About someone who is crazy about love
And
About someone who is obsessed with love
Mereka yang hidup glamour selalu dikelilingi oleh kekuasaan, kehausan akan harta serta jabatan akan berperilaku semaunya tanpa mau mengetahui isi hati seseorang.
"You...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ruangan putih penuh bau obat obatan tercium oleh laki laki yang berdiri menghalangi pintu masuk.
"Sampai kapan Kau akan berdiri disana?", tanya Erica menatap laki laki itu jengah karena berdiri menghalangi dirinya masuk. Lantas, laki laki itu pun didorong Erica masuk kedalam agar dirinya segera menemui sahabatnya.
"Hai Patricia, apa Kau merasa baikan sekarang? Maaf Aku terlambat, karena seseorang tidak mau masuk dan menghalangi pintu didepan", ucapnya sambil melirik kearah Erick.
Erick yang merasa ditatap hanya menunjukkan wajah datar seolah tidak ada yang terjadi.
"Bagaimana dengan lukamu?", tanya Erick menarik kursi dan duduk didepan Patricia. Sedangkan Erica duduk diranjang Patricia.
"Hanya luka kecil. Ini tidak seberapa dengan luka Alexa, bisakah Kau memeriksanya?", ucap Patricia.
"Kenapa Aku harus memeriksanya? Itu bukan urusanku", jawab Erick dengan ketus. Lagipula Ia tidak mengenal Alexa dan tidak terlalu dekat dengan perempuan itu, untuk apa Ia memeriksa perempuan gila yang sudah menusuk mantan nya. Tunggu apa? Mantan?
"Benar, Kau tau, gadis itu sangat gila sudah menusukmu. Dan kenapa Kau harus peduli juga dengan gadis itu setelah dia berbuat hal gila padamu?", tanya Erica spontan terbangun dari ranjang dan duduk disamping Patricia.
"Justru lukanya lebih parah dariku, Aku tidak sengaja memukul pipinya. Ugh! Aku merasa sangat buruk". Patricia pun menundukkan wajahnya kala Ia tersadar tak dapat mengontrol emosinya. Ia pun menyesal kenapa harus memukul perempuan gila itu.
"Singkirkan rambutmu", ucap Erick menunggu Patricia memindah rambutnya disisi kanan. Erick pun mendekatkan dirinya ke leher Patricia yang terlihat berdarah akibat luka tusuk. Dengan telaten Erick membersihkan luka itu kemudian meneteskan obat merah.
Hembusan nafas Erick terasa di leher Patricia saking dekatnya. Dan itu membuat Patricia tak nyaman dan canggung. Erick yang peka terhadap itu kemudian segera menyelesaikannya.
Sebaliknya Erica menahan suaranya agar tak berteriak menahan rasa gemas itu. Hei, jika saja Jevan berada disitu pasti Erick sudah habis ditangannya.
Patricia pun merapikan kemejanya, Erick menghentikan itu untuk menempelkan hansaplast agar luka Patricia tidak terasa perih.
"Terimakasih", ucap Patricia canggung. Dan dijawab dehaman oleh Erick.
"Kenapa Kau tidak segera kembali? Apa Selena tidak marah Kau disini?", tanya Patricia berhati hati.
"Entahlah, Aku putus dengannya"
"WHATT??!!!!!", teriak Erica membuat Patricia terkejut.
"Bisakah Kau tidak berteriak Erica? Kau hampir membuat jantungku berhenti", protes Patricia.