku tak bisa lepas dari benda yang tadi sempat kupegang erat di tanganku. Kalung itu... entah kenapa lepas dari tanganku. Dalam kepanikan dan ketakutan merayap dalam lorong sempit tadi, kurasa. 

Yang penting akhirnya—kami keluar dari kegelapan. Udara hutan menyerbu paru-paru, segar sekaligus menenangkan. Burung-burung beterbangan kaget saat kami menerobos keluar dari lubang batu di kaki bukit.

Nisrina langsung berjongkok, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menangis lega. Aku menepuk bahunya pelan, sementara Satria berdiri tegak, menatap ke balik celah gua yang baru kami tinggalkan.

“Monster itu… nggak mungkin cuma bayangan. Dia nyata. Dan dia masih di dalam sana,” katanya dengan suara rendah.

Aku menelan ludah, masih gemetar, tapi untuk pertama kalinya sejak masuk gua, aku bisa melihat langit biru kembali.

Kami selamat. Tapi entah sampai kapan.

Kami duduk di rerumputan, membiarkan sinar matahari mengeringkan peluh dan debu yang menempel di wajah. Angin sore berembus lembut, menggoyangkan pucuk daun, membawa suara gemerisik yang menenangkan. Setelah kegelapan mencekam di dalam gua, cahaya dan suara alam ini terasa seperti hadiah.

Nisrina merebahkan diri, menatap langit biru di sela dahan pohon. “Aku masih nggak percaya kita bisa keluar hidup-hidup,” ucapnya lirih, matanya berkaca-kaca.

Aku tersenyum tipis, meski tubuh masih gemetar. “Kalau bukan karena Satria, mungkin kita masih terjebak di sana.”

Satria hanya menghela napas, lalu duduk bersandar pada batang pohon besar. “Kita harus tetap waspada. Pulau ini jelas menyimpan lebih dari sekadar hutan dan sungai.” Tapi nada suaranya lebih lembut, tidak setegang tadi.

Untuk beberapa waktu kami hanya diam, mendengarkan irama hutan. Aku mencoba menenangkan pikiranku dengan aroma tanah basah dan suara burung yang kembali bernyanyi. Sejenak, dunia terasa damai lagi, seakan monster tadi hanyalah mimpi buruk yang tertinggal di dalam gua.

Tubuh kami lelah, kaki terasa berat, hingga kami memutuskan untuk beristirahat. Tenda kembali kami bangun, api unggun kami nyalakan, lalu satu per satu kami terlelap.

Almost ThereTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang