Killa tidak pernah ada dalam situasi ini.
Mendapati dua orang dewasa saling berpagut bibir saja sudah canggung, apalagi kalau salah satunya adalah kakaknya sendiri.
Jadi refleks pertama Killa adalah buru-buru menutup kembali pintu kamar dengan keras.
Tapi kemudian Killa takut gestur itu disalahartikan sebagai kemarahan, jadi kemudian Killa kembali membuka pintu kamar, kali ini pelan-pelan.
Untungnya, kini Harris dan Mia sudah duduk berjarak. Atau, lebih tepatnya Harris yang mengambil jarak. Karena Mia masih di tempatnya semula; duduk bersandar di kepala dipan.
Killa melangkah masuk kamar, dan memutuskan untuk pura-pura tak melihat kejadian tadi, jadi tidak perlu membahasnya.
"Nggak jadi beli kupat tahu?" tanya Mia.
Killa duduk bersila di lantai, menaruh plastik isi makan malamnya di depannya. "Jadinya beli kwetiau. Sama es teh."
"Nggak mau pakai piring?" tanya Mia, saat melihat Killa melepas karet dari bungkusan kertas coklat itu, membuat kwetiau di dalamnya terhampar begitu saja.
"Aku lapis pakai plastik bungkus biar minyaknya nggak ke lantai," elak Killa.
"Yaudah tapi minimal es tehnya dong tuang ke gelas..."
Killa sudah hendak membantah. "Kan ada—" tapi kemudian Killa terdiam.
Sebenarnya Killa mau bilang, kan ada sedotan.
Tapi entah kenapa dia jadi canggung sendiri mengingat ada aktivitas sedot-menyedot di kamar ini, yang dilakukan kakaknya dan lelaki yang kini diam saja mendengarkan percakapan mereka.
"Biar aku yang ambilkan," Harris bersuara.
Mia yang sedang duduk di ranjang, Killa yang sedang duduk di lantai, seketika mendongak melihat Harris. Saat lelaki itu berdiri, terasa seperti ada gapura kecamatan yang mendadak tumbuh di tengah kamar yang mungil itu. Tubuh Harris yang tinggi besar seketika membuat bayangan yang cukup untuk meneduhi Mia dan Killa.
Killa melirik ke arah kakaknya. Dalam keadaan normal, kakaknya pasti akan menolak niat Harris itu. Tidak mungkin Mia membiarkan orang lain sampai harus melakukan hal yang sepele semacam ini.
Tapi Mia hanya tersenyum tipis sembari mendongak ke arah Harris. "Terima kasih, Mas Harris..."
Killa tidak kuat lagi. Dia segera berdiri dan berlari tunggang-langgang ke dapur, lalu balik lagi sambil membawa gelas plastik besar. "Sudah aku ambil sendiri, sudah aku ambil sendiri, tak perlu repot-repot..." Killa meringis sambil mengacungkan gelas yang barusan dia bawa, lalu kembali duduk di lantai.
Harris hanya menatap Killa sejenak sebelum duduk lagi. Dengan cekatan, khas anak kos yang terlalu sering makan es teh dalam plastik, Killa membuka ikatan es tehnya dan menuangkannya ke dalam gelas, sebelum kembali makan.
"Killa," panggil Harris.
Bulu lengan Killa seketika meremang. Cara Harris menyebut namanya penuh dengan otoritas dan keyakinan. Rasanya beda sekali dengan saat Killa baru mempersilakannya masuk untuk menemui Mia.
Killa tidak tahu apa yang terjadi saat dia membeli kwetiau. Tapi Killa jelas berharap dia tidak pernah pergi.
Killa bisa menghadapi Harris yang pembawaannya seperti tamu. Dia tidak tahu bagaimana menghadapi Harris sekarang, yang kini pembawaannya seperti.... kakak iparnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Luka Segar
RomanceSelepas kematian ayahnya yang mendadak, Artemia Mudita memilih menerima pinangan Harris Teguh Prawira. Menjadi istri Harris membuat Mia bisa memastikan Killa, adiknya, tetap berkuliah karena harta keluarga sudah dia rencanakan untuk membayar hu...
