Cuaca sore itu sudah tak terlalu panas. Matahari condong ke barat, waktu hampir Ashar. Aku berjalan di trotoar. Tiga ratus meter dari sekolah, berdiri sebuah restoran cepat saji. Tepat di seberangnya, ada Stasiun Commuter Line. Aku menyeberang jalan dan mengambil jalur di belakang stasiun, karena kompleks rumahku berada di sana.
Seorang lelaki tua keluar dari stasiun, melangkah ke arahku. Tatapan matanya tajam menelusuk, membuat dadaku berdesir. Aku berusaha tetap tenang. Jalan ini satu-satunya akses tercepat menuju rumah, jadi aku tak punya pilihan lain.
Saat berpapasan, lelaki tua itu menyapaku:
"Adek baru pulang sekolah?"
Ya iyalah, Kek. Memang pakai seragam begini mau ke pasar? pikirku dalam hati.
"Ada apa ya, Pak?" tanyaku, mencoba sopan.
"Anu, Dek... saya mau naik kereta. Tapi dompet saya hilang. Tiket dan uang ikut hilang. Apa... adek bisa bantu?"
Aku menduga ini modus penipuan. Tapi wajahnya tampak serius dan tulus.
"Keluarga saya sudah menunggu di rumah. Kalau boleh... tolonglah, Nak."
Aku jadi ragu. Rasa iba mengalahkan curiga. Kebetulan uang jajanku hari ini masih utuh, cukup untuk satu tiket sekali jalan. Aku menyerahkan uang itu kepadanya. Lelaki tua itu tersenyum lega.
Aku buru-buru melangkah pergi, tak mau banyak basa-basi. Tapi baru beberapa langkah, ia memanggilku lagi:
"Tunggu, Dek!"
Aku menoleh, agak curiga. Kurang, ya? batinku.
"Bapak punya sesuatu untukmu," katanya sambil mengeluarkan sebuah gulungan kertas dari balik bajunya. Ia menyodorkannya padaku.
"Apa ini, Pak?"
"Nanti saja bukanya kalau sudah sampai rumah." Tanpa berkata lagi, ia berbalik menuju stasiun.
Aku melanjutkan perjalanan pulang. Sesampainya di rumah, aku lupa dengan gulungan kertas itu. Setelah makan siang, orang tuaku mengajakku ziarah ke makam kakek, tepat setahun wafatnya beliau karena serangan jantung. Sepulang dari nyekar, tubuhku terasa lelah. Usai membersihkan diri, aku langsung tidur, bahkan sebelum jam delapan malam, tanpa sempat memikirkan kertas itu lagi.
Beberapa minggu kemudian, Minggu malam, ketika sedang menyiapkan buku untuk sekolah esok hari, aku tiba-tiba teringat kakek misterius di stasiun kereta. Dengan rasa penasaran, aku mengambil gulungan kertas itu dari laci meja belajarku.
Bahan kertasnya aneh-seperti kulit tipis, berwarna cokelat lusuh. Tinta di atasnya sudah agak pudar, tapi masih terlihat jelas gambar garis putus-putus membentuk jalur. Ada tanda panah, lautan, gunung, gua, dan di pojok kiri atas tercetak gambar mata angin. Di tengahnya, tertulis kata "Neymark" dengan huruf menyerupai ukiran kuno.
Aku menatap peta itu bingung. Apa ini?
Rasa kantuk tiba-tiba menyerang. Aku melipat kembali kertas itu dan memasukkannya ke laci. Besok saja kupikirkan.
Keesokan harinya aku bangun lebih awal, membantu Ibu menyiapkan sarapan. Keluarga kami kecil: Ayah, Ibu, kakakku Brine yang sedang kuliah di Bandung, dan aku si bungsu yang baru kelas 11 di salah satu SMA favorit Jakarta.
Siang itu di kantin sekolah, aku dan Nisrina kembali berdebat soal liburan.
"Mel, coba deh sekali ini aja. Bromo tuh beda," bujuk Nisrina. "Kalau lo suka pasir kayak di pantai, di Bromo juga ada hamparan pasir yang luas. Kalau lo suka pemandangan ke kaki langit, Bromo juga punya."
Aku menggeleng. "Tetap aja, pantai sama gunung beda. Udara segar pantai itu khas, ada aroma lautnya. Gunung nggak bisa gantiin itu."
Kami akhirnya tertawa karena sadar selera itu nggak bisa diperdebatkan.
Tiba-tiba Satria datang. Dia teman SMP-nya Nisrina, tinggi menjulang-hampir 180 cm, tubuhnya atletis karena anggota tim basket sekolah.
"Eh, kalian ngomongin apa?" tanyanya sambil duduk.
"Gue lagi ngerencanain liburan sama Melati," jawab Nisrina cepat. "Gue maunya ke Bromo, dia maunya pantai. Menurut lo, mana yang asyik?"
Satria nyengir. "Eh, gue ikut dong. Masa kalian berdua aja, butuh cowok lah biar aman."
"Ditanya apa, jawab apa," protes Nisrina.
Satria malah lanjut pamer. "Buat gue, gunung sama pantai sama aja. Gue udah ke banyak tempat. Pantai? Gili, Senggigi, Canggu, Kuta, Kretek. Gunung? Semeru, Rinjani, Bromo, Ijen, Kelimutu. Tinggal Puncak Jaya yang belum."
Aku melirik Nisrina. Kami saling menahan tawa.
"Gimana, Mel? Bantu nggak jawaban temen gue ini?" Nisrina menekanku.
"Bantu apanya? Malah nambah pusing," jawabku spontan.
Kami bertiga pun tertawa.
Namun di dalam hati, aku teringat gulungan kertas misterius itu. Apakah mungkin... liburan kali ini akan berbeda dari biasanya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Almost There
AvventuraBermulai dari mimpi, petualanganku menjadi nyata. Sebuah pulau yang tak terpeta dan akhir petualangan yang tak terduga. Akhir petualangan yang penuh tanda tanya.
