20.15
Party Company
Ruangan itu memiliki lantai luas yang dilapisi karpet coklat bermotif nan empuk. Lampu lampu kristal berwarna putih dan kuning tergantung tinggi memantulkan cahaya keemasan ke gaun-gaun dan jas-jas yang terlihat mewah. Dinginnya AC membuat suasana semakin sejuk.
Nuansa elegan dan megah di ruangan itu tak menutupi ramai nya orang yang menghadiri pesta perjamuan pelantikan CEO baru di salah satu perusahaan. Entah perusahaan apa itu, siapa yang peduli?
Musik jazz mengalun pelan, seolah menyapa hangat orang orang disana. Namun, tidak dengan seorang gadis yang tengah duduk sendirian dengan gelisah.
Gadis itu mengenakan gaun hitam, tidak ada motif tidak ada payet, hanya gaun hitam dari kain satin. Sehingga ketika Ia berada dibawah lampu, maka Ia terlihat bersinar. Apalagi dengan wajah cantik, mata yang memiliki sorot tajam, bibir kecil dan salah satu kaki jenjangnya yang terlihat karena belahan panjang dari gaunnya. Rambutnya hitam panjang bergelombang yang jatuh sampai punggung. Cahaya lampu kristal diatasnya membuat setiap helai rambutnya berkilau samar.
Hal itu mencuri perhatian orang orang yang berlalu lalang yang terfokus akan dirinya. Sendirian.
Tak henti hentinya gadis itu menggigiti kuku runcingnya dengan nails art putih bermotif menimbulkan kesan elegan.
Tindakannya sekarang membuat beberapa orang menatapnya kebingungan, mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah.
Dia mencari seseorang.
Beberapa menit berlalu, hingga orang yang Ia tunggu pun tiba tanpa Ia sadari.
"Maaf lama", ucapnya dengan nada lembut bersamaan dengan ekspresi yang sedikit dingin. Entah apa yang dialami pria itu sebelumnya.
"Ayahmu menahanku untuk membicarakan proyek peluncuran smart dashboard lagi", lanjutnya sambil menarik kursi di sampingnya, tak lama Ia pun duduk di kursi tersebut sambil memandang kekasihnya dengan intens.
"Aku tidak menunggu mu", jawab gadis itu.
"Tentu tidak, tapi Kau selalu melirik pintu disana setiap 30 detik. Apa menariknya pintu itu hm?", balas pria itu memincingkan matanya.
"Kubilang tidak ada, dasar Kau ini". Gadis itu memukul lengan pria itu pelan. "Apa Ayah selalu membutuhkan mu setiap membicarakan projeknya?", lanjut gadis itu penasaran.
"Penasaran? Atau Kau memang menunggu ku?"
"Tidak ada, hanya beberapa orang disini terlihat membosankan. Lagipun Aku tidak mengenal siapapun selain Kau, Jevan"
Pria itu terkekeh kecil memandangi kekasihnya, sangat terlihat jika seseorang di depannya ini sedang mengalihkan topik pembicaraan.
"Kalau begitu akan kutemani", ucap Jevan mengelus surai gadis di depannya dengan lembut, seolah jika tidak hati hati akan mudah pecah.
"Aku tidak butuh ditemani". Gadis itu membuang muka, kemanapun asal tidak melihat sang kekasih. Namun, yang terlihat justru mulut dan tindakan yang berkontradiksi. Jarinya meraih telapak tangan Jevan seolah tidak mau ditinggalkan.
Jevan yang merasakan telapak tangan nya ditahan oleh kekasihnya hanya terkekeh dan menggeleng pelan.
Sangat lucu.
Batin pria itu. Sementara si perempuan menutup setengah wajahnya dan memalingkan wajahnya agar tidak bertemu dengan kekasihnya. Menyembunyikan semu merah di pipi nya.
"Apa malam ini menyenangkan, Cia?".
Tanya Jevan menarik dagu kekasihnya agar Ia dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dirasakan kekasihnya.
Perempuan itu menggeleng pelan, pertanda bahwa malam ini tidak terasa menyenangkan sama sekali. Ia sebenarnya tak suka dengan keramaian, banyak mata yang memandangnya dan itu membuatnya sangat risih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Goals
RomanceAbout someone who is crazy about love And About someone who is obsessed with love Mereka yang hidup glamour selalu dikelilingi oleh kekuasaan, kehausan akan harta serta jabatan akan berperilaku semaunya tanpa mau mengetahui isi hati seseorang. "You...
