•10

775 16 0
                                        

"Cepatlah bersiap Patricia. Ingat! minta maaflah dengan benar", ucap Ayah Patricia yang kini sedang menyesap kopi buatan istri nya serta membaca sebuah koran harian.

Patricia yang baru saja sampai di anak tangga terakhir hanya bisa menghela nafasnya. Ia baru saja bangun dari tidur siangnya.

"Mau Ibu bantu bersiap, nak?", tanya Ibunya sambil menyediakan kue dimeja ruang keluarga, perempuan berkepala 3 itu duduk di samping suaminya. "Kau tidak memasukkan gula kedalamnya kan?", tanya Tuan Anderson. "Tidak, sayang", ucap Istrinya.

Patricia yang didepannya hanya menatap datar orang tuanya. Ia hampir lupa belum menjawab pertanyaan Ibunya. "Tidak perlu Ibu, Aku akan bersiap sendiri"

Patricia pun melangkah menjauh dari sana kembali ke kamarnya. Ibunya yang melihat itu sontak menatap suaminya.

"Bisakah Kau bersikap lembut pada putrimu, jangan terlalu dingin dengannya. Sesekali puji lah dia"

Kepala keluarga itu hanya menatapnya dengan kikuk, Ia tak tahu harus berbuat seperti apa, sementara Ia tak terlalu dekat dengan putrinya. Itu disebabkan karena Ia terus bekerja sampai tidak memiliki waktu untuk keluarganya, bahkan Ia terkejut putrinya sudah tumbuh dewasa.










Patricia's Room

Langit memperlihatkan keindahannya yang mana matahari terlihat hampir tenggelam menunjukkan warna warna jingga yang hampir mengabur.

Perempuan dengan kantung mata yang hampir menghitam itu memutuskan untuk membersihkan dirinya. Ia merasakan betapa dinginnya air yang mengguyur tubuhnya, dengan memejamkan matanya setiap bulir air menerpa wajahnya yang bersih.

Setelah keluar dari kamar mandi, perempuan itu melangkah kearah meja rias nya. Ia pun mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.

Jam sudah menunjukkan angka 7 lebih 30 menit, bulan mulai menampakkan dirinya, cahaya itu menembus kearah jendela kamar milik perempuan itu.

"Apa yang akan kupakai nanti? Haruskah Aku memakai pakaian casual agar dianggap tidak sopan oleh keluarganya nanti? Ayah akan memarahiku habis habisan"

Ia pun membuka salah satu lemari yang berwarna hitam, kotak berwarna silver di rak bagian bawah mengalihkan atensinya. Saat Ia membuka, terlihat hanya senyuman kecil diwajahnya.

"Mari lupakan kehidupan sebelumnya termasuk Erick, dan memulai sesuatu yang baru"
Apa harus dengan dia? Batin Patricia.










20.00
Anderson House

"Kau terlihat sangat cantik nak, benarkan, sayang?"

Yang ditanya hanya berdeham sambil menganggukkan kepalanya.

"Astaga, kenapa Kau sangat kaku sekali", ucap Ibunya sambil menyikut lengan suaminya.

"Ya. Itu cocok untukmu", ucap Tuan Anderson sangat dingin.

Istrinya hanya terkekeh melihat tingkahnya. Sementara, Patricia memasang wajah datarnya, perasaannya berkecamuk sedangkan hati dan pikirannya beradu pendapat.

Perempuan itu menatap Ayahnya, terlihat lelaki paruh baya itu menggunakan kemeja berwarna hitam dilengkapi dengan tuxedo berwarna navy. Kemudian, Ia menatap Ibunya. Terlihat perempuan berkepala 3 yang masih memiliki wajah cantik bak remaja itu menggunakan dress berwarna navy serupa dengan Ayahnya, rambutnya dikuncir satu kebelakang dengan aksesoris simple senada dengan anting kecil berwarna putih yang dipakai.

Lantas Patricia tersenyum kecil melihat keluarganya. Sewaktu kecil Ia hanya dekat dengan Ibunya sampai Ia berumur 10 tahun, setelah itu Ibunya menyusul Ayahnya ke Florida untuk menemani mengelola usaha Ayahnya di sana. Perempuan itu dititipkan dengan kepala pelayan yang bertugas dikediaman milik Anderson. Saat Ia beranjak umur 17 tahun mereka kembali untuk membangun perusahaan di Las Vegas.

Namun, Patricia merasa tidak nyaman saat orang tuanya datang dan bergabung ke kehidupan remajanya dengan tiba tiba. Ia pun meminta Apartement sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 17, maka dari itu Ia lebih senang tinggal sendiri daripada bersama orang tuanya.

Bukan karena Ia tidak sayang, hanya saja terkadang Ia merasa tidak nyaman dan bertanya tanya kemana mereka saat Ia masih kecil, kenapa datang saat Ia sudah besar?

"Nak? Apa yang Kau pikirkan? Ayo kita berangkat", ajak Ibunya sambil menggandeng lengan Ayahnya.









Seafood Restaurant
20.15

"Tuan Athelstan sudah datang lebih dulu? Maaf atas keterlambatan kami, jalanan sangat padat sehingga membuat kami terjebak beberapa menit disana", ucap Tuan Anderson kenapa keluarga Athelstan.

Patricia melihat sepasang suami-istri terlihat menawan sedang duduk di meja yang sudah di reservasi itu. Perempuan itu sangat mengenal keluarga yang ada didepannya. Ia pun menelisik seorang pria yang tersenyum kecil sambil mempersilahkan mereka duduk.

"Tak apa Tuan Anderson, anak kami juga sedang dalam perjalan", ucap lelaki berumur 42 itu, namun masih terlihat gagah dengan mengenakan tuxedo berwarna sepia brown dilengkapi kemeja berwarna hitam.
Seperti yang Ia lihat, pria didepannya masih memiliki darah bernegara Turki.
Hidung mancung, mata dan rambutnya yang berwarna coklat itu menunjukkan ciri khas orang orang turk. (*Istilah Turk merujuk pada suku atau masyarakat Turk yang lebih spesifik, yaitu Bangsa Turki yang mendiami negara Turki)

Tak lama, Patricia mengalihkan atensinya melihat seorang wanita yang duduk didepan Ibunya dengan anggun. Nampak wanita itu menggunakan long dress berwarna mocca, rambut pendeknya yang hanya sebatas pundak digerai begitu saja. Terlihat wanita itu memakai kalung yang seharga jutaan dollar.

"Sebenarnya kedatangan kami disini bermaksud untuk meminta maaf kepada keluarga Athelstan karena seperti yang sudah terdengar banyak berita berita buruk tentang anak saya", ucap Tuan Anderson menahan rasa malu.

"Kami benar benar meminta maaf atas ketidaknyamanannya, kami pastikan hal seperti ini tidak terulang lagi kedepannya", ucap Nyonya Anderson dengan tulus, bahkan wanita itu tersenyum getir sambil menunduk.

Tak lama dari arah belakang terdengar suara langkah kaki seseorang yang mendekat. "Maaf atas keterlambatan saya", ucap lelaki yang baru saja datang.

"Kenapa Kau terlambat, Jevan? Lihat, Kau membuat keluarga tunanganmu menunggu", ucap Nyonya Athelstan.

Lelaki itu pun dipersilahkan untuk duduk didepan Patricia. Oh tidak! Itu membuat suasana semakin canggung.

"Menurut saya, akan lebih baik mendengar pendapat anak saya, Tuan Anderson", ucap kepala keluarga dari Athelstan itu.






༶•┈┈⛧┈♛

Can we meet again?
-D

Romantic GoalsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang